::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Keuletan Santri Prasyarat Menuju Kesuksesan

Ahad, 13 Agustus 2017 17:00 Nasional

Bagikan

Keuletan Santri Prasyarat Menuju Kesuksesan
Jakarta, NU Online
Kehidupan pesantren bukan hanya memberikan pendidikan agama, tetapi juga menanamkan etos dan etika kepada para santri. Pendidikan pesantren yang ketat banyak menghasilkan santri yang memiliki semangat pejuang, pengabdian, dan kesederhanaan. Kekuatan moral semacam itu melahirkan kegigihan dan keuletan yang menjadi prasyarat kesuksesan dalam menjalani kehidupan.

Hal itulah yang dirasakan Aris Sofyan, santri alumni dari Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak, Yogyakarta yang sekarang menjadi CEO startup (perusahaan rintisan) aplikasi.

“Pengalaman mondok dulu mengajarkan saya bahwa melakukan sesuatu harus dengan ikhlas dan sungguh-sungguh,” ungkap Aris di Jakarta, Sabtu (12/8).

Pengalaman tersebut dihayati Aris dalam berbisnis. Posisi yang diraihnya sekarang bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba. Jalanan berkelok-kelok harus dilalui sampai menemukan bisnis yang tepat.

Ia memahami bahwa bisnis ada jatuh dan naiknya, maka ia terus berjuang untuk menemukan bisnis yang sesuai passion namun mampu mendapat keuntungan sesuai yang diharapkan. Aris pernah mencoba bebisnis mulai dari sektor kuliner hingga saham, pernah pula menggeluti konveksi sesuai dengan usaha keluarga. Namun walaupun dari bisnis konveksi ini menghasilkan perbaikan ekonomi, ia memutuskan untuk mewujudkan bisnis yang ia cita-citakan.

“Saya memutuskan meninggalkan bisnis konveksi karena merasa hobi saya untuk utak-atik komputer itu bisa dikembangkaan untuk bisnis. Saya mulai memetakan bahwa arah bisnis saat ini, apa pun core bisnis yang akan dijalani, semua itu harus berbasis IT. Hingga saya memutuskan untuk pindah Jakarta untuk mencari investor untuk mendanai prototipe aplikasi ini,” terang Aris menjelaskan pengalamannya.

(Baca: Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar)

Tampaknya jalan bisnisnya mulai menemukan titik terang ketika investor mau membiayai pengembangan prototipe aplikasi yang telah ia buat. Konsep aplikasi yang diberi nama ‘Kongkon’ ini mampu menarik investor hingga mengeluarkan dana 4,2 miliar rupiah untuk pengembangan aplikasi.

“Ini baru langkah awal. Tantangan sesungguhnya dalam bisnis aplikasi ini adalah aplikasi bisa diterima dan survive karena dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Aris.

Aplikasi ‘Kongkon’ yang akan dirilis pada pertengahan Agustus ini menjadi tantangan bagi dirinya bahwa seorang santri juga bisa sukses layaknya pendiri Gojek ataupun pendiri Tokopedia yang bergerak di bidang yang sama. (Jefri Samodro/Mahbib)