::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Memahami Hadits Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

Jumat, 11 Agustus 2017 06:03 Syariah

Bagikan

Memahami Hadits Mimpi Bertemu Rasulullah SAW
Foto: Ilustrasi
Di balik fenomena menjamurnya “ulama-ulama televisi” dadakan, ada juga masalah munculnya “sufi-sufi” dan “guru spiritual” yang juga mengkhawatirkan. Karena pengakuan dan juga pengaruhnya, masyarakat menaruh kepercayaan pada mereka. Ditambah dengan kesaktian dan klaim-klaim lain yang ditunjukkan, masyarakat semakin percaya dengan sosok yang mengaku “sufi” itu.

Biasanya, dalam rangka mencari jamaah maupun pengakuan, orang-orang yang mengaku sufi, wali, atau orang keramat tersebut akan mengaku pernah bertemu dengan syekh ini atau itu, atau bahkan mengaku bertemu nabi, baik dalam mimpi atau dalam kenyataan. Membicarakan mimpi melihat nabi, terlebih bertemu nabi dalam keadaan sadar pada masa ini, tentu menimbulkan tanda tanya. Secara rasional ini adalah hal yang musykil. Toh secara fisik, nabi sudah wafat sejak tahun 11 Hijriyah.

Sebagian orang yang memberi legitimasi tentang bertemu nabi, berdalil dengan hadits.

من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ... (رواه الشيخان و غيرهما)

Artinya, “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar...”

Dengan hadits semacam ini, klaim-klaim perjumpaan dengan nabi diobral. Padahal dalam memahami hadits, apalagi terkait suatu tema, diperlukan cara yang selektif dan kritis dalam menggali kesimpulan tentang suatu hadits.

Permasalahan cara memahami hadits ini dikupas dalam buku At-Thuruqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah karya Al-Maghfurlah KH Ali Mustafa Yaqub. Ia  memperkenalkan bahwa dalam memahami hadits, perlu digunakan metode yang disebut dengan metode maudhu’i atau tematik. Tujuannya adalah agar didapatkan pesan nabi tentang suatu hal secara lebih komprehensif. Pada dasarnya, hadits itu saling menafsirkan satu sama lain, karena sumbernya juga sama-sama dari nabi.

Ringkasnya, metode ini dimulai dengan mengumpulkan hadits dari seluruh riwayat dan sumber yang memungkinkan tentang suatu tema. Kemudian, hadits-hadits yang memiliki tema serupa atau saling menunjang maknanya itu diseleksi mana saja yang shahih. Dari sekian hadits shahih tersebut, kemudian dicari riwayat hadits yang bisa menjelaskan makna hadits-hadits shahih lain yang masih terlalu global atau menimbulkan kerancuan.

Berikut beberapa hadits yang memiliki tema serupa tentang “mimpi bertemu nabi”

 من رآني في المنام فقد رأى الحق ... (رواه الشيخان و غيرهما

 من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ... (رواه الشيخان و غيرهما

 من رآني في المنام في المنام لكأنما رآني ... (رواه مسلم و أبو داود

Hadits-hadits di atas dinilai shahih. Arti hadits-hadits yang disebut di atas.

1. Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihat yang sebenarnya.

2. Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga.

3. Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka seolah-olah ia melihatku.

Dikutip dari kitab ‘Aridlatul Ahwadzi Syarh Shahihit Tirmidzi karya Ibnul ‘Arabi Al-Maliki disebutkan dalam At-Thuruqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah tentang redaksi hadits shahih tentang tema “mimpi bertemu nabi”.

قال الإمام ابن العربي المالكي في كتاب عارضة الإحوذي شرح صحيح الترمذي م نصه: "أنّ أحاديث الرؤية تتكون من أربعة ألفاظ صحاح" و هي

 "... فسيراني في اليقظة"،

 "...فقد رأى الحق"،

 "...فقد رأني في اليقظة"،

 "...لكأنما رآني  في اليقظة"

Dari sekian redaksi yang disebut di atas, tanpa mengabaikan banyak sekali riwayat lainnya, maka redaksi hadits yang paling bisa dipahami kerancuan baik secara makna maupun rasio adalah hadits keempat. Artinya, “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka seolah-olah ia melihatku saat terjaga.”

KH Ali Mustafa Yaqub melanjutkan, hadits ini berkonteks pada masa sahabat saat mereka masih bisa melihat nabi sehari-hari. Jika seorang dari mereka bermimpi berjumpa nabi, tentu saja seolah mereka berjumpa sebagaimana keadaan sehari-hari bersama Rasulullah. Maka Nabi Muhammad SAW yang telah wafat, tentu saja tidak akan kembali hidup lagi. Secara rasional, maka pemahaman hadits tersebut tidak cocok untuk umat Muslimin sekarang, karena selain nabi telah wafat, juga kaum Muslim sekarang tidak pernah bersua dengan nabi.

Menurut Kiai Ali, jika nabi bisa dilihat bahkan hidup kembali saat ini, mengapa nabi tidak langsung turun menyelesaikan konflik-konflik umat Muslimin? Kemudian, apa urgensi mengaku-ngaku bertemu Nabi baik dalam mimpi atau bahkan terjaga? Karena itulah, hadits-hadits “mimpi bertemu Nabi”, jika dipahami sepotong-sepotong tanpa mempertimbangkan riwayat lainnya, akan berdampak pada kerancuan pemahaman. Apalagi hadits-hadits tersebut digunakan sebagai klaim-klaim demi kepentingan tertentu.

Pemahaman sedemikian ini disuguhkan untuk menjaga diri agar semakin berhati-hati dengan maraknya pendakuan diri sebagian orang sebagai orang keramat dan sejenisnya, yang mengaku bertemu nabi. Terkait peristiwa-peristiwa spiritual seperti mimpi, tentunya adalah wilayah pribadi masing-masing yang kiranya tidak pantas diumbar dan diserukan, apalagi menyangkut sosok Kanjeng Nabi.

Selain itu, penting sekali mempelajari hadits dengan lebih komprehensif, agar terhindar dari kerancuan dan kekeliruan persepsi akan nabi. Semoga kita senantiasa tergolong umat Nabi Muhammad dan mendapat syafaatnya kelak. Wallahu a‘lam. (M Iqbal Syauqi)