::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menuruti Pemberi Petunjuk

Sabtu, 05 Agustus 2017 11:02 Hikmah

Bagikan

Menuruti Pemberi Petunjuk
Banyak orang bingung menghadapi hidup. Masalahnya beda-beda. Banyaknya masalah ekonomi. Ada lelaki yang sudah berusia 50 tahun belum menikah, karena takut masalah nafkah. Ada yang cerita sudah dua kali memutuskan tunangan karena masalah ekonomi. Pertama, calon mertuanya mensyaratkan emas 20 gram dan punya mobil. Kasus kedua, prp nya minta 25 gram emas murni. Berat,menurutnya. Jadi tunangan pun batal.

Bukankah selama ini kita beribadah kepada Allah yang maha memberi petunjuk? Apakah kita tidak tahu petunjuk-Nya? Ataukah tidak mau mengikuti petunjuk-Nya?

Shalat istikharah sebenarnya salah satu cara untuk mengenali petunjuk-Nya. Selama belum dapat petunjuk sampai 3 bulan atau lebih pun sebaiknya terus dilakukan.

Al-Qur'an disebut hudan artinya petunjuk. Al-Qur'an  adalah guide atau panduan bagi kita untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu.

Rasulullah juga disebut al-Hadi (pemberi petunjuk). Dengan mempelajari sabda dan mengikuti sabdanya kita mengikuti petunjuk.

Beruntung Guru Sekumpul. Berkah banyak shalawat, Rasulullah datang dalam mimpi seseorang dan menyuruh orang tersebut untuk membantu menyiapkan pernikahan Guru Sekumpul.

Hati kita jika dibersihkan adalah kitab kehidupan yang lengkap. Di sana ada rahasia dan petunjuk. Imam Malik tidak berlebihan saat berpesan,"Bertanyalah pada kedalaman hatimu (yang bersih)."

Setiap saat ada petunjuk. Kita saja yang tidak peka. Atau sadar, tapi lebih percaya pada pikiran dan perasaan sendiri dan orang lain.

Bila dekat dengan Allah maha pemberi petunjuk, bahkan penyakit apa pun diberi petunjuk obatnya. Saat temannya sakit, seorang kakek berkata,"Sudah ajalnya. Dalam mimpi, saya tidak menemukan obatnya." Temannya pun wafat. Biasanya sakitnya selalu ada petunjuk obatnya dari kakek tersebut.

Ayah Habib Syekh saat akan meninggal, ia mengimami shalat Jumat dan memanggil Seseorang untuk persis di belakangnya. Ia berpesan bila ada apa-apa dengan dirinya, lanjutkan shalatnya. Ayah Habib Syekh meninggal saat bersujud dan orang tersebut mengambil alih tugas sebagai imam sampai salam.

Ajengan Dudun pernah bilang,"Bila dzikir khofi sudah mantap, maka dia akan tahu saat ajalnya." Bukankah ini juga petunjuk.

Sungguh petunjuk itu berseliweran. Sudahkah kita membuka mata hati kita untuk membacanya? Sudahkah kita pasrah untuk mengikuti petunjuk Allah? Sudahkah kita melepas keinginan dan hasrat pribadi kita dan orang lain dari dalam diri kita? 

Uridu anla uridu (aku ingin tidak punya keinginan), demikian kata Abu Yazid. Hidupnya cukup dengan mengikuti petunjuk, karena tidak pernah terputus dengan maha pemberi petunjuk.

Lakukan petunjuk Allah, baik yang tersurat di kitab maupun yang tersirat di alam semesta. Bila tidak, dengarkan kekesalan Allah,"'Imalu ma syi'tum (lakukan semaumu)".

Allah pun pergi meninggalkan kita. 

Saat kita kerja, yang ada keluhan. Saat mendapat uang, yang ada kekurangan. Saat banyak uang, yang ada tanpa berkah. Karena petunjuk Allah telah diabaikan, maka kitapun diabaikan.

Lakukan semaumu,  dan hadapi sendiri masalahmu. Bukankah kau lebih percaya dan mengikuti perasaan dan pikiranmu sendiri dan orang lain daripada petunjuk Allah? (Rojaya)