::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Aziz Masyhuri Denanyar: Sikap, Kitab, dan Etos Menulisnya

Kamis, 20 April 2017 16:26 Fragmen

Bagikan

KH Aziz Masyhuri Denanyar: Sikap, Kitab, dan Etos Menulisnya
Beberapa kali mengikuti pengajian Kiai Aziz Masyhuri semakin mempunyai perkiraan bagaimana sikap kiai-kiai pendiri NU. Hal ini masuk akal karena Kiai Aziz Masyhuri lama mendampingi Kiai Bisri Syansuri, salah satu dari trio pendiri NU yang meninggal paling belakangan di usia 93 tahun. Kiai Aziz  Masyhuri adalah cucu mantu dari Kiai Bisri Syansuri.

Suatu saat Kiai Aziz pernah bercerita tentang Kiai Bisri yang memberhentikan salah satu pengurus PBNU, padahal pengurus tersebut memiliki nama besar, karena telah melakukan hal yang cukup segnifikan dalam perjalan bangsa Indonesia. Alasan pemberhentian pengurus tersebut karena bersangkutan dengan moral. Ketika ditanya oleh kiai-kiai lain, jawab Kiai Bisri “Kalau sampeyan saya kasih tahu alasannya, apa bisa menyelesaikan?”

Sikap tegas demikian ternyata juga menular ke Kiai Aziz. Suatu ketika Kiai Aziz diundang ke acara akad nikah di Tambakberas. Setelah mewakilkan, wali mempelai wanita lalu disuruh keluar. Nah setelah proses akad selesai, Kiai Aziz memberi penjelasan pada seluruh yang hadir, termasuk ada beberapa kiai, bahwa wali setelah mewakilkan tidak harus keluar ruangan. Ini sesuai dengan hasil Muktamar NU. Dasarnya adalah kitab Sarqowi yang merupakan syarah kitab Tahrir jilid 2, kalau dalam Kifayatul Akhyar memang disuruh keluar. Selain itu juga pertimbangan kemanusiaan, alangkah bahagiannya jika orang tua bisa menyaksikan secara langsung akad nikah anak yang telah dibesarkannya. Keterangan ini kemudian bisa diterima oleh kiai-kiai yang datang.

Kiai Aziz juga pernah merasa resah dengan buku berjudul “Kiai NU Menggugat Sholat Para Kiai”. Terutama karena yang memberikan pengantar di buku tersebut tertera identitas yang tertulis adalah mantan staf MTs NU Mambaul Ma’arif Jombang. Buku tersebut berisi tentang gugatan terhadap buku pashalatan yang ditulis KH Asnawi Kudus. “Wong waktu kecil saya belajarnya itu juga, ” ungkapnya. Beliau berkeinginan untuk memanggil pemberi pengantar buku tersebut yang mengaku alumni Denanyar. “Denanyar itu siapa? Mbah Bisri kan? Berarti nama Mbah Bisri kebawa-bawa, ” protesnya.

Yang paling menonjol adalah perhatiannya pada bidang aqidah. Dua kitab yang saya kaji pada beliau adalah tentang aqidah, yaitu Kawakibul Lama’ah dan Butlaan Aqaid Syiah. Menurut Gus Muis, putra beliau, akhir-akhir hidup beliau yang sering dibicarakan adalah kitab karangan Kiai Faqih Maskumambang berjudul An-Nushushul Islamiyah fi Raddi ‘ala Madzhabil Wahhabiyah, kitab yang ditulis oleh Kiai Nusantara yang membahas tentang Wahabi. Lagi-lagi ini pembahasan tentang aqidah. Kitab ini kemudian diterjemahkan oleh Kiai Aziz, dengan terlebih dahulu konfirmasi ke keluarga Kiai Maskumambang.

Awalnya ragu-ragu ketika ke sana karena tidak ada yang kenal, tapi tidak disangka ketika berada di kompleks pondok keluarga Kiai Maskumambang, begitu turun dari mobil, langsung disambut seseorang yang mengaku murid Kiai Aziz waktu di Tebuireng. Orang tersebut adalah menantu dari pengasuh Pesantren Maskumambang, KH Nadjih Ahjad. Dalam keksempatan tersebut Kiai Aziz juga menyempatkan untuk berziarah ke makam Kiai Faqih Maskumambang, yang tak lain adalah mantan wakil Rais Akbar NU, KH. Hasyim Asy’ari. Hampir-hampir makam Kiai besar ini tidak bisa ditemukan manakala tidak ada orang yang membantu menunjukkan, karena makam tersebut sudah terkepung oleh ilalang. Terjemahan kitab yang selesai ditulis Kiai Faqih pada 1922 itu akhirnya terbit dengan judul “Menolak Wahabi”.

Perhatian Kiai Aziz pada aqidah apakah hanya akhir-akhir ini saja? Ternyata tidak. Hal ini berdasarkan kesaksian Pak Halim Iskandar, ketua DPRD Jawa Timur, waktu memberikan sambutan atas nama keluarga pada waktu pengajian malam ke 6. Menurutnya, Kiai Aziz ini adalah gurunya waktu di aliyah mulai kelas 1-3. Ketika itu beliau sudah mengajarkan tentang dasar-dasar tahlilan, sholawatan, tawasul, dan amalan NU lainnya.

