::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Antara Aku, Anjing Kehausan dan Pelacur Itu

Ahad, 18 Juni 2017 09:07 Puisi

Bagikan

Antara Aku, Anjing Kehausan dan Pelacur Itu
Oleh HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Pada malam ganjil di sepuluh hari ketiga bulan puasa
Kubaca makna taubat di Kitab Taurat

Dalam takjub yang mencekik
Mulutku tak sanggup memekik
Kureguk keringat Musa di puncak Tursina
Hukum dan keadilan akan bertemu di padang karma
Jiwaku semakin dahaga

Aku tersungkur ke dalam kubur
Menyimak Daud membaca Zabur
Debur cinta apalagi yang lebih indah dari kilau permata 
Keindahan tak cuma sebatas mata
Tapi mendidih melelehkan jiwa

Kini kucari kasih yang tanpa pamrih
Pada darah Isa di sepanjang Golgotta
Kasih adalah juru selamat bagi semesta
Sebab sorga tak hanya sekuntum bunga

Di lembah pasrah
Kutemukan anjing kurap menahan gundah
Dahaga mencekik lehernya
Kematian berdiri gagah di depan mata

Lalu pelacur itu
Melepaskan sepatu kusamnya
Bau busuk menyengat di mana-mana
Lebih sampah dari sampah
Lebih tinja dari tinja

Sumur kotor itu pun ditimba dengan sepatu busuknya
Sedangkan di langit
Ribuan malaikat meronta
Dan di atas langit
Berpendar Maha Cahaya

Sumur itu tiba-tiba bening
Dan sepatu itu pun mengharum entah apa sebabnya
Kenapa jiwaku tetap jelaga?

Anjing kurap itu meneteskan air mata
Pelacur itu meneteskan air mata
Ketika hukum dan keadilan pada fatwa Nabi Musa menyentuh hatinya
Ketika keindahan penuh pesona memancar dari syair cinta Nabi Daud
Mengusap ulu hatinya 
Manakala kasih tanpa pamrih yang mengalir dari darah Nabi Isa
Mencuci kesepiannya

Tuhanku, 
Betapa ganjil rinduku menggigil
Betapa ganjil cintaMu memanggil
Hanya padaMu gigil kasihku memanggil

Di sepertiga malam ini
Kutemukan betapa kotornya diri ini
Lebih anjing dari anjing
Lebih sundal dari sundal
Akankah lebih terhina diriku ini
Ketika kesombongan menjadi saksi
Manakala kepongahan menjadi bukti
Saat mulut terus mencaci
Dan merasa paling benar sendiri?