::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau

Senin, 31 Juli 2017 14:03 Nasional

Bagikan

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau
Jakarta, NU Online
Di antara ulama Nusantara yang menjadi imam besar di Mekkah adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Selain mengajar di sekitaran Ka‘bah, ia juga mengarang beberapa kitab dengan berbagai macam bidang ilmu keislaman.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau memang tidak secara langsung menulis nasionalisme di dalam karya-karyanya, tetapi ia memiliki semangat nasionalisme. Hal itu ia buktikan dengan pengiriman murid-muridnya ke Mesir untuk menimba ilmu di sana dan menyerap semangat nasionalisme yang sedang menguat di Mesir.

Demikian disampaikan Zainul Milal Bizawie usai acara Kajian Turats Ulama Nusantara dengan tema Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Kemilau Nusantara di Tanah Mekkah di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangsel, Sabtu (29/7).

"Motif yang dilakukan Syekh Ahmad Khatib mengirim santrinya ke Mesir, saya pikir untuk menimba semangat nasionalisme," ujar Gus Milal.

Senada dengan Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara itu, Pemateri diskusi A Ginanjar Sya'ban menerangkan, saat itu menjadi pusat pergerakan belajar Indonesia yang sedang belajar di sana untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia di dunia internasional.

"Ini bisa disimak dari dua majalah. Pertama, Majalah Seruan Al-Azar yang ditulis dalam Arab pegon berbahasa Melayu tahun 1925 sampai 1927 dan diterbitkan oleh Thohir Jalaluddin, Mahfud Yunus, dan Idris Marbawi. Kedua, Majalah Merdeka," urainya.

Alumni Al-Azhar Kairo Mesir itu menambahkan, terjadi korespondensi antara dua majalah tersebut dengan majalah pelajar Indonesia yang ada di Belanda, Bintang Timur. Mereka bertugas menyebarkan gagasan terkait dengan cara memerdekakan Bumi Putera.

"Semangat kemerdekaan ini terus diperjuangkan oleh para murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Dengan melobi para pejabat kerajaan Mesir," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ginanjar menceritakan bahwa setelah Perdana Menteri Mesir saat itu Nukrashi Pasya mengetahui bahwa ada negara yang penduduk Muslimnya besar. Lalu kemudian, Nukrashi bersama dengan Sekjen Liga Arab mengampanyekan kemerdekaan Indonesia di koran-koran Negara Arab, bahkan dibawa ke dalam sidang Liga Arab.

"Liga Arab mendukung penuh dan berhasil menekan PBB. Sampai PBB menekan Belanda agar menghentikan agresi militernya. Makanya kemerdekaan Indonesia pada 1949, merdeka secara total," terangnya.

Menurut Dosen Turats STAINU itu, ini juga tidak lepas dari perjuangan santri-santri Nusantara yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tempat di mana mereka belajar.

"Tentang nasionalisme Syekh Ahmad Khatib sangat jelas sekali traknya," tegas Direktur INC itu. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)