Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Asing di Bumi, Terkenal di Langit

Ahad, 14 Mei 2017 19:21 Pustaka

Bagikan

Asing di Bumi, Terkenal di Langit
Malamatiyyah adalah kaum sufi yang asing di bumi, namun terkenal di langit. Majhul fil ardhi ma’ruf fis-sama’ bukan masyhur fil ardhi majhul fis-sama’. Kaum Malamatiyyah sering tidak dianggap oleh manusia namun sangat dihormati oleh penduduk alam semesta. Wujudnya sering dianggap biasa, atau bahkan sering tidak dihormati dan dicela, akan tetapi keberadaannya sungguh bermakna.

Menurut Syekh Abu Hafsh an-Naisaburi, Malamatiyyah dimaknai sebagai sebuah kaum yang selalu mencela dan melawan nafsunya, menghabiskan hidupnya untuk Allah, selalu menjaga waktu dan rahasianya serta tidak pernah menampakkan kepada manusia kecuali yang buruk-buruk sembari menyimpan kebaikannya secara rapat-rapat di dalam dada dan hanya semata hidupnya untuk menggapai ridha dan derajat mulia di sisi Allah. (hlm. v).  

Di dalam buku ini, kaum Malamatiyyah digambarkan pada sosok Sarno, orang gila yang berperawakan berambut panjang gimbal tak beraturan, wajahnya penuh kerut, tidak pernah mandi, dan banyak orang yang suka mencaci maki. Akan tetapi, meski sering dicaci maki dan dimarahi banyak orang, gaya khas senyum dan tawa selalu menghiasi kehidupannya sehari-hari. Bahkan tidak sedikit orang yang memberi uang kepadanya, sehingga menimbulkan banyak pengemis yang ada di sekitar makam menjadi iri, padahal sosok Sarno setiap harinya hidupnya hanya tertawa terus.

Meski begitu, banyak orang yang meyakini kalau Sarno itu membawa berkah bagi para pedagang yang berjualan di sekitar makam tersebut. Sehingga Sarno itu diaggap penting, oleh masyarakat sekitar. Dan ketika Sarno tiba-tiba menghilang entah kemana tanpa diketahui siapa pun,  maka mulailah sadar orang-orang yang setiap harinya mencaci maki merasa bersalah dan menyesal atas perbuatannya. Karena, sosok Sarno tidak lain adalah wali Allah dan setiap doanya selalu diijabahi.

Oleh karena itu, di antara hamba-hamba Allah yang sengaja menjelekkan diri di depan manusia untuk meninggalkan derajatnya di sisi Sang Pencipta. Suka menyembunyikan identitas, meng-ghuraba’, menjadi asing di bumi, namun sangat terkenal di langit. Namun, lebih suka menempuh jalan yang tidak lazim dan tidak khawatir kehilangan citra di mata manusia. Mereka lebih suka memendam diri serendah-rendahnya, untuk menumbuhkan pohon tinggi besar yang cabang dan buahnya menjulang ke langit. Dan mereka itulah sering disebut sebagai Malamatiyyah. (hlm. 20)   

Buku kumpulan cerpen “Malamatiyyah” ini merupakan sebuah jendela kecil pembuka cerita-cerita yang tersimpan-pendam di pesantren, tentang kesunyian, persembunyian, ketulusan, pengabdian, serta kebijaksanaanyang mengurat nadi di tubuh pesantren.

Dalam kumpulan cerpen ini, rupa-rupanya penulis tidak hanya menulis cerita, melainkan juga menjadi agen sublimasi perenungan, dan oleh karena itu apa yang dituturkan dalam setiap kisahnya tidak pernah berakhir dalam tahap wacana. Jauh lebih utama buku ini membentuknya dalam suasana kesufian dengan cara menyenangkan dan tidak menggurui.

Identitas buku
Judul           : Malamatiyyah
Penulis        : Sahal Japara
Penerbit      : Perpustakaan Mutamakkin Press
Cetakan      : I, April  2017
Tebal           : 225 hlm
ISBN           : 978-773-62862-3-3
Perresensi   : Siswanto