::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Dari Lima Santri Kini Punya Perguruan Tinggi

Selasa, 01 Agustus 2017 21:00 Pesantren

Bagikan

Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Dari Lima Santri Kini Punya Perguruan Tinggi
Bermodal sebidang tanah wakaf dari HM Ali Mahmud atau yang lebih dikenal dengan nama Haji Ali Sinar Desa, pada tahun 1999, Tengku H Faisal Ali berinisiatif mendirikan pondok pesantren.  

Tanah seluas 6000 meter di Desa Dilib Bukti Sibreh Kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar, Provinsi  Aceh ini menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren (Dayah) Mahya Ulum Al-Aziziyah. Dayah ini berjarak 40 kilimeter dari Ibukota Kabupaten, atau 17 kilometer dari Ibukota Provinsi.

Selain sebagai pendiri, Tengku H Faisal Ali juga pimpinan pertama pondok pesantren yang bernaung di bawah Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Tengku Faisal Ali merupakan salah seorang alumni Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga, Bireuen.

Di salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Aceh tersebut, Tengku Faisal  Ali menimba ilmu serta mengabdi selama lebih kurang 15 tahun, tepatnya dari tahun 1985 hingga akhir tahun 1999. Selesai pembebasan tanah, ia meminta restu Al Mukarram Waled H Hasanoel Basry HG untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Dayah/Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah sekaligus meninggalkan almamater yang telah membesarkannya.  

Pengajian pertama dilakukan pada malam 12 Rabiul Awal 1421 Hijriah. Ada lima orang yang hadir saat itu. Pada momentum tersebut sekaligus dilakukan peusijuek (tepung tawar) pada sebuah balai tempat belajar oleh Tengku H Mukhtar Lutfi atau yang lebih di kenal dengan  Abon Seulimeum.  

Dalam kurun tujuh bulan sesudah pendirian, pondok pesantren mulai berbenah dengan membangun fasilitas pendukung walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Seiring perjalanan waktu, pembenahan terus dilakukan, diantaranya dengan pembangunan fisik asrama, ruang belajar, dapur, mesjid dan lainnya. Pembenahan juga dilakukan dalam manajemen dan tata kola pesantren. 

Pembangunan dan kemajuan YLPI Mahyal Ulum Al-Aziziyah tidak lepas dari dukungan para tokoh masyarakat setempat. Hingga saat ini telah berhasil meluluskan santrinya untuk masuk ke perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri seperti Global University di Beirut Libanon. Selain itu juga beberapa santrinya ada yang memilih mengabdikan diri untuk negara dengan menjadi anggota TNI dan Polisi Republik Indonesia. 

Untuk menghadapi dan menjawab tantangan derasnya arus perkembangan globalisasi, pada tahun 2013 dibuka pendidikan formal yaitu Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) bidang Otomotif dan Pengelasan. Di tahun yang sama juga didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama Aceh (STISNU Aceh) yang perkuliahan perdananya dilaksanakan pada tahun 2015 berdasarkan surat keputusan Dirjen Pendidikan Islam RI. Kampus tersebut menggunakan metode pengajaran berbasis pesantren pertama di Aceh  Besar yang beralamat di Sibreh Suka Makmur, Aceh Besar.

STISNU Mahyal Ulum Al-Aziziyah merupakan satu-satunya sekolah tinggi di Aceh Besar yang mewajibkan mahasiswanya tinggal di pesantren. Hal itu bertujuan menyelaraskan antara pendidikan kampus dengan pendidikan dayah. Mahasiswa selain mendapatkan ilmu di kampus juga dibekali ilmu agama di dayah.

Kampus ini juga memiliki nilai tambah dibanding sekolah tinggi lainnya. Diantaranya dengan perpaduan metodologi sains dan pengajian salafiyah diharapkan mahasiswa mampu memahami kitab kuning disamping kompetensi akademik. 
STISNU Mahyal Ulum Al-Aziziyah diharapkan mampu melahirkan lulusan yang bermutu dan berkompeten, mencetak kader-kader hafiz, juga memperkenalkan bahwa perguruan tinggi memiliki landasan-landasan kokoh, yaitu landasan ahlussunnah wal jamaah.

Selain itu, di kampus yang telah membuka jurusan S1 Hukum Ekonomi Syariah dan Hukum Keluarga, ingin membentuk generasi Aceh yang memiliki kualitas intelektual dan basis kedaerahan.

Santri dan mahasiswa yang belajar di YLPI Mahyal Ulum Al-Aziziyah berasal dari berbagai daerah. Mereka terdiri dari beberapa katagori, yakni menetap dan sekolah formal, menetap dan tidak sekolah formal, menetap tetapi sekolah formal di luar pesantren, dan santri tidak menetap.

Selain digunakan intern pesantren, juga sering digunakan untuk kegiatan dengan peserta dari lembaga atau pihak luar. Seperti pada tahun 2015, sebanyak 30 anggota Polres Aceh Besar mengikuti pendidikan singkat keislaman. Selama 30 hari para anggota polisi dibekali berbagai ilmu agama, dan tinggal di lingkungan dayah.

Seminar-seminar keislaman dan ke-NU-an, juga acap digelar di pesantren yang saat ini menempati lahan seluas 5 hektar. (Kendi Setiawan/Zunus)