::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (2)

Rabu, 19 April 2017 06:02 Opini

Bagikan

Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (2)
Foto: Ilustrasi
Oleh Muhammad Ali Wafa
Peringatan Kematian
Di Indonesia peringatan kematian biasa dikenal dengan peringatan hari ketiga, ketujuh, 40 hari, 100 hari, dan haul. Ada juga tradisi peringatan kematian 1000 hari. Wahabi mengklaim, tradisi peringatan kematian seperti ini bidah karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan para tabi’in.

Seandainya KH Ali Mustafa Yaqub yang ahli hadits itu seorang Wahabi, beliau akan memerangi tradisi itu. Namun faktanya beliau tidak pernah melakukan hal tersebut. Bahkan semasa hidup, beliau seringkali menghadiri undangan acara peringatan kematian dari tetangga-tetangga beliau. Tidak hanya sekadar menghadiri, beliau terkadang memimpin bacaan dan doa tahlil. Bahkan bukan sekali dua beliau meminta dan mengajurkan santrinya untuk menghadiri undangan peringatan kematian. Berdasarkan hal ini, Darus-Sunnah selalu mengutus salah satu guru, musyrif, atau santrinya jika ada salah seorang warga sekitar yang meninggal.

Selanjutnya, jika beliau adalah seorang Wahabi, tradisi peringatan kematian itu tidak akan dilaksanakan di Darus-Sunnah. Tapi faktanya, pascawafat beliau, tiga hari, tujuh hari, 40 hari, dan 100 hari wafat beliau diperingati di Darus-Sunnah. Tidak berhenti sampai di situ, setelah acara haul pertama sukses dilaksanakan, tradisi haul ini akan terus berlanjut setiap tahunnya di Darus-Sunnah.

Maka dari itu, peringatan wafat beliau ini secara otomatis menepis segala tuduhan yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Wahabi.

Wahabi dan Darus-Sunnah
Ada yang beranggapan, yang berpaham Wahabi bukan hanya KH Ali Mustafa Yaqub, tetapi juga pesantrennya juga beraliran Wahabi. Entah dari mana asalnya tuduhan ini sampai sejauh itu. Belakangan, ada selentingan berita jika nama Darus-Sunnah sangat khas dengan nama lembaga-lembaga milik Wahabi yang jargonnya adalah "Kembali ke Sunah". Nama Darus-Sunnah ini semakin memperkuat bahwa KH Ali Mustafa Yaqub dan pesantrennya adalah sarang dan markas Wahabi. Lagi-lagi tuduhan tersebut sangat tidak berdasar.

Menanggapi tuduhan seperti ini, beliau seringkali mengingatkan santrinya agar tidak mudah menuduh orang hanya karena nama atau tampilan luarnya. Sembarangan dan gampang menuduh orang dari lahirnya akan berakibat fatal dan menyesatkan.

Beliau sering mencontohkan, jika menilai sesuatu dari tampilan fisik dan namanya saja, maka hot dog akan menjadi haram karena "hot dog" artinya anjing panas, berarti makanan itu bahan dan komposisinya adalah daging anjing. Beliau menjelaskan, orang yang gampang terjebak dengan nama akan sama kasusnya dengan orang yang menganggap hot dog itu haram sehingga karena nama atau tampilan fisik itu orang menjadi salah. Padahal saat menuduh itu, kita tidak tahu apa isi dan kebenarannya.

Penutup
Berdasarkan penjelasan ini, tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada KH Ali Mustafa Yaqub selama ini tidak tepat dan salah sasaran. Sebaiknya, prasangka-prasangka negatif tentang beliau itu diganti dengan mendoakan almarhum. Menuduh orang sembarangan tidak lebih baik daripada mendoakan. Bahkan menuduh beliau serampangan bisa berakibat dosa. Berdoa di samping sebagai amal saleh dan sunah Nabi SAW, juga akan dibalas dengan pahala oleh Allah SWT. Sebaiknya, mari bersama-sama kita doakan saja almarhum daripada terus menuduh yang tidak benar.

Semoga Allah SWT menerima segala perjuangan dan kebaikan almarhum Kiai Ali. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya. Semoga kelak almarhum Kiai Ali ditempatkan di surga-Nya. Allâhummaghfirlahû warhamhu wa âfihî wa’fu anhu. Âmîn yâ mujîbas sâ’ilîn. (habis)


*) Penulis adalah santri dan pengajar di Pesantren Luhur Darus-Sunnah.