::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said: Musuh Kita Orang Zalim, Bukan Karena Beda Agama atau Suku

Senin, 17 April 2017 18:32 Nasional

Bagikan

Kiai Said: Musuh Kita Orang Zalim, Bukan Karena Beda Agama atau Suku
Jepara, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengutip ayat yang biasa kanjeng Nabi Muhammad SAW sampaikan kepada umat saat khutbah Jumat. Potongan ayat tersebut berbunyi wala udwana illa alad dhalimin. 

“Tidak boleh ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zalim,” terang Kiai Said pada Orasi Kebangsaan dalam rangka Harlah NU ke-94 yang diadakan PCNU Jepara di alun-alun 2 Jepara, Ahad (16/4). 

Kepada ribuan peserta “Sepeda dan Jalan Sehat” itu, ia menyebut yang termasuk kategori zalim ialah bandar narkoba, bandar judi, koruptor dan teroris. 

Dalam kegiatan yang memperebutkan hadiah utama mobil Grand Max itu, kiai kelahiran Cirebon 1953 itu mengingatkan kepada Nahdliyin untuk tidak menyebut orang Kristen, China itu musuh. Walaupun beda suku agama dan ras, tegas Kiai Said, bukanlah musuh, kecuali jika mereka zalim. 

Pernyataan kiai berusia 63 tahun itu bukan tanpa alasan. Dulu, penduduk Madinah terdiri dari 3 kelompok muslim pendatang, pribumi dan non-Muslim. Ketiga golongan itu sama-sama harus dilayani. Sehingga meskipun beda warna kulit, beda budaya, beda agama tidak boleh dihina. 

Islam Ramah 
Dengan menebar Islam yang ramah ke berbagai negara, Kiai Said pernah mengislamkan 12 orang Jepang. Alhasil kata suami Hj. Nur Hayati Abdul Qodir itu, Islam dan ihsan saling terkait. Dengan wajah yang harmonis dan damai, dirinya meyakini akan mendapat kehormatan dari bangsa yang lain. 

Amanah wathaniyah KH Hasyim Asyari yang digelorakan 1914 hubbul wathan minal iman, tandasnya, tidak pernah digelorakan oleh ulama-ulama Timur Tengah. 

Sehingga Kiai yang 13 tahun belajar di Mekkah menyebut Afganistan, Irak dan Suriah bergejolak urainya lantaran di sana tidak ada semangat cinta tanah air adalah sebagian dari iman. 

Islam dan nasionalisme kata Kiai Said, menjadi satu kesatuan. “Islam saja orang menjadi galak. Nasionalisme saja orang jadi abangan,” terangnya. 

Dalam kegiatan yang juga dimeriahkan grup balasyik dari Jember Jatim itu, Kiai Said memantapkan Nahdliyin untuk istiqamah mengikuti Nahdlatul Ulama. Dengan ber-NU, akan semangat beragama dan berbangsa. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)