::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pancasila, Perjanjian Para Pendiri Bangsa

Sabtu, 20 Mei 2017 01:44 Nasional

Bagikan

Pancasila, Perjanjian Para Pendiri Bangsa
Jakarta, NU Online
Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, Pancasila adalah sebuah perjanjian kesatria dari para pendiri bangsa Indonesia ini karena mereka rela menempatkan organisasi dan agamanya di belakang kepentingan bangsa.

“Pancasila adalah gentlement agreement dari para pendiri bangsa,” kata Mu’ti saat menjadi narasumber pada diskusi dengan tema Negara Pancasila dan Khilafah yang diselenggarakan Perpustakaan PBNU di lantai 2 Gedung PBNU, Jakarta (19/5). 

Ia juga menilai, adanya negara yang berdasar Pancasila adalah sumbangan terbesar umat Islam untuk Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara kesepakatan bersama antarsesama anak bangsa tidak semestinya diperbedaptkan kembali.  

“Indonesia sebagai negara perjanjian ini tidak boleh kita persoalkan lagi,” terangnya. 

Menurut dia, apa yang ada di dalam Pancasila adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam Islam. NU maupun Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam terbesar Indonesia, keduanya memiliki prinsip yang sama yaitu menerapkan Islam secara substansial dari pada formal.

“Indonesia adalah islami, bukan negara Islam. Pancasila itu islami, maka tidak perlu dipertentangkan,” jelasnya.

Maka dari itu, NU dan Muhammadiyah berbeda dengan mereka yang menyoal Pancasila dan yang mengusung gerakan formalisasi Islam. 

Diskusi ini adalah serial halaqah kebangsaan yang diselenggarakan atas kerja sama NU dan Muhammadiyah. Ini adalah seri pertama dan diadakan di Gedung PBNU. Rencananya, diskusi ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan tempat yang bergantian. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)