::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hak Allah dan Hak Sesama Hamba

Senin, 26 Juni 2017 17:00 Opini

Bagikan

Hak Allah dan Hak Sesama Hamba
Ilustrasi (islamicity.org)
Oleh KH A Mustofa Bisri

Bahkan satu bulan –di antara 12 bulan umur kita—yang dianugerahkan Tuhan,  nyaris tidak kita gunakan sebagaimana mestinya. Rutinitas kesibukan yang tidak begitu jelas tetap saja berlangsung di bulan yang kita sebut-sebut sebagai bulan suci. Gegap gempita kita menyambut bulan Ramadhan. Bahkan untuk lebih menunjukkan penghormatan kita kepada bulan istimewa itu, kita perlukan memasang sepanduk di jalan-jalan.” Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Datang, Bulan Ramadhan. Hormatilah Bulan Ramadhan!” Gegap gempita penyambutan yang kemudian disusul dengan gegap-gempita-gegap-gempita lainnya itu tak kunjung menjelaskan secara jelas: di mana letak kesucian atau keistimewaan bulan Ramadhan yang kita hormati itu. Jangan-jangan sebutan kita kepada Ramadhan “yang terhormat” itu  hanyalah seperti tegur-sapa kita kepada para anggota DPR.
 
Mestinya, anugerah 1 bulan suci ini bisa kita gunakan untuk iktikaf, berakrab-akrab dengan diri sendiri; setelah 11 bulan lainnya kita hampir tidak sempat berdiam diri. Sibuk dengan berbagai kegiatan yang sering kali tidak jelas kaitannya terutama dengan urusan kehidupan abadi kita kelak. Tapi lagi-lagi kita lebih suka  meneruskan kesibukan duniawi kita dan dari bulan Ramadhan hanya kita ambil suasananya dengan mengubah gaya  saja. Dengan kata lain, nuansa ukhrawi dalam kegiatan-kegiatan dan kesibukan-kesibukan itu, hanyalah kemasan . Sekedar menyesuaikan dengan timing Ramadhan.
 
Pihak pengusaha dan industri yang naluri nawaitu-nya bermula dari kepentingan duniawi pun, seperti di hari-hari dan bulan-bulan lain, tetap lebih terasa mendominasi kegiatan-kegiatan ukhrawi kita. Lihatlah kekontrasan ini:  harga bahan-bahan makanan naik  menjelang bulan puasa. Ramainya pasar, mall-mall, dan supermarkets  pada ‘asyrul-awaakhir , pada hari-hari penting ibadah Ramadhan yang terakhir.
Lihatlah pula acara-acara di televisi-televisi. Semuanya, dengan sedikit sekali pengecualian, masih tetap seperti itu. Mengiklankan kehidupan mewah duniawi.
Kesibukan-kesibukan para politisi dan pengamat, sebagaimana diberitakan pers, pun masih kesibukan-kesibukan  yang itu-itu saja.  Pamer benar dan pamer pintar. Tetap tidak tergerak mempergunakan bulan perenungan ini bagi mereformasi diri sendiri.
 
Kaum muslimin sendiri, di bulan yang sering mereka  sebut sebagai bulan perenungan, bulan beri’tikaf dan tafakkur itu, ternyata lebih mengekspresikan keislaman mereka  dengan kegaduhan-kegaduhan. Perhatian mereka terhadap diri sendiri dalam rangka perbaikan dan peningkatan kedekatan  kepada Allah, masih kalah dengan perhatian mereka terhadap pihak lain yang mereka anggap keliru. Namun ketika mereka sedang ‘mensyiarkan’ agamanya, mereka justru seperti  tidak memperhatikan pihak lain.
 
Kini bulan anugerah Allah—dengan suasana yang amat kondusif untuk merenung dan memikirkan peningkatan kualitas kehidupan kita sendiri—itu sudah beranjak pergi. Kita sudah akan merayakan hari yang sering kita sebut Hari Kemenangan. Idul Fitri. Hari Kemenangan? Kemenangan dari apa? Apakah kita kemarin baru saja berperang, berlaga, atau berlomba? Melawan siapa atau apa? Apakah karena kita telah berhasil sebulan menahan diri tidak makan-minum di siang hari? Bukankah itu telah kita balas dengan melipat-gandakan makan-minum di malam hari? Atau setidaknya itu hanya mengubah jadwal makan kita? Atau kita telah berhasil memperlihatkan kedekatan kita kepadaNya?  Ataukah kita telah berhasil menang atas musuh kita yang terbesar: diri kita sendiri?
 
