::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Mus: Manusia Tidak Adil Karena Benci dan Cinta

Jumat, 12 Mei 2017 10:34 Nasional

Bagikan

Gus Mus: Manusia Tidak Adil Karena Benci dan Cinta
Tangerang Selatan, NU Online
Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri mengatakan, agar manusia bisa mengamalkan apa yang disampaikan Nabi Muhammad, yaitu menyempurnakan akhlak, maka harus bersikap adil. Menurutnya, Al-Qur’an banyak sekali menyebut tentang sikap adil.

“Di Surat Al-Maidah ayat delapan ada itu. Di surat Annisa ayat seratus tiga puluh lima. Awalnya hampir sama (antara Al-Maidah delapan dan Annisa seratus tiga puluh lima), ‘Ya ayyuhalladzina kunu qowwamina bukan lillah, bis qisthi syuhada’a lillah’,” kata Gus Mus di Masjid Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Kamis (11/5) malam.

Surat Annisa tersebut, kata kiai akrab disapa Gus Mus, menjelaskan bahwa kalau seseorang tidak adil berarti tidak karena Allah. Kalau seseorang melakukan sesuatu karena Allah maka ia akan berlaku adil.

Manusia sulit berlaku adil karena mereka memiliki emosi yang condong ke arah benci maupun ke arah cinta terhadap suatu hal ataupun seseorang. Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengajarkan untuk bersikap moderat ataupun tengah-tengah. Karena adil tidak bisa dilakukan oleh orang yang terlalu cinta maupun orang yang terlalu benci.

“Anda kalau terlalu benci, Anda tidak bisa adil. Anda terlalu cinta, tidak bisa adil. Karena adil itu di tengah,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin itu.

Sebagaimana yang tertera dalam surat Al-Maidah ayat delapan tersebut, Gus Mus menyatakan, jika seseorang ingin melaksanakan kebenaran maka sikap adil harus menjadi landasannya. Menurutnya, seseorang harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenaran.

“Kalau kita terlalu semangat, lalu kita lupa bahwa kita harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenaran,” urainya.

Bahkan, jangan sampai kebencian seseorang terhadap suatu hal ataupun orang lain menyebabkannya untuk tidak berbuat adil.

“Jangan sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeretmu, mendorongmu untuk tidak adil,” terangnya.

Kata kaum di dalam Surat Al-Maidah itu, imbuh Gus Mus, merujuk kepada orang-orang kafir. Maka dari itu, ia berpendapat, berbuat tidak adil kepada orang kafir saja dilarang, apalagi kepada sesama umat Islam.

“Kalau kepada orang kafir saja kita tidak boleh tidak adil, apalagi kepada sesama kaum yang beriman,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)