::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun

Jumat, 21 April 2017 14:35 Nasional

Bagikan

Media Islam Online Didorong Budayakan Tabayun
Jakarta, NU Online
Kurangnya validasi karena tuntutan kecepatan memproduksi berita berakibat informasi yang berkembang liar dan cenderung kurang dipertanggungjawabkan. Hal ini kerap ditemukan di media online, media sosial, dan kanal-kanal lain dengan berbagai bentuk konten sehingga langkah tabayun (cek kebenaran, konfirmasi) harus dibudayakan oleh insan media.

Hal ini mengemuka ketika Kepala Sub Bagian (Kasubag) Humas dan Layanan Informasi Kementerian Agama Muhammad Khoiron Dhoruri memberikan materi dalam kegiatan Workshop Penyusunan Standar Literasi Media Islam Online, Jumat (21/4) di Hotel Lumire, Jakarta Pusat.

Dia mencontohkan ketika kontroversi Qori dengan menggunakan langgam Jawa di Istana Negara mengemukan yang kemudian mendatangkan protes yang ditujukan kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Padahal menurutnya, membaca Al-Qur’am selama ini memang dibaca dengan berbagai langgam.

“Dalam hal ini, Pak Menteri berusaha menerapkan pemahaman agamanya. Pak Menteri juga sudah melakukan klarifikasi. Di sinilah tabayun menjadi lebih penting,” ujar Khoiron.

Menurut pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini, kegiatan penyusunan standar literasi media Islam online ini penting, tidak hanya menyelaraskan pandangan berdasarkan pedoman literasi, tetapi juga menghadirkan konten-konten positif di dunia maya.

“Sindikasi media itu penting, tetapi menurut saya yang selama ini berjalan justru penyeragaman informasi. Mestinya sindikasi media dimanfaatkan untuk memperkaya konten dalam artian positif,” jelasnya.

Dia juga mengimbau agar media Islam online yang tentu membawa ideologi agar tidak dibenturkan dengan keberagaman masyarakat dan bangsa. “Sebab jangan-jangan ideologi kita sendiri yang membatasi atau menutup diri dari keberagaman,” terang Khoiron.

Di akhir pemaparannya, Khoiron berharap, hasil dari pertemuan para pengelola dan jurnalis media Islam online ini ada kesepahaman bersama dalam menyusun standar literasi yang nantinya menjadi pedoman untuk mewujudkan persebaran informasi yang berimbang dan positif.

“Untuk tujuan itu, tentu Kemenag akan mendukung penuh,” tandas Khoiron. (Fathoni)