Dalam memahami Wahabi, Kiai Aziz sampai melacak keberadaan orang-orang yang sezaman dengan Muhammad bin Adul Wahab, pendiri Wahabi. Didapatkan ternyata guru, bapak, serta kakaknya yang bernama Syekh Sulaiman menolak pendapat Muhammad bin Abdul Wahab tersebut. Hal ini bisa dilihat dalam kitab Asshawaiqu Mukhriqah, kitab ini mendapat counter melalui kitab berjudul Asshawaiqu Mursalah.

Muhammad bin Abdul Wahab menisbatkan diri sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, padahal Imam Hanbal menentang keras pendapat Ibnu Taymiyah yang sering dijadikan rujukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Imam Hanbal ini pernah dipenjara oleh Khalifah yang dijabat oleh Al-Ma’mun. Al-Ma’mun yang merupakan pengikut mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah mahkluk. Imam Hanbal tidak setuju. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut tentang 10 kesalahan Wahabi bisa diikuti pada kitab al-Fajru As-shodiq.

Padahal ayah Al-Ma’mun, Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan penganut Sunni. Walhasil khalifah periode setelah Al-Ma’mun seperti Mu’tasim dan Watsiq juga menjadi penganut mu’tazilah. Tetapi untungnya khalifah berikutnya, yaitu Mutawakil, bermazhab Sunni. Sehingga pada masa pemerintahan Mutawakil inilah kemudian Imam Ahmad bin Hanbal dibebaskan dari penjara.

Keterangan demikian disampaikanoleh Kiai Aziz  di sela-sela pengajian Kawakibul Lama’ah. Memang dalam urusan kepustakaan kitab-kitab kuning, Kiai Aziz ini jagonya. Tidak hanya sebagai pembaca yang baik, Kiai Aziz  juga merupakan penulis yang baik. Produktivitasnya menulis sudah dimulai sejak muda. Yang saya tahu, sekitar 3 tahun sebelum wafat, beliau melakukan aktivitas menysusun buku di selasar rumahnya. Ketika kami-kami tiba untuk mengaji, terkadang Kiai Aziz  sudah melakukan aktivitas menyusun kitab. Nanti ketika aktivitas mengaji sudah usai, sekitar 2-3 jam berikutnya, Kiai Aziz melanjutkan lagi aktivitasnya menyusun buku.

Etos Kiai Aziz yang konsisten demikian, juga berkembang dengan usaha mengumpulkan kitab-kitab yang disusun oleh ulama-ulama Nusantara, salah satunya yang beliau lakukan pada kitab karangan Kiai Faqih Maskumambang sebagaimana disampaikan di atas, juga tentunya kitab-kitab Kiai Fadhol yang merupakan pamannya sendiri. Tidak cukup berhenti di situ. Kiai Aziz juga sejak beberapa tahun lalu merekomendasikan pada Kemenag agar mau menerbitkan kitab-kitab ulama Nusantara. Beberapa kitab ulama Nusantara ini sudah diterbitkan oleh Kemenag.

Kodifikasi kitab-kitab Kiai Hasyim Asy’ari dalam sebuah judul bernama Irsyadu Syari, juga tidak lepas dari campur tangan beliau. Beberapa kitab Kiai Hasyim yang ada di Irsyadus Syari adalah hasil jasa penelusuran Kiai Aziz, yang kemudian diserahkan pada Gus Ishom, cucu Kiai Hasyim, yang selanjutnya menyusunnya menjadi satu.

Saya tidak menyangka sama sekali ketika pada Haul Kiai Bisri Syansuri, 28 Maret 2017 adalah terakhir kalinya saya bisa mencium tangan beliau. Tidak ada firasat apa-apa ketika itu, beliau hanya tersenyum ketika melihat saya, senyum yang sampai saat ini tidak saya lupakan. Beliau bukan hanya tempat mengaji kitab, tapi juga bagaimana bersikap. Tidak peduli seberapa keras perjuangan mempertahankan sikap tersebut.

Contoh nyata adalah mukmatar NU ke-33 di Jombang. Setahun sebelum muktamar, Kiai Aziz termasuk salah seorang yang diundang ke Jakarta untuk membicarakan muktamar. Mengetahui bahwa muktamar akan diselenggarakan di Jombang, beliau menyarankan untuk diadakan di tempat lain saja. Ketika itu yang sudah siap menjadi tuan rumah adalah Medan. Alasan yang beliau kemukakan adalah bahwa Jombang itu sudah NU, maka nilai syiarnya tidak ada. Akan berbeda dampaknya kalau diadakan di daerah yang ke-NU-annya belum kuat.

Alasan kedua, tarik-menarik kepentingan yang biasa terjadi pada proses suksesi organisasi, ditakutkan akan menimbulkan kegaduhan yang tidak pantas dipertontonkan di hadapan para pendiri NU sendiri. Mengingat Jombang adalah tanah pendiri NU. Benar saja, kegaduhan sebagaimana yang diresahkan Kiai Aziz terjadi. Kiai Aziz yang tidak pernah absen setiap kali momen muktamar, kali ini absen, padahal di kotanya sendiri. Semua orang mencari, termasuk Martin Van Bruinessen, peneliti keislaman di daerah Kurdi dan Asia Tenggara, asal Belanda. Martin sudah lama bersahabat dengan Kiai Aziz, karena dia juga tidak pernah absen setiap momen muktamar NU digelar. Buku-buku Kiai Aziz juga banyak yang dijadikan Martin sebagai bahan utama penelitiannya. Martin akhirnya menemui Kiai Aziz di rumahnya.


M. Fathoni Mahsun, kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang