::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nostalgia Ramadhan di Kampung Halaman

Jumat, 16 Juni 2017 17:00 Pustaka

Bagikan

Nostalgia Ramadhan di Kampung Halaman

Bulan Ramadhan adalah bulan filmis. Selalu ada pemantik yang mudah mengingatkan kita pada episode masa kecil. Mendengar taddarus, memakan kolak atau hanya mencium aroma jajanan di penghujung senja, selalu bisa melempar pikiran kita untuk berkeliaran di relung masa silam.

Tentang surau kecil di pinggir bengawan; sarung anak-anak di lantai yang tertata tidak beraturan; hingga perjuangan untuk diizinkan tidur di musala bersama kawan-kawan. Semua itu, sangat mudah terlintas kala bulan Ramadhan tiba. Berapapun usiamu, percayalah, rangsangan nostalgis itu mudah sekali melintas.

Romantisme masa kanak-kanak di kampung itulah yang berusaha dihadirkan Nanang Fahrudin dalam buku kumpulan ceritanya betajuk Nostalgia Ramadan di Kampung. Secara umum, buku ini mengajak pembaca kembali meresapi nuansa merconan seusai subuh, tadarusan sampai pagi, hingga nikmatnya membangunkan orang untuk sahur.

Buku setebal 126 halaman ini, berisi 34 dongeng pendek bernuansa esai tentang remeh temeh nostalgia puasa di kampung. Meski seting lokasi sengaja dibuat samar, secara tidak langsung, berbagai cerita terjadi di salah satu sudut Kabupaten Bojonegoro, tempat kelahiran penulis.  Tidak hanya cerita nostalgia saja, melainkan juga berbagai pesan moral dikemas dalam sejumlah dialog antar tokoh.

Ada yang unik dari buku diterbitkan pada April 2017 lalu itu, selain berusaha membangun kerinduan pada geliat Ramadhan di kampung pada masa lalu, dari 34 kisah itu, justru seperti ada yang ingin disampaikan oleh Nanang. Bahkan, sebuah pesan di luar konteks kenangan Ramadhan.

Pada 34 cerita yang ada misalnya, Nanang selalu memasang nama Kang Sabar sebagai tokoh tetap yang selalu hadir di setiap cerita. Meski dengan tema dan polemik yang berbeda-beda. Selain Kang Sabar, ada juga nama Kang Subur dan sejumlah nama lain. Karakter-karakter itu yang bertugas menggerakkan cerita sekaligus menyampaikan pesan-pesan hikmah secara tersembunyi dan tidak menggurui.

Konteks di luar “kenangan Ramadhan” inilah yang membuat saya merasa sangat ngeh membaca buku ini justru saat bulan Ramadhan. Ada banyak substansi makna ke-beragama-islama-an yang coba ditebar Nanang melalui kisah-kisah Kang Sabar. Terutama, mengenai keindahan beragama islam khas orang-orang kampung yang santun.

Karakter Kang Sabar, Kang Subur dan Kaji Tamrin benar-benar menampar secara alus agamawan islam kiwari yang akhir-akhir ini menuai sensasi kekakuan secara berlebihan. Dalam Nostalgia Ramadan di Kampung, narasi terbangun dari unsur diskusi dan musyawarah antar karakter dengan gaya khas islam moderat tradisional.

Tentunya, diskusi tentang berbagai hal seperti Fiqh, Hadis, Aqidah Akhlak, politik praktis hingga Tasawuf. Uniknya, diskusi perihal besar itu dibungkus dengan dialog 2 hingga 3 tokoh saja melalui perbincangan teras musala ataupun beranda warung kopi yang penuh kebersahajaan.

Meski dalam satu cerita tak pernah lebih dari 3 halaman, kepadatan pesan dan kecerdikan Nanang meracik narasi cerita kerap membuat saya terbuai dalam kolam perenungan hikmah. Tengok saja  cerita berjudul Lingkungan Islami vs Hati Islami. Secara tersembunyi, cerita ini menyenggol tentang gegap gempita Ramadhan yang terkesan hanya bungkusnya saja. Namun, substansi dan ruh nya mulai memudar.

“Begini kang, aku ini sedang berpikir keras. Kenapa Ramadhan datang dan semua jadi bernuansa Ramadhan? Apa ini berkah Ramadhan? Atau hanya strategi membohongi Tuhan, agar seolah-olah di bulan ini semua orang mengagungkannya? Karena saya lihat, dari kacamata saya sih, mereka tak semata-mata senang karena Ramadhan. Bisa jadi karena hal lain. Untung banyak misalnya” (hal: 3)

Cerita ini memunculkan kritik akan hedonisme Ramadhan. Sebab, bulan Ramadhan tidak lagi dimaknai sebagai bulan kesederhanaan. Justru, diyakini menjadi momen paling baik bermetamorfosis menjadi makhluk konsumtif yang memboroskan uang demi kulit dan tampilan belaka. Ini menggambarkan apa yang saat ini kerap ditemui di lingkungan masyarakat.

Selain kritik akan gejala sosial masyarakat, sesekali, dalam buku ini, Nanang juga menyenggol masalah ubudiyah. Yakni, substansi peribadatan. Mengingat, beribadah di bulan Ramadhan kerap bergeser makna menjadi semacam laku formalitas sosial. Bukan lagi masalah seberapa besar niat makhluk menemui Tuhannya. Melainkan, keinginan makhluk menunjukkan laku ibadah di depan makhluk-makhluk lainnya.

“Ayo makan kolak dulu Kang. Kita nanti i’tikaf bareng. Tahun depan, sampean i’tikafnya harus mulai awal Ramadhan. Jangan 10 hari terakhir atau sehari saja. Mbok jangan ngakali Tuhan begitu to Kang” (Sistem SKS Kejar Lailatul Qodar, hal: 61)

Kritik-kritik semacam ini, sangat banyak ditemui dalam buku ini. Bagi saya, sebagai seorang pembaca, mendapati pesan yang disampaikan secara tidak langsung, melainkan melalui sebuah dialog dilakukan orang lain, terkadang lebih merasuk memang. Nah, Nanang sangat jeli memanfaatkan momen-momen memberi pesan dari perihal seperti itu.

Selain kesan Ramadhan dan sejumlah pesan moral yang tersembunyi, saya membaca ada hal lain dari buku Nanang. Yakni, keinginan untuk menonjolkan daerah dan kedaerahan. Istilahnya, bergerak dari pinggir. Nanang kerap menampilkan sesuatu dari sudut kota kelahirannya, Bojonegoro.Keinginan-keinginan itu dia sampaikan melalui sejumlah setting tempat maupun nama lokasi.

Nostalgia Ramadan di Kampung bukan satu-satunya buku Nanang dengan konteks demikian. Bukunya yang lain misalnya, Membaca untuk Bojonegoro (2012), Buku yang Membaca Buku (2013), dan Lampu Merah Cap Indonesia (2015). Dalam kumpulan-kumpulan esai itu, juga terdapat sentilan kritik untuk pemerintah daerah setempat.

Hampir semua buku Nanang diterbitkan melalui penerbit Indie. Selain memang Bojonegoro jauh dari gemebyar lokasi penerbitan,Nanang ingin menunjukkan bahwa tiadanya penerbitan tidak harus dijadikan alasan untuk tidak menulis dan menerbitkan buku.

Data Buku

Judul       : Nostalgia Ramadan di Kampung
Penulis    : Nanang Fahrudin
Cetakan  : I, April 2017
ISBN       : 978-602-607226-2-7
Penerbit  : Nun Buku, Bojonegoro

Peresensi: Wahyu Wrizkiawan, penikmat buku