::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mudik Kali Ini

Sabtu, 24 Juni 2017 14:10 Puisi

Bagikan

Mudik Kali Ini
Oleh HM. Nasruddin Anshoriy Ch 

Seperti debu tertiup badai 
Seperti daun jatuh dan tersapu angin
Mudik kali ini aku sebatangkara

Tak ada gemerlap mall dan kibar ketamakan di plaza
Tak ada rindu pada baju baru saat kusadari betapa berlumpur diriku
Puasa kali ini kurebahkan nafasku di lembah
Kuceburkan pada kolam bening air mata taubatku
Bersujud mencium tanah 

Menyusuri jalanan padat berliku
Ada yang tersumbat di dalam dada
Ada yang tercekat di tenggorokanku
Masa lalu yang tak pernah biru
Masa lalu yang retak dan kusam kelabu

Mudik kali ini rinduku mencekik
Ingin rasanya kupeluk sisa-sisa sunyi seorang diri
Kenangan indah masa kecil yang menyayat hati
Kini remuk sudah 

Jalanan makin padat merayap
Sejuk kampung halaman terus membayang
Masih adakah waktu untuk mengulang kisah lama itu?

Mudik kali ini tinggal tersisa keriput pada wajahku
Uban yang terus datang
Juga ketamakan yang tak pernah lekang
Mengepung dari segala penjuru

Tuhanku,
Rindu aku berbuat baik pada sisa-sisa usiaku
Melayani sesama tanpa pamrih dan tidak untuk mencari nama
Menjalani hidup sederhana bersama mereka yang renta nasibnya
Betapa berlapis topeng pada wajahku

Mudik kali ini aku ingin menikmati suara takbir
Tapi bukan dari pengeras suara
Takbir dari bibir mungil yang tak pernah mengucap dusta
Takbir yang gagah dan megah karena indah

Mudik kali ini aku hanya ingin meminta maaf 
Pada segenap masa lalu yang menjadi palang pintu
Segala rasa perih dan nikmat taubatku
Pada tetangga yang selalu menjaga
Pada sanak-saudara yang kini makin kulupa namanya

Mudik kali ini aku hanya ingin menangis
Pada pusara Ibu dan Bapakku
Memohon ampun atas segala jelaga di jiwa
Menaburkan harum bunga pada nisan dan makamnya

(Embun Puasa #27, 2017)


Di Penghujung Puasa

Pada penghujung puasa ini
Jantungku meronta
Hatiku menghiba
Usai sudah khusyuk pelukku

Bulan cinta ini segera berlalu 
Iktikaf dan tadarusku
Begitu kurus dan penuh benalu
Aku bertanya pada cermin buram di depanku
Sudah puasakah aku?

Pada altar lapar
Kugelar tikar tafakur 
Kugali akar pelipurku
Roda dunia yang lepas 
Telah menggilas nafasku
Masih adakah sisa-sisa subuh untuk rinduku bersauh?

Pada penghujung puasa 
Makin tak kuasa kutimang rindu
Rahmat di sepuluh hari pertama 
Tak sanggup kulumat
Ampunan di sepuluh hari kedua
Telah kulepaskan dengan sia-sia 
Lalu pada sepuluh hari ketiga ini
Hanya benda-benda yang membayang di pelupuk mata

Tuhanku
Abadikan puasa ini pada sisa-sisa usiaku
Abadikan tadarus ini pada lembar-lembar nafasku
Abadikan iktikaf ini bening kalbuku

Pada puncak puasa ini
Ingin kusematkan mahkota pahalaku pada Ibu 
Perempuan perkasa yang mengajarkan padaku makrifat puasa
Perempuan dengan kening cahaya yang mengajarkan padaku lapar sejati
Perempuan berdarah wangi yang mengajarkan padaku menulis puisi

Tuhanku,
Sematkan pada dada Ibuku cinderamata dari surga
Mawar abadi tanpa duri
Agar pada kafan putih itu memancar wangi melati

Di penghujung puasa ini 
Ingin kutenggak anggur pada cangkir tadarusku
Ingin kuseruput dzikir maut pada cawan cinta
Ingin kuketatkan peluk kasihku pada 99 Nama Sejati
Agar perjalanan mudikku ke negeri azali
Memancarkan kilau cahaya pada kuburku nanti

(Embun Puasa #27, 2017)