::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi

Sabtu, 22 Juli 2017 06:07 Halaqoh

Bagikan

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi
Pesantren sudah eksis ratusan tahun di Nusantara. Selama itu, pesantren memberikan kontribusi dan sumbangsih yang tidak sedikit bagi bangsa ini. Pada masa penjajahan, pesantren turut menentang penjajahan kolonial. Setelah merdeka, pesantren turut serta dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Kontribusi pesantren dalam mengisi dan ikut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa hingga hari ini masih begitu terasa. 

Bukan hanya berkecimpung di dunia pendidikan, pesantren juga aktif dalam sektor-sektor yang lain seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, sosial, budaya, dan lainnya. bahkan, Gus Dur menyebut pesantren sebagai sebuah sub-kultur.

Di sepanjang sejarahnya, pesantren menghadapi problematika yang beragam sesuai dengan eranya, baik tantangan dari luar ataupun tantangan dari dalam itu sendiri. Namun, semua permasalahan itu bisa diatasi sehingga pesantren bisa tumbuh subur dan berkembang hingga sampai detik ini. Dewasa ini, tantangan yang dihadapi pesantren juga tidak kalah hebatnya dengan tantangan yang telah dihadapi pada masa lalu.

Untuk mengurai segala hal ikhwal dunia pesantren –mulai dari peran pesantren dalam konteks keindonesiaan, peluang dan tantangan pesantren, dan masa depan pesantren, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berhasil mewawancarai Ketua Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) KH Abdul Ghofar Rozin. Berikut perikan wawancaranya:

Peran pesantren dalam konteks keindonesiaan itu seperti apa, Gus?

Kalau kita ngomong Nusantara, kalau kita ngomong Indonesia maka tidak bisa lepas dari yang namanya pesantren. Kalau bicara pesantren, kita tidak hanya memotret pesantren secara kelembagaan yang kita lihat sekarang ini. 

Pesantren itu sebuah peradaban besar. Misalnya pada zaman Raden Fatah menjadi sultan itu juga merupakan dari peradaban pesantren. Kalau meminjam bahasanya Mas Imam, pesantren itu great civilization. Tetapi kalau kita motretnya ke sana itu terlalu kejauhan, meskipun cita-cita pesantren adalah menjadi great civilization seperti dulu.

Kalau meloncat pada masa pra kemerdekaan, pesantren mendorong terjadinya kemerdekaan Indonesia. Meski pesantren ada lebih dulu sebelum Indonesia, tetapi pesantren juga yang menjaga kemerdekaan NKRI. Apapun taruhannya. 

Sepanjang sejarahnya, pasti pesantren memiliki tantangan-tantangan yang dihadapi. Apa saja tantangannya itu?

Tantangannya banyak. Ada tantangan ideologis, ada tantangan kelembagaan, dan ada tantangan budaya. Pada tantangan budaya, apakah pesantren mampu merumuskan kembali manifesto kebudayaan pesantren yang kompatibel terhadap isu-isu kekinian. 

Kiai menjadi figur dalam pesantren. Ada fenomena jika kiainya wafat maka pesantrennya akan mengalami penurunan. Bagaimana Gus Rozin melihat ini?

Memang kiai itu menjadi figur sentral di pesantren. Kalau kita lihat dua atau tiga puluh tahun yang lalu pendapat seperti itu relevan, tetapi sekarang sudah tidak relevan lagi. Karena selama dua puluh tahun terakhir, banyak pesantren yang berjalan by system. 

Artinya figur itu menjadi berpengaruh dan tidak satu-satunya faktor. Contoh pesantren yang ditinggal sesepuhnya yaitu Pesantren Denanyar, Pesantren Tambak Beras, Pesantren Cipasung, namun pesantren-pesantren tersebut tambah pesat. 

Saya kira tesis itu harus ditinjau ulang. Itu dulu seorang kiai menjadi figur sentral, menjadi pelaksana, melakukan fungsi kehumasan. Namun sekarang jarang sekali kiai yang melakukan itu semua.
 
Artinya?

Secara alamiah pesantren menemukan bentuk barunya dan itu sudah berjalan. Memang ada persoalan yang pengasuhnya tokoh nasional atau tokoh yang terkenal lintas provinsi. Memang kalau kiai tersebut wafat, ada sesuatu yang ‘bolong.’ Saat beliau wafat, putra-putra atau saudara-saudaranya tidak mengambil peran kenasionalannya itu.

Tetapi itu tidak serta merta pesantrennya menurun. Karena sekali lagi dua puluh tahun terakhir ini, kiai-kiai tokoh besar itu memang menjalankan fungsi keluarnya. Fungsi internalnya dipegang oleh the second line, level kedua, level ketiga, para gus, para mantu. Bahkan ada pesantren yang mengajak profesional untuk bergabung di dalamnya. 

Kalau soal itu, saya optimis pesantren tidak akan turun. Kalau pesantren sebagai sebuah organisme, pasti dia akan menemukan sendiri caranya untuk survive. 

Balik lagi ke tantangan pesantren. Salah satunya tadi tantangan akidah seperti Pesantren-pesantren Wahabi. Bagaimana itu?

Saya meilhat tidak ada pesantren wahabi. Kalau ada pesantren yang wahabi itu berarti bukan pesantren. Pesantren itu khas nusantara, pesantren itu khas Indonesia. Pesantren yang asli itu secara genealogis, baik hubungan darah maupun hubungan keilmuan, pasti nyambungnya ke Wali Songo. Yang secara genealogis tidak nyambung ke Wali Songo berarti bukan pesantren, itu lembaga pendidikan biasa.  