Apa pun dan bagaimana pun, kita –khususnya kaum muslimin—telah berhasil melaksanakan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan dan tentunya kita berharap Tuhan menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita.  Bukankah Rasulullah Muhammad SAW telah bersabda, “Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddamaa min dzanbihi.”  (Hadits sahih muttafaq ‘alaih dari shahabat Abu Hurairah) “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang sudah-sudah.”
 
Tuhan memang Maha Pengampun dan suka mengampuni. Lembaga pengampunannya banyak sekali. Enaklah kalau kita berhubungan dan bergaul denganNya. Di samping Pemurah, Pengasih, dan Penyayang, Ia juga  Syakuur.  Menerima amal ikhlas hamba-hambaNya seperti apa pun bentuknya dan mengampuni kekurang-kekurangan mereka.
 
Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Yaitu bahwa di hadapan kita ada dua hak. Hak Allah dan hak sesama hamba. Kemurahan  Allah  dan kemudahanNya mengampuni  itu bila berkaitan dengan hakNya. Apabila menyangkut hak sesama hamba, keadilanNya menentukan: Ia tidak akan mengampuni sebelum di antara sesama hamba itu menyelesaikan urusan mereka. Artinya, apabila kita mempunya kesalahan kepada sesama hamba, Allah tidak akan mengampuni sebelum hamba yang bersangkutan memaafkan kesalahan kita itu.
 
Ada hadis sahih (riwayat imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah) yang menggambarkan kebangkrutan sementara umat Muhammad SAW kelak di Hari Kiamat. Mereka yang bangkrut itu ialah mereka yang datang di Hari Kemudian membawa  sekian banyak amalan-amalan salat, puasa, dan zakat; namun semasa hidupnya di dunia suka melakukan perbuatan buruk  kesana-kemari kepada sesama:  mencaci ini, menuduh itu,  memakan hartanya ini, melukai ini, memukul itu. Nanti pahala-pahala amal mereka  diambil dan diberikan kepada  orang-orang  yang pernah mereka lalimi. Dan apabila pahala-pahala amal mereka habis, padahal masih banyak orang yang haknya belum terpenuhi, maka dosa orang-orang  yang bersangkutan akan diambil dan ditimpukan kepada mereka. Akhirnya mereka pun dilemparkan ke neraka. Na’udzubillah.
 
Nah, kita sering kali berpikir terbalik. Terhadap Allah Yang Maha Pemurah, Penyayang, Pengampun, dan Syakuur,  kita begitu bersitegang  menyikapi hak-hakNya. Soal  kiblat salat kurang miring sedikit, ribut. Soal wudhunya orang yang terlanjur bertatto, ribut. Soal beda awal Ramadhan atau awal Ied, ribut. Dan sebagainya dan seterusnya. Sementara terhadap sesama manusia yang umumnya mudah kesal dan marah, pembenci, dan sulit memaafkan, kita malah sembrono. Menganggap ringan. Begitu gampangnya melukai dan menyakiti sesama. Begitu entengnya  merampas hak dan memakan harta sesama. Dan sebagainya dan seterusnya. Bahkan ada yang karena bersitegang membela ‘hakNya’ , sampai harus menginjak-injak hak sesama. Seolah-olah tahu persis kehendak dan sikapNya.

Kalau pun kita tidak ekstra hati-hati terhadap sesama manusia yang perangainya relatif  sulit, setidaknya sama hati-hatinya  dengan sikap kita  terhadap Tuhan kita yang Pemurah.  Orang yang saleh ialah orang yang baik kepada Tuhannya dan sekaligus baik kepada sesama hambaNya.
 
Dari sini, kita tahu betapa arifnya para pendahulu kita yang mentradisikan tradisi khas kita. Tradisi halal-bi-halal.  Saling meng-halal-kan antara sesama. Bagi para pemimpin dan tokoh-tokoh publik  boleh jadi  agak sulit untuk memohon  maaf dan meminta halal, bila kesalahan dan perampasan hak dilakukan kepada banyak pihak. Namun , demi keselamatan di kemudian hari, kiranya sesulit apa pun perlu diupayakan. Pers dan media massa kiranya bisa membantu. Selebihnya dan selanjutnya diperlukan kehati-hatian. Wallahu a’lam.
 
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf segala kesalahan lahir dan batin. Kullu ‘aamin wa Antum bikhair!

 
Penulis kini adalah Mustasyar PBNU. Tulisan ini pernah dimuat di Kompas, 18  Agustus 2012