::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

JURNAL DAI RAMADHAN

Asal Usul Nama Macau

Selasa, 20 Juni 2017 01:17 Internasional

Bagikan

Asal Usul Nama Macau
Macau, NU Online 
Ahad (18/6) pukul sembilan pagi, saya bersama Ustad Muhandis, Mbak Ana dan Mbak Indah menunggu di bus nomor 26a di bus stop. Bus ini mempunyai tujuan ke Coloane Macau. Rencananya kami akan melihat patung terbesar Dewi A Ma. Secara harfiah A Ma berarti ibu. Ia dikenal juga sebagai "Tin Hou" (Empress of Heaven) Ma-Chou dan Neong-Ma. Namanya mirip dengan Macau.

Setelah 45 menit perjalaan kami turun di bus stop berikutnya. Berpayungan kami menuju mobil putih minibus. 

"Bayar berapa Mbak?" tanya saya kepada Mbak Ana dan Mbak Indah. 

"Gratis, Ustadz," jawab mereka. Rupanya mobil ini memang khusus antar jemput wisatawan, naik turun meliuk mengantar ke kuil yang terletak di atas gunung Dep Sek Tong. Tempat ini juga biasa dijadikan tempat hiking dan berkemah.

Sampai di atas, terlihat sebuah patung besar setinggi 19,99 meter. Beratnya, menurut keterangan yang terdapat di sana mencapai ratusan ton dan dibuat oleh 120 pengukir yang dipimpin oleh Leung Man Nin. Patung inilah yang bernama Goddes A Ma atau Dewi A Ma. Terbuat dari batu giok putih yang didatangkan dari Fangshang di Beijing, serta membutuhkan waktu selama 8 bulan untuk membuatnya.

A Ma dipercaya oleh masyarakat sini sebagai pelindung para pelaut, nelayan, dan pedagang yang berlayar ke Macau. Ia merupakan seorang gadis cantik yang lemah lembut, yang menampilkan sikap yang terpuji dan kekuatan suci sejak masa kanak-kanak. Hidupnya didedikasikan untuk membimbing perjalanan para pelaut dan pedagang. Bahkan menyelamatkan mereka dari marabahaya seperti badai. Ia telah disembah selama berabad-abad. Atas budi baiknya ia selalu dikenang di Provinsi Fujian dan Guangdong.

Sebagai rasa syukur dan terima kasih atas perlindungannya, dibangunlah kuil di Barra Hill. Ia telah dianggap Dewi dan disembah bahkan sejak sebelum Portugis menetap. Orang Portugis-lah yang kemudian menamai pulau ini "Macau". Artinya pelabuhan A-Ma. Banyak orang pergi ke kuil untuk berterima kasih atas perlindungan A Ma dan berdoa agar diberi ketenangan hidup. 

Dalam ajaran Islam kita pun mengenal syukur. Namun, syukur diterima dengan hati yang tulus, diucapkan melalui lisan dan dibuktikan melalui perbuatan. Bersyukur pada manusia tidak sampai menyembahnya, karena segala sesuatu berasal dari Allah SWT. 

Bersyukur ialah menggunakan anugerah yang diterima sesuai dengan tujuan penciptaannya. Sehingga bersyukur berarti juga berlaku adil terhadap nikmat yang kita terima. Jangan sampai karena sesuatu hal kita jadi lalai dan salah mempergunakannya.

Dalam Al-Qur’an perintah bersyukur kepada Allah bahkan disandingkan dengan bersyukur pada orang tua seperti tersebut dan QS Luqman ayat 14. Ketika seseorang bersyukur, hal itu bermanfaat buat dirinya (QS Luqman: 12), sebab Allah tak membutuhkan apa pun sebagaimana nama-Nya "Al Ghony", biasa kita mengartikannya Yang Maha Kaya. 

Orang yang kaya bukanlah yang banyak hartanya, namun yang kaya sebagaimana arti kata ghoniy ialah yang semakin sedikit kebutuhannya. Berpuasa ialah upaya meneladani Allah karena dengan berpuasa kita seharusnya belajar menyedikitkan kebutuhan. Bukan justru sebaliknya apalagi menjelang lebaran tiba.

Embusan angin yang lumayan kencang serta hujan rintik mewarnai jalan-jalan kali itu. Sambil berteduh saya memasuki A Ma Cultural Village. Letaknya kira kira 50 meter ke bawah dari patung yang terletak di puncak gunung tertinggi di Coloane tersebut. 

Komplek kuil lumayan luas. 

"Mirip pesantren ya?" ujar saya. 

Di sana ada penginapan. Halaman yang luas dengan kolam-kolam ikan dan kura-kura di tengahnya. Terdapat kuil yang kita tidak boleh berisik dan mengambil gambar di dalamnya, banyak kaligrafi China, serta mata kita yang sejak masuk dimanjakan oleh ukiran-ukiran indah dan ornamen khas Tiongkok. 

Tak ketinggalan bau-bau pembakaran dupa yang sudah tak asing lagi hampir di semua pemujaan patung-patung yang beragam bentuk dan warnanya itu. Karena baru tidur sejam sejak semalam, akhirnya saya tertidur sepanjang perjalanan ke rumah diiringi gemericik hujan yang syahdu. Alhamdulillah. (Saepuloh, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau, kegiatan ini bekerjasama dengan LAZISNU)