::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani

Rabu, 14 Juni 2017 03:33 Halaqoh

Bagikan

Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani
Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani

KH. Muhyiddin Khatib 

Pertanyaan: "Siapakah sebenarnya yang disebut manusia Qur'ani? Apakah orang yang istiqomah membaca Al-Qur'an walau tidak mengerti ma'nanya? Bagaimana jika ada orang suka baca Al-Qur’an  akan tetapi dia sering bersikap dan berprilaku yang melangar isi Al-Qur’an ? Sementara ada seseorang tidak begitu sering membaca Al-Qur’an  akan tetapi dia sentiasa mengamalkan isi Al-Qur’an.

Jawab : Terimkasih anda telah bertanya sesuatu yang amat penting semoga kita diberi kemampuan menjadi manusia Qur'ani lahir batin dan dalam kondisi apapun.

Manusia Qur'ani adalah seseorang yang membaca Al-Qur'an, mengerti ma'nanya dan diberi kemampuan mengamalkannya dalam kehidupan sehari harinya..

(عالما عاملا)

Allah SWT berfirman : 

وإذاقرئ القرأن فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون... 

"Apabila Al-Qur’an  dibacakan maka dengarkanlah dan diamlah kalian agar kalian dapat rahmat".

Allah menggunakana kata kerja mabni maf'ul (قرئ) menunjukkan bahwa perintah itu tidak hanya ditujukan pada orang yang mendengarakan bacaan Al-Qur’an  dari orang lain juga, seseorang yang membaca Al-Qur’an  dan yang mendengarkannya wajib istima' dan inshot (mendengarkan dan diam dalam arti khusyuk). 

Ada terkadang orang yang baca Al-Qur’an  akan tetapi tidak mendengarkan apalagi menyimak isinya, seperti orang yang memaksakan baca Al-Qur’an  akan tetapi hatinya tidak menyatu dengan apa yang dibacanya, membaca Al-Qur’an  sambil lalu melihat dan mendengarkan berita  gosip dan bahkan ikut berghaibah. Sedang Al-Qur’an  dipegang dan dilihatnya, orang yang demikian sama dengan orang yang mencabik-cabik Al-Qur’an  (dhalimun linafsihi), dia baca Al-Qur’an  tapi kerjaannya sering mengadu domba, cerita kejelekan orang lain,  hatinya tidak dikendalikan dari hasad dan dengki, dan beberapa hal lain yang negatif, orang yang sperti ini walau selalu baca Al-Qur’an  akan tetapi hakikatnya menginjak-nginjak Al-Qur’an, naudzu billahi mindzalik.        
                    
Seorang yang mampu mengamalkan isi Al-Qur’an,  walau tidak selalu baca Al-Qur’an  adalah jauh lebih baik dan sempurna daripada membacanya, tapi selalu melanggar isi Al-Qur’an. Bahkan seseorang yang tidak mengerti banyak isi Al-Qur’an  akan tetapi dia mampu mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an,  jauh lebih baik dari orang yang selalu membacanya akan tetapi selalu melanggar apa yang dilarang Al-Qur’an  dan mengabaikan apa yang diperintahkannya.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia Qur'ani adalah orang yang mengamalkan isi Al-Qur’an,  sekalipun ia tidak selalu membaca Al-Qur’an. 

Dalam sebuah hadits Aisyah Ummil Mukminin suatu ketika ditanya.

كيف خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قالت.. كان خلقه القرأن.

" Akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an,"

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori Muslim, dikatakan.

من حمل القرأن واحل حلاله وحرم حرامه دخل الجنة

"Barangsiapa yang membawa ( hafal dan membaca) Al-Qur’an, menghalalkan apa yang dijalankannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya maka akan masuk sorga".

Kemudian ada orang yang prilakunya Qur'ani padahal dia tidak faham Al Qur'an, dan bahkan mungkin bisa jadi bukan orang Islam. Perilaku yang begini sungguh merupakan sesuatu yang mulia dari Allah SWT. Di zaman Rasulullah SAW ada seorang perempuan dari Bani Thayyik masuk dalam rangkap orang orang yang ditawan, kemudian perempuan itu menyampaikan kepada Rasulullah SAW,  kalau dia adalah anak si fulan ini dan dia masih kafir. 

Orang tuanya sangat baik akhlaknya, dia murah hati, suka memberi, tidak dendam dan suka membantu orang yang tertindas. Atas kebaikan orang tuanya inilah pada akhirnya Rasulullah melepas anak tersebut karena menghormat atas kebaikan orang tuanya.

والله اعلم بالصواب


* Dosen Ma'had Aly, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo