::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pandangan Ulama Seputar Pencatatan Takdir pada Nisfu Sya’ban

Jumat, 12 Mei 2017 11:01 Syariah

Bagikan

Pandangan Ulama Seputar Pencatatan Takdir pada Nisfu Sya’ban
Salah satu amaliyah warga NU yang dirutinkan turun-temurun adalah peringatan malam Nisfu Sya‘ban. Berbagai kalangan ada yang memeringatinya dengan membaca Al-Quran, istighotsah, maupun doa-doa bersama disertai tasyakuran bersama tetangga.

Selain mengharap berkah dan pahala yang berlimpah dari kemulian Sya‘ban, hal lain yang membuat masyarakat memeringati Nisfu Sya’ban adalah adanya keyakinan berdasarkan pendapat ulama bahwa pada malam Nisfu Sya‘ban, segala takdir dan ketetapan, baik itu soal rezeki, usia, prestasi, maupun jodoh, ditulis dalam “buku catatan takdir” oleh Allah untuk tahun tersebut.

Memperbanyak doa dan ibadah pada malam Nisfu Sya‘ban sangat dianjurkan. Karena itu, dalam doa Nisfu Sya‘ban, seorang Muslim dianjurkan untuk memohon dihindarkan dari takdir-takdir yang buruk, dan dengan kekuasaan Allah, takdir yang buruk tersebut diganti yang lebih baik. Takdir-takdir yang telah tercatat itu dimohonkan mendapat rahmat dan berkah untuk tahun tersebut.

Mengapa sekian ulama menyebutkan bahwa di malam Nisfu Sya‘ban ini segala takdir dicatat dan ditetapkan? Ada beberapa dalil yang bisa dijadikan acuan. Hal ini sebagaimana disebutkan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya‘ban? Meskipun status beberapa hadits ada yang lemah (dhaif) namun dalil tambahan untuk menambah semangat ibadah itu bisa dibenarkan.

Dasar pemahaman hal tersebut merupakan pemahaman para ulama dari Al-Quran surat Ad-Dukhan ayat 3 dan 4.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

Artinya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami adalah para pemberi peringatan. Di dalamnya dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

Dalam beberapa tafsir, Ikrimah maupun beberapa mufassir seperti Al-Qurthubi menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “malam yang diberkahi” itu adalah malam Nisfu Sya‘ban. Selain itu, ada beberapa hadits lain yang juga menyebutkan pentingnya malam Nisfu Sya‘ban.

Pemahaman ayat di atas ternyata menimbulkan polemik, karena jumhur ulama berpendapat bahwa “malam yang berkah” itu adalah malam Lailatul Qadar. Tapi Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki tidak lantas menyatakan bahwa pendapat tentang perihal Nisfu Sya‘ban itu salah.

Ulama yang juga menulis Mafahim Yajibu an Tushahhah ini menyatakan bahwa penafsiran kalimat “malam yang berkah” dalam surat Ad-Dukhan di atas dengan Lailatul Qadar adalah lewat metode tarjih, yaitu mengunggulkan satu riwayat atau penafsiran atas lainnya. Namun, lanjut Sayyid Muhammad, jika digunakan metode jam’ur riwayat, yaitu mengumpulkan beberapa riwayat lain dan berusaha memberi jalan tengah pemahaman, maka pernyataan ulama bahwa takdir dan ketetapan Allah diputuskan serta dicatat di malam Nisfu Sya‘ban bisa dibenarkan.

Sayyid Muhammad Al-Maliki mengutip riwayat Abu Dluha dari Ibnu Abbas, “Sungguh Allah menetapkan putusan dan takdir pada malam Nisfu Sya‘ban dan menyerahkannya pada para pengampunya pada malam Lailatul Qadar”.

Komentar Sayyid Muhammad Al-Maliki atas tafsir dan riwayat tersebut berbunyi bahwa Allah dengan kuasa-Nya menetapkan takdir di Lauh Mahfuzh pada malam Nisfu Sya‘ban. Pada malam Lailatul Qadar Allah mengutus malaikat untuk memenuhi tugas-tugas terkait takdir seseorang yang telah ditetapkan. Semisal pada malakul maut, Allah menyerahkan takdir umur seseorang kepadanya. Begitupun terkait takdir rezeki, maka diserahkan kepada malaikat yang mengampu tugas menebar rezeki itu.

Selain itu dari riwayat hadits, Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh-nya meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Nabi Muhammad SAW banyak berpuasa pada bulan Sya‘ban. Kemudian Aisyah RA menanyakan kepada Nabi Muhammad mengapa Beliau begitu gemar berpuasa di bulan Sya‘ban. Nabi menjawab, “Sesungguhnya tiada seseorang meninggal pada tahun tersebut kecuali telah ditetapkan umurnya pada bulan Sya‘ban. Aku ingin ketika dicatat takdirku, aku berada dalam keadaan beribadah dan beramal saleh,”.

Dari berbagai pendapat di atas, maka melakukan amalan maupun berdoa di Nisfu Sya‘ban dengan mengharap takdir dan qadla’ yang baik dengan meyakini bahwa segala takdir seseorang dicatat pada Nisfu Sya‘ban bisa dibenarkan. Setiap manusia pada dasarnya selalu mengharap ketetapan terbaik dari Tuhannya. Di malam Nisfu Sya‘ban, mari kita pertebal keimanan bahwa takdir dan segala ketetapan hidup seseorang semata-mata adalah kuasa Allah, seraya senantiasa bermunajat kepada-Nya memohon catatan takdir yang dipenuhi kemuliaan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)