::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

JURNAL DAI RAMADHAN

Di Macau, Kultur NU Tak Ditinggalkan

Senin, 19 Juni 2017 22:00 Internasional

Bagikan

Di Macau, Kultur NU Tak Ditinggalkan

Macau, NU Online 
Walau pun hujan turun, saya tetap teruskan langkah. Payung bercorak loreng ala TNI Angkatan Darat saya pergunakan untuk melindungi tubuh ini dari tempaan hujan.

Ahad (18/6) adalah pagelaran Pondok Ramadhan Ahad terakhir, karena Ahad depan diperkirakan sudah memasuki Syawal. Pukul 14:15 saya dan Ustad Muhandis tiba di masjid. Suasana begitu syahdu oleh guyuran hujan di tengah Macau kala itu. 

Terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur’an. Jamaah waktu itu sudah hampir penuh. Bacaan Al-Qur’an dilanjutkan lantunan shalawat yang dibawakan Muslimat NU. Begitu acara dimulai, saya yang pertama diberi kesempatan untuk mengisi pengajian mulai pukul 14:30-15:30. 

Jamaah terlihat bersemangat dan khusuk. Ada beberapa yang merekam melalui video ponsel, ada yang mencatat, ada dang hanya jiping (ngaji kuping). Sebagaimana kultur NU, hambar rasanya jika tak ada gelak tawa yang mewarnai pengajian dengan tema "Ihsan kepada Makhluk Allah". 

Namun demikian, esensi dakwah tetap yang utama, jangan sampai tergantikan oleh syahwat sekadar ingin membuat orang tertawa. Di sinilah saya menerapkan kehati-hatian.

Saya sampaikan, sikap ihsan bisa terhadap Allah, juga berlaku pada makhluk-makluk-Nya. Ihsan kepada manusia misalnya bila melihat orang lain sebagai diri kita sendiri. 

“Kita berupaya untuk bersimpati dan berempati terhadap orang lain. Dari sini akan lahir darinya sikap yang penuh cinta, kasih sayang dan kebijaksanaan,” saya menjelaskan.

Dalam Al-Shahihain, Nabi SAW bersabda, "Imanmu belum sempurna sampai engkau mencintai saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri." Juga sebagaimana ia mencintai kebaikan dan membenci keburukan buat dirinya, demikian juga terhadap saudaranya. Senang melihat saudaranya senang, dan ikut merasakan kesusahan ketika saudaranya mengalami kesusahan, bukan sebaliknya.

Orang yang paling utama untuk kita perlakukan dengan ihsan ialah orang tua. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Israa ayat 23-24, “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik (ihsan) kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah,” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."

Selain kepada orangtua, kita juga diperintahkan berbuat baik (ihsan) kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki seperti tersebut dalam Surat Annisa ayat 36.

Ihsan juga berlaku pada hewan. Nabi bersabda, "Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya" (HR. Muslim).

Ihsan memang berlaku pada segala sesuatu, termasuk ihsan kepada lingkungan, alam raya, dan tanah air. Ketiganya perlu kita jaga, lestarikan, dan tidak merusaknya bahkan kita perlu mengembangkannya sebagai khalifah di muka bumi.

Ihsan menurut ulama lebih luas maknanya dari adil. Jika adil sekedar menggugurkan kewajiban, maka ihsan bekerja lebih dari yang dituntut. Jika adil menunaikan sekedar haknya seseorang, ihsan lebih dari itu sehingga rasa cinta, kasih sayang serta saling tolong menolong bisa tumbuh sebabnya.

Jika adil ialah apabila ia dipukul, ia membalas pukulan sesuai kadar pukulan tersebut, maka ihsan ialah memaafkannya. Berbuat baik pada yang berbuat baik pada kita itu adil, namun berbuat baik walau orang lain mendzalimi itulah ihsan.

Singkatnya Ihsan yang tertanam dalam dirinya akan mudah memaafkan orang yang menyakiti, menyambung (shilah) persaudaraan bagi yang memutusnya. Dan memberi seseorang yang tidak pernah memberinya. 

"Betapa indahnya ajaran Islam," tutup saya. 

Usai pengajian, kami berdua rupanya ditunggu oleh wartawan asal Portugal, Claudia Aranda yang kemudian banyak bertanya tentang kegiatan keislaman di sini, motivasi datang ke Macau. Claudia juga bertanya tentang Islam Sunni Syiah, tak ketinggalan isu hangat di Jakarta seputar toleransi beragama, dan isu politik yang saat ini sudah mulai mencair. 

"Obrigado," ucap saya pada Claudia dalam bahasa Portugal yang berarti terima kasih. (Saepuloh, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerjasama dengan LAZISNU)