::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Di Tengah Keragaman di Indonesia, Sikap Inklusif Dibutuhkan Pemeluk Setiap Agama

Selasa, 04 Juli 2017 19:01 Daerah

Bagikan

Di Tengah Keragaman di Indonesia, Sikap Inklusif Dibutuhkan Pemeluk Setiap Agama
Bandarlampung, NU Online
Ketua LP Maarif Kota Bandarlampung Rudy Irawan menyatakan bahwa pada dasarnya Allah SWT telah menetapkan cara, metode, dan jalan untuk masing-masing kelompok manusia, sehingga sesama manusia tidak dibenarkan untuk saling menyalahkan dan memaksakan kehendak satu atas lainnya.

"Hendaknya manusia berangkat dari posisi masing-masing, lalu berlomba-lomba meraih kebaikan yang banyak," kata Rudy yang juga Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, Selasa (4/7).

Menurutnya, hal ini juga terkait dengan status manusia yang memiliki agama dan kepercayaan masing-masing. "Begitulah ajaran tentang hubungan dan pergaulan berdasarkan pandangan bahwa setiap agama dengan cara dan jalannya sendiri-sendiri mencoba berjalan menuju kebenaran," tambahnya.

Oleh karena itu setiap penganut agama hendaknya dapat memahami secara komprehensif agama yang diyakininya tanpa paksaan dan terusik oleh orang lain. "Para penganut agama diharapkan dengan sungguh-sungguh memahami dan menjalankan perintah agamanya itu tanpa perasaan terusik dan terancam apalagi bersalah," tegasnya.

Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan sikap terbuka dalam beragama. "Sikap keberagamaan yang inklusif (terbuka) pada setiap individu umat beragama menjadi kebutuhan yang mendesak yang perlu diupayakan terus menerus," jelasnya.

Sikap ini dapat mewujudkan suasana yang kondusif di tengah-tengah keberagaman agama, suku, dan budaya khususnya di Indonesia sehingga dapat menciptakan kebahagiaan di dalamnya.

"Salam ukhuwah," pungkasnya.  (Muhammad Faizin/Alhafiz K)