::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan

Ahad, 18 Juni 2017 19:27 Syariah

Bagikan

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan
Oleh : Rizki Amalia*
       Sebagai pembuka tulisan, penulis kutip peryataan Sufyan Ats – Tsauri, dia berkata : “Tidak boleh melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar selain orang yang memiliki tigas sifat: lemah lembut dalam menyuruh dan lemah lembut dalam melarang, adil dalam menyuruh dan adil dalam melarang, memiliki ilmu tentang apa yang disuruhnya dan memiliki ilmu tentang yang dilarangnya (Syeikh Dr Ahmad Farid, Manajemen Qalbu Ulama Salaf, 245, 2008). 

Ketiga syarat tersebut amat relevan dibumikan kembali mengingat meluasnya berbagai aksi – aksi kekerasan dan ujaran kebencian merajalela belakangan ini. Sekali lagi mengelus dada, tatkala tindakan – tindakan destruktif dan provokatif diseret – seret ke dalam bingkai dan pembenaran sumber – sumber utama agama Islam.

Dus, kebanyakan umat Islam tentu sudah maklum, bahwa dalam beragama amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan dua kutub penting dalam ajaran Islam. Kedua terminologi itu mendapatkan tempat istimewa dalam di kalangan kaum muslimin. Sebab, perintah tersebut tersurat jelas dalam QS Ali Imron Ayat 104, yang artinya;

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang – orang yang beruntung”. 

Dengan kata lain, keinginan dalam memperoleh keuntungan (ridho Allah dunia dan akhirat), sebagian umat harus ada yang berani dan tampil sebagai pelaksana amar ma’ruf dan nahi munkar.

Selain dalam konteks keuntungan/menang (iflaah/falah), kedua ajaran tersebut bersifat universal dan terdapat dalam agama – agama lain. Bahkan, kesalehan para pemeluk agama (apapun) meniscayakan kedua spirit amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebagaimana disinyalkan oleh Allah dalam firma-Nya QS Ali Imron: 113-114,

 “Mereka itu tidak sama; diantara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus; mereka membaca ayat – ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan Hari Penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera mengerjakan pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang – orang yang sholih”.

Sehingga, dari sini bisa dipahami sementara, bahwa pemilik identitas saleh ialah mereka yang memperoleh keuntungan. Sementara, keuntungan tidak mungkin diraih tanpa adanya perjuangan amar ma’ruf dan nahi munkar, bahkan jika abai akan memperoleh laknat dari Allah SWT. Demikian Allah tegaskan,

“Telah dilaknati orang – orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”.

Lebih dari itu, kelompok atau orang yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar memperoleh penghargaan dan pujian dari Allah SWT sebagai yang terbaik di antara kelompok lainya, 

”Kalian adalah umat yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”, (QS. Ali Imron: 110).

Beberapa keterangan tersebut, telah memberikan kegamblangan akan urgensi dan manfaat daripada amar ma’ruf dan nahi munkar. Meski demikian, sejalan dengan saran Sufyan Ats – Tsauri, tidak sembarang orang bisa lolos dalam fit and proper test pegiat amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau Orang atau kelompok ingin lolos, diharuskan memiliki tiga kualifikasi : lemah - lembut, adil (sabar) dan berilmu.

Sebagai umat Islam, insaf dan sadar bahwa kebenaran dari Allah Tuhan Yang Maha Esa. Kebesaran dan kemulyaan Allah ialah Independent, Dia Maha Bebas Tuhan Semesta alam, Dia Dzat Yang Maha Rafiq (Maha Lembut); tak peduli suku, agama, kebudayaan, ras, partai, ideologi atau apapun itu. Sebagaimana sabda Nabi,

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut. Dia mencintai kelembutan, dan Dia memberikan kelembutan kepada yang tidak Dia berikan kepada kekersan (HR. Bukhori). Hadits ini semakin menambah daftar, betapa kelembutan sikap dan perilaku merupakan cerminan kalau mengenal Tuhan. Selain itu, dengan kelembutan dapat menambah keindahan apa yang hendak kita suguhkan atau bawakan kepada yang lain, sabda Nabi,

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu, melainkan akan mengotorinya” (HR. Muslim).

Dengan kata lain, Kelembutan jadi penghias agar sesuatu jadi indah. Saat keindahan datang, di situlah kebaikan akan datang, begitu berlaku sebaliknya. Lanjut sabda Nabi, “barang siapa yang terhalang dari kelembutan, niscaya ia terhalang dari kebaikan” (HR. Muslim)

Selain lemah lembut juga harus adil (sabar) sebagai kelanjutan kualifikasi personal yang harus ditegakkan. Jangan sampai kita berkata tidak seirama dengan perilaku kita. Oleh karenanya teladan diperlukan terlebih dahulu dalam konteks ini, Sebagaimana yang tersampaikan dalam firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad,

“Hai orang – orang yang beselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu Agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7).

Dan lagi, “Dan bersabarlah terhadap hukum – hukum Tuhanmu, Sebab kamu dalam penglihatan kami” (QS. Ath – Thur: 48)

Selanjutnya, kedalaman wawasan tentang sesuatu yang benar dan yang salah. Dan tentu, sasaran yang hendak memperoleh amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab, bagaimanapun pengetahuan akan menentukan implementasi perilaku dan tentu lebih dulu dimengerti. Sebagaimana sahabat Muadz berkata, “Ilmu berada di depan amal, amal mengikuti” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008).

Dan tanpa wawasan yang cukup dan memadai, akan sangat dikhawatirkan lebih banyak memicu kerusakan dari pada kebaikannya. Pengalaman tersebut sebagaimana di sampaikan oleh Kholifah Umar bin Abdul Aziz,

“Barang siapa yang beribadah kepada Allah SWT tanpa dilandasi ilmu, niscaya apa yang rusak lebih banyak dari pada yang baik” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008).

Dengan demikian, sebuah kebaikan (kebenaran) diterima tentu memerlukan bekal yang tidak sedikit dan ringan – ringan saja. Tiga hal tentang sifat pelaksana amar ma’ruf dan nahi munkar: keilmuan, kelemah – lembutan serta kesabaran/keadilan merupakan hal mendasar yang perlu diasah oleh siapapun, memerlukan banyak latihan. Terkadang perlu ngopi di warung, nongkrong di pinggir jalan dan bila perlu mbambung dengan orang - orang marjinal. Sudah barang tentu, kekerasan dan main hakim sendiri sangat jauh dari spirit ke-ilahian itu sendiri. Semoga bermanfaat, wallahu a’lamu bis showab.

*Penulis adalah Pengurus Cabang PMII Jombang Bidang Kajian Keagamaan