::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Imam Mudzakir, A’wan PBNU Berkantor di Pos Satpam

Jumat, 19 Mei 2017 12:04 Nasional

Bagikan

Imam Mudzakir, A’wan PBNU Berkantor di Pos Satpam
Jakarta, NU Online 
Jika Anda beberapa kali ke PBNU di pagi hari, di pos satpam, akan melihat seorang bertubuh gempal berkumpul bersama para security yang berjaga di muka gedung PBNU. Dari arah masuk, letaknya sebelah kanan. 

Orang bertubuh gempal itu tak muda lagi. Dia berusia 75 tahun. Ada yangmenyebut juga 77 tahun. Dia kadang terlihat begitu asyik ngobrol bersama para security. Kadang kakinya diselonjorkan ke kursi lain sementara pungungnya dipijit-pijit salah seorang security. Ia memejamkan mata sambil menantang sinar matahari. 

Dia A’wan PBNU H. Imam Mudzakir!

Hasil MUktamar ke-33 NU di Jombang pada Bab XVIII Wewenang Dan Tugas Pengurus pada pasal 63 menyebutkan, A’wan memberi masukan dan membantu pelaksanaan tugas Pengurus Besar Syuriyah. Tapi dia bergaul banyak justru dengan para security. Dan hanya dia yang melakukan itu.  

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM PBNU) Rumadi, sebelum memulai diskusi "Populisme; Membaca Kondisi Nasional dan Global" pada Rabu (17/5), dia mengajak hadirin untuk membacakan doa untuk almarhum. 

“Punya jasa besar pembangunan gedung ini, dan pembangunan gedung pbnu dua. Dia orang unik. Saya kalau ketemu dia di pos satpam.,” katanya. 

Security PBNU Seren Dwi Purnomo mulai berkenalan dengan Imam Mudzkir sejak ia menjaga gedung PBNU tahun 2000. Waktu itu gedung PBNU sedang dibangun. Dan Imam Mudzkir nongkrong di pos satpam. 

Menurut Seren, meski usianya tua, Imam Mudzkair mengaku tak bisa berdiam diri di rumah. “Rasanya berdosa kalau diam saja,” katanya menirukan Imam Mudzkir. 

Menurut Seren, Imam Mudzkir ingin siswa hidupnya hanya untuk NU. Makanya ia mau menggawangi pembangunan gedung PBNU di Kramat Raya dan Matraman. Juga masjid An-Nahdlah, lantai dasar gedung PBNU Kramat Raya. 

“Tak kenal waktu, dan lelah. Mau libur, tanggal merah, tak pernah istirahat. Berangkat pagi, pulang maghrib,” kenang Seren. 

Tak hanya itu, menurut Seren, Imam Mudzakir juga orang yang mudah merogoh kocek untuk mentraktik makan dan rokok satpam PBNU. 

“Belum ada gantinya. Makan nasi warteg, nasi padang, kesukaannya ati ampela,” tambah Seren yang kebagian tugas menjemput Imam Mudzakir ke rumahnya di pagi hari dan mengantarkan pulang kembali sore hari. Tugas itu kadang bergantian dengan temannya yang lain. 

Saya sendiri beberapa kali mengobrol dengan Imam Mudzakir. Obrolan dimulai dengan bertanya asal saya. Kemudian ia menyebutkan tokoh-tokoh NU daerah saya misalnya KH Muhammad Masthuro.

“Saya adalah orang yang masih hidup yang datang bertakziah ketika Kiai Masthuro meninggal. Saya datang dengan Kiai Idham Chalid dan Kiai Saifuddin Zuhri, bapaknya Menteri Agama yang sekarang,” bebernya.  

Saya juga pernah mewawancarai dia terkait H. Muhiddin Arubusman, Sekjen PBNU zaman Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi periode pertama, yang meninggal beberapa minggu lalu. 

Menurut dia, Muhiddin Arubusman adalah orang yang sangat jujur sehingga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyerahkan uang pembangunan gedung PBNU kepadanya. 

Terakhir pertemuan saya dengan Imam Mudzakir adalah ketika dia menghadiri pameran lukisan Sang Kekasih karya Nabila Dewi Gayatri di Grand Sahid Jaya, Jakarta pada 8-14 Mei lalu. Waktu itu, saya bagian memotret-motret kegiatan yang dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. 

Selepas pembukaan, Imam Mudzkir bertanya kepada saya, "Ada potret saya tidak bersama Ketum PBNU dan Kapolri Tito Karnavian?"

“Ada,” jawab saya sembari menunjukkan hasil jepretan saya.  

Dia begitu senang melihatnya. 

“Tolong diprint ya, dibesarkan, nanti kasih ke saya,” pintanya. (Abdullah Alawi)