::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terungkap, Kenapa Gus Dur Mau Ceramah di Gereja

Sabtu, 05 Agustus 2017 15:30 Nasional

Bagikan

Terungkap, Kenapa Gus Dur Mau Ceramah di Gereja
Jakarta, NU Online 
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beberapa kali diundang berceramah di gereja. Ia menerimanya. Meskipun menjadi geger di kalangan umat Islam, dia melakukannya lagi di berbagai tempat. Umat Islam umumnya merasa heran sikap tersebut. Hingga kini banyak yang tidak tahu kenapa dia mau, termasuk kalangan Nahdliyin sendiri. Dan sepertinya Gus Dur tidak berminat menjelaskannya. 

KH Buchori Masroeri, seorang dai NU di Jawa Tengah, termasuk orang yang merasa heran. Hingga dia menanyakan hal itu kepada gurunya, KH Ali Ma’sum, yang juga gurunya Gus Dur. Setelah mendapat penjelasan dari KH Ali Ma’sum, KH Buchori malah pernah menerima undangan ceramah di gereja Randusari. 

“Geger orang sak dunyo. Piye Gus Dur iki,” ungkap komponis lagu “Perdamaian” yang dipopulerkan Nasida Ria, kemudian diaransemen ulang Gigi band. 

Karena heran tersebut, kiai yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut sowan kepada KH Ali Ma’sum; menanyakan sikap Gus Dur yang mau diundang ceremah di gereja. 

Kiai Ali Ma’sum menjawab, jika Gus Dur tidak mau diundang berceramah, kapan orang luar Islam mendengarkan Al-Qur’an? 

“Jika begitu, bener ya, Gus Dur,” kata Kiai Buchori yang disampaikan pada Haul Gus Dur di Masjid Agung Demak, Jawa Tengah 2014 lalu yang diakses NU Online melalui YouTube Sabtu (5/8). Karena itulah dia pernah mau menerima undangan untuk berceramah dan tanya jawab di sebuah gereja.   

Menurut adik kandung Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH Ghozali Masroeri itu, Gus Dur adalah orang istimewa. Namun, secara pribadi, ia merasa tidak cocok semuanya. Tapi itu masalah lumrah karena tidak ada seseorang yang cocok dengan orang lain seluruhnya. Namun, demikian, ia dan Gus Dur banyak kecocokannya. (Abdullah Alawi)