Kalau ‘pesantren’ yang mengajarkan kekerasan seperti cara menggunakan senjata tajam dan perakitan bom?
Itu bukan pesantren. Ngaku-ngaku pesantren tetapi bukan pesantren. 
 
Lalu, urgensi dari tantangan ideologis itu seperti apa?

Tantangan itu menjadi cukup serius sekarang karena ghozwul fikr itu sudah bergeser dari Timur Tengah kemudia di Indonesia. Intensititasnya meningkat. Problemnya adalah pesantren belum cukup sadar bahwa mereka harus menggukana media sosial dengan bijak dan untuk keperluan ini. Ini salah satu kelemahan pesantren yang harus diperbaiki.

Maksudnya?

Pesantren melihat teknologi bukan sebagai patner. Pesantren melihat teknologi tidak sebagai wasilah yang bisa digunakan. Pesantren melihat teknologi kebanyakan itu masih sebagai ancaman. Ini yang membuat akses terhadap teknologi itu dibatasi. Kalau ada santri yang mengakses gadget itu masih secara diam-diam. 
Di satu sisi santri masih belum begitu membutuhkan. Mereka harus fokus belajar dan tidak membutuhkan gadget itu karena kebutuhan yang dibutuhkan santri sudah dipenuhi oleh pesantren. 

Tetapi itu membawa madarat juga karena sesungguhnya gadget itu adalah sebuah alat dalam konteks ghozwul fikr dan dalam konteks remaja sekarang tidak bisa dilepaskan dari gadget. Teknologi itu seperti pisau, tergantung mau pakai apa pisaunya itu. Kalau kita buat masak, pisau itu akan bermanfaat. 

Bagaimana memecahkan masalah itu?

Pesantren melihat gadget itu adalah sebuah ancaman karena bisa untuk ‘memukul orang’. Toh, kita bisa ajarkan kepada mereka untuk menggunakan gadget secara bijak, secara bertahap, dan melalui mekanisme yang benar. Ini yang membuat kita tertinggal dalam ‘perang’ di media sosial karena di pesantren tidak disiapkan untuk itu. Bukan hanya memanaj penggunaan gadget, tetapi juga harus dimulai dari sudut pandang melihat bahwa teknologi itu adalah wasilah untuk mencapai tujuan. Karena kita melihat sejarah bahwa tidak ada satupun peradaban yang menang melawan teknologi. 

Saat ini, seberapa jauh pesantren mengakomodasi teknologi?

Beberapa sudah memiliki kesadaran dan mengaplikasikan teknologi sebagai alat sebagai sarana untuk berdakwah atau untuk pembelajaran. Tapi sebagian besar masih belum. 

Tantangan ideologis lainnya adalah radikalisasi atas nama agama. Bagaimana Gus Rozin melihat pesantren dalam melakukan upaya-upaya kontra-radikalisasi?
Selama ini pesantren bersikap defensif terhadap radikalisasi. Pesantren bereaksi ketika dirinya merasa terancam, bereaksi ketika santrinya ada yang ikut paham yang aneh-aneh itu. Pesantren belum ofensif. Pesantren belum secara aktif membuat sistem yang membuat pesantrennya imun dari pengaruh radikalisasi.  
Sebenarnya dakwah-dakwah radikal menggunakan medsos. Sedangkan kita masih melihat medsos sebagai ancaman. Cara berfikir anak-anak muda ini kan berbeda, mereka digital born, sementara saya dan orang-orang yang berumur di atas empat puluh tahun digital migrant. Nah, karena pemegang kebijakan di pesantren adalah orang yang digital migrant yang berumur di atas empat puluh tahun masih belum mengalami bahwa yang mereka asuh adalah digital born. 

Ke depan, pesantren ini akan seperti apa?

Ke depan pesantren akan berperan strategis dalam merekatkan bangsa ini. Pertama, karena aspek sejarahnya. Pesantren yang mendorong adanya NKRI. Bahkan, Panglima TNI mengakui bahwa kalau tidak ada pesantren, maka belum tentu ada resolusi jihad. Kalau tidak ada resolusi jihad, belum tentu ada Indonesia. 
Kedua, pesantren sedang dalam sebuah proses untuk menjadi mainstream pendidikan di Indonesia. kalau itu tercapai, bukan tidak mungkin pesantren itu menjadi perekat bangsa. Dan fungsinya akan sangat strategis dan negara tidak akan pernah bisa meninggalkan pesantren. Inikatornya adalah hampir semua partai politik memiliki organisasi-organisasi yang didisain untuk mendekati pesantren. Ini menjadi indikator bahwa pesantren itu menjadi sangat penting. 

Partai politik memiliki kendaraan ke pesantren. Apakah ini peluang atau malah akan menjadi tantangan yang mengahncurkan pesantren?
Tergantung cara kita menyikapi. Kalau kita masuk secara sadar, maka kita akan mendapatkan manfaatnya. Kalau kita masuk secara tidak langsung, maka kita akan diperalat.  

Terakhir, terkait dengan RUU Madrasah dan Pesantren. Bagaimana kita menyikapinya?

RUU Madrasah dan Pesantren belum masuk ke Badan Legislatif. Itu harus didorong. Walaupun memang ada beberapa bagian yang harus tetap dikritisi misalnya fokus dari RUU ini adalah lebih kepada soal pemerataan anggaran. Padahal kesuksesan sebuah lembaga pesantren dan madrasah, faktor anggaran itu bukan satu-satunya. Ada faktor-faktor lain yang harus disentuh yang belum mendapatkan perhatian. Tetapi tidak apa-apa, yang ada saja didorong dan nanti bisa diperbaiki sambil jalan. Semoga saja bisa segera masuk Baleg dan disahkan.