::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ratibul Haddad di Bali Tak Lepas dari Kiai As’ad Syamsul Arifin

Ahad, 28 Mei 2017 03:02 Daerah

Bagikan

Ratibul Haddad di Bali Tak Lepas dari Kiai As’ad Syamsul Arifin
Situbondo, NU Online 
Sebanyak 200 jamaah Majelis Ratibul Haddad Muslim Bali sowan kepada KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo pada Kamis, (25/5). Kehadiran mereka ini selain dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan, juga untuk menyambung silaturahim dan meminta nasihat-nasihat darinya.

Koordinator Forum Silaturrahim Majelis Dzikir Ratibul Haddad Masyarakat Muslim Bali, Syamsuddin Boy mengatakan bahwa jamaah yang hadir ini merupakan perwakilan dari majelis-majelis Ratibul Haddad se-Provinsi Bali.

"Keterikatan kami dengan keluarga besar Pondok Sukorejo ini sulit dipisahkan, apa sebab? Karena kebetulan yang membumikan atau yang mengenalkan bacaan Ratibul Haddad di Bali adalah para alumni Pondok Sukorejo, baik semasa Kiai As'ad, Kiai Fawaid, hingga sekarang yang diasuh Kiai Azaim," jelasnya.

Boy melanjutkan, forum silaturrahim ini dibentuk atas persetujuan pengasuh Pondok Sukorejo dua tahun silam. Salah satu tujuannya adalah untuk mengorganisir majelis-majelis yang sudah puluhan tahun terbentuk di masyarakat. 

"Setidaknya ada 20 lebih Majelis Ratibul Haddad se-Bali. Kami menginginkan adanya persamaan persepsi untuk terus mengamalkan dan memperkenalkan dzikir ini dengan segala karomah yang didapat," tegasnya.

Ia menambahkan, bahwa keyakinan terhadap fadilah bacaan Ratibul Haddad ini karena pesan wasiat langsung dari almagfullah Kiai As'ad Syamsul Arifin. Dia berpesan untuk istiqomah membaca Ratibul Haddad agar menjadi benteng untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan.

"Oleh karena itu, hidup dan bertahannya pembacaan Ratibul Haddad di Bali hingga sekarang, tidak bisa dilepaskan dari sosok Kiai As'ad," pungkasnya. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)