::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ramadhan, Bulan Keberkahan, Bulan Muhasabah

Sabtu, 27 Mei 2017 12:52 Risalah Redaksi

Bagikan

Ramadhan, Bulan Keberkahan, Bulan Muhasabah
Alhamdulillah, Ramadhan, bulan suci yang penuh keberkahan kini telah tiba. Hari-hari yang sebelumnya disibukkan dengan urusan duniawi, kini bisa rehat sejenak. Umat Islam, selama bulan puasa ini menjadi lebih religius dengan memperbanyak ibadah, baik ibadah kepada Allah atau yang berhubungan secara sosial, seperti menolong mereka yang membutuhkan atau meningkatkan silaturrahim.

Tuntutan dan tekanan hidup pada zaman modern ini semakin lama semakin berat. Kompetisi yang semakin ketat menyebabkan tiada masa untuk mengambil jeda. Jika kita lengah, maka pesaing akan mengalahkan. Begitulah hukum yang berlaku saat ini. Manusia sebagai pengelola perusahaan atau institusi, mendapat tekanan yang sangat berat, sekadar untuk bisa bertahan pada posisinya. Ramadhan menjadi kesepakatan bersama untuk menurunkan intensitas kompetisi tersebut guna mengisi ulang ranah batin yang mengalami kekeringan.

Hidup sesungguhnya adalah untuk mencapai tujuan keilahian, untuk mencapai kebahagiaan. Sayangnya, tekanan-tekanan material tersebut menyebabkan esensi yang ingin dicapai terkalahkan oleh sesuatu yang sebenarnya bersifat profan. Puasa, merupakan upaya untuk mengingatkan  kembali akan makna keberadaan kita di dunia yang hanya sebentar saja, tetapi kini disibukkan dengan hal-hal yang sesungguhnya tidak penting.

Berbagai kemudahan hidup akibat perkembangan teknologi ternyata tidak menyebabkan kita semakin mendekatkan diri kepada yang menciptakan semesta. Mari kita melakukan muhasabah, dalam sehari, berapa jam waktu yang kita gunakan untuk bermain-main dengan gawai. Media sosial membuat kita semakin terhubung dengan sesama. Tetapi sesungguhnya kita semakin asing, semakin egois. Dalam berbagai kesempatan, silaturrahmi tatap muka semakin kurang maknanya ketika masing-masing individu sibuk dengan perangkat elektroniknya. Entah untuk sekadar berbincang dengan teman di media sosial atau untuk sekadar mencari hiburan. Manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesamanya, sedang menuju era baru dengan pertemanan di dunia maya. Seolah nyata, akrab, tapi sesungguhnya minim komitmen.

Hal yang mengemuka dengan perkembangan media sosial adalah maraknya berita hoaks. Kita tanpa sadar dengan entengnya membagi berita yang belum terverifikasi kebenarannya kepada orang lain. Berita palsu beredar dari grup ke grup lainnya secepat kilat dan menimbulkan kegaduhan masyarakat.  Caci maki dengan entengnya diucapkan kepada siapa saja. Etika sosial sudah menurun jauh dalam dunia baru ini. Seolah-olah kita bisa menumpahkan seluruh kejengkelan tanpa perlu merasa khawatir melanggar norma-norma masyarakat karena belum adanya panduan berperiaku yang baik di dunia maya di mana, mereka yang melanggarnya akan menerima hukuman sosial.

Kita sedang mengalami revolusi dalam cara kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan adanya media sosial ini. Di antara sekian banyak manfaat yang kita peroleh, ada banyak tantangan yang harus diselesaikan. Dan banyak di antara kita yang terjebak dalam ruang yang liar itu.

Agama dan nilai-nilai moral dapat memberikan panduan kita dalam berperilaku di mana saja, dengan cara apa saja. Agama mengajarkan kepada kita untuk bersikap santun kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja. Di dunia nyata atau di dunia maya. Ramadhan ini, bisa menjadi wahana untuk mengevaluasi diri kita bagaimana perilaku kita, apakah ikut arus hiruk-pikuk ini atau mampu memanfaatkan dengan baik teknologi baru ini untuk kemaslahatan bersama.

Atau, jangan-jangan media sosial semakin menenggelamkan kita dalam jurang informasi yang sebagian besar remeh-temeh. Kita berusaha melupakan lapar dan dahaga dengan menyibukkan diri di depan gawai. Tradisi mengaji, atau berbagai ritual yang dulu marak semakin tergerus oleh teknologi yang menyilaukan ini. Berkat peningkatan keahlian dan teknologi, semuanya kini ditampilkan dengan lebih indah, seolah-oleh tampak lebih religius, tetapi sesungguhnya hanya wujud permukaan saja karena motif sebenarnya bukan untuk mengajak kita mendekatkan kepada yang Maha Esa, tapi sekadar untuk berjualan barang dan jasa atau sekadar untuk pamer.

Ramadhan bulan untuk bermuhasabah, jika dulu tantangannya adalah kesulitan-kesulitan fisik berupa beratnya menahan lapar karena berbagai keterbatasan pangan dan kesederhanaan teknologi. Kini, tantangannya adalah keberlimpahan dan kemudahan-kemudahan tetapi melenakan. Beratnya hidup bisa semakin mendekatkan kita kepada Allah, kemudahan hidup, tanpa kita sadari dapat menjauhkan kita kepada yang Maha Kuasa. Semoga kita dapat melampaui berbagai bentuk ujian itu dengan baik. (Mukafi Niam)