::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Alasan Sutrisno Bachir Lebih Pilih Ubudiyah NU

Sabtu, 22 April 2017 00:04 Nasional

Bagikan

Ini Alasan Sutrisno Bachir Lebih Pilih Ubudiyah NU
Bandung, NU Online
Mantan Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir menceritakan bahwa dirinya pernah dimintai oleh almarhum KH Hasyim Muzadi untuk mengkader murid-muridnya yang sekolah di luar negeri untuk jadi pengusaha. Alasan Kiai Hasyim memilihnya karena ia dianggap bukan hanya pengusaha, tapi juga masih keturunan NU.

“Bapak saya itu tokoh NU dan pengusaha di Pekalongan, ibu saya Ketua Aisiyah,” kata Sutrisno saat menyampaikan testimoni tentang sosok KH Hasyim Muzadi pada acara peluncuran buku Takziyah Muhammadiyah untuk KH A Hasyim Muzadi di Aula KH A Dahlan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/4) malam.

Sutrisno Bachir melanjutkan dengan nada yang pelan, bahwa dirinya dalam hal ubudiyah lebih memilih NU.

“Memang saya secara ubudiyah, saya lebih mengikuti cara-cara NU, karena kalau cara-cara Muhammadiyah itu terlalu kering,” ujarnya diikuti tawa hadirin.

Ia mencontohkan, bagaimana dirinya shalat berjamaah dengan Amin Rais yang waktu itu menjadi imam. Menurutnya, Amin Rais seusai shalat tidak wirid.

“Kalau NU (wirid), apalagi shalat Maghrib, ada ritual ada yang dibaca banyak. Kalau Pak Amin langsung jalan. Rawatib pun tidak,” katanya.

Tampak hadir pada acara tersebut Wakil Presiden HM Yusuf Kalla, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Din Syamsudin, dan tokoh-tokoh lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)