::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cerita di Balik Keberhasilan Gus Dur Mengajak Para Kiai Keliling Eropa

Sabtu, 19 Agustus 2017 14:00 Fragmen

Bagikan

Cerita di Balik Keberhasilan Gus Dur Mengajak Para Kiai Keliling Eropa
Mengingat Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, masyarakat memahami betul setiap optimisme dan semangat dari Presiden ke-4 RI ini. Gus Dur tak jarang mempunyai keinginan besar yang kerap tidak dipikirkan oleh siapapun. Termasuk ketika dirinya yakin bakal menjadi Presiden RI namun ditanggapi pesimis oleh orang-orang terdekatnya. Nyatanya, cucu KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini mampu membuktikan diri.

Salah satu keinginan besar Gus Dur yakni ketika ia berkemauan besar mengajak para kiai keliling Eropa. Riwayat ini diceritakan oleh sahabat karib Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Dari sekian kehebatan Gus Dur, kata Gus Mus, hal lain yang hebat darinya yaitu ketika ia berkeinginan mengajak para kiai keliling Eropa. (Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Gus Dur sudah lama memendam keinginan ini. Namun belum bisa terwujud berhubung selalu saja tidak atau belum punya uang. Suatu saat kebetulan ada syembara menulis tentang kependudukan. Hadiahnya wisata ke luar negeri. Fahmi Dja’far Saifuddin yang mengabari Gus Dur soal ini dan dia mengusulkan agar Gus Dur mengkuti sayembara tersebut.

“Lah, bagaimana aku nulis soal yang aku tidak cukup mengerti,” seru Gus Dur kepada sahabatnya itu. “Kalau begitu aku ajari ya, tapi satu jam saja,” ujar Fahmi menanggapi respon Gus Dur. Lalu Gus Dur menyetujui tawaran salah seorang putra KH Saifuddin Zuhri tersebut.

Fahmi segera menjelaskan seluk-beluk kependudukan sambil membuat oret-oretan atau dalam bahasa popuernya blukonah (bulat-bulat, kotak-kotak, dan panah-panah). Fahmi memang ahli soal bikin cara ini secara dia adalah seorang fasilitator hebat. 

Sementara ‘sang guru’ sedang asyik dan serius menjelaskan soal kependudukan sambil oret-oretan di papan tulis, hal itu justru direspon Gus Dur dengan tidur, seakan tak acuh. Melihat pemandangan tersebut, Fahmi juga tak acuh dengan terus menerangkan tanpa henti seperti orang yang sedang bicara sendiri.

Diceritakan Gus Mus, ketika Fahmi telah usai menjelaskan, segera ia bilang kepada Gus Dur waktu sudah mencapai satu jam sesuai ketentuan awal. “Sudah satu jam nih Gus,” kata Fahmi sambil mengarahkan pandangannya kepada Gus Dur yang masih terlihat lelap. Mendengar suara Fahmi, Gus Dur terbangun dan melihat blukonah di papan tulis. Lalu menanyakan hal ini dan itu yang sesungguhnya terkesan seolah-olah ingin melengkapi penjelasan Fahmi.

“Kok yang ini tidak ada, yang itu belum ada lanjutannya, yang dikotak itu mengapa begitu, kok panahnya ke situ,” sergah Gus Dur terhadap apa yang dia lihat dari hasil penjelasan Fahmi di papan tulis. Sang guru kependudukan itu nampak heran dan kewalahan. Boleh jadi dia menyimpan kagum, kok Gus Dur tibane (justru) ngerti ya? Lalu, dia mencoba mendiskusikannya secara mendalam dengan Gus Dur yang tadinya mengaku tidak cukup paham soal kependudukan tapi secepat kilat menjadi seperti pakar.

Begitu diskusi dan penjelasan selesai, Gus Dur menulis dengan menggunakan mesin ketik lama dengan metode dua jari. Setelah selesai menulis, Gus Dur segera mengirimkan ke panitia perlombaan. Tak disangka, beberapa lama kemudian, artikel kependudukan yang ditulis Gus Dur dinyatakan menang oleh penitia setelah melalui rangkaian seleksi ketat karena diikuti oleh sejumlah pakar di bidang kependudukan. 

Kata Gus Mus, tentu saja saat itu Gus Dur sangat bergembira. Bukan sekadar persoalan menjuarai lomba menulis tersebut, tetapi keinginan dia mengajak beberapa kiai keliling Eropa dari hadiah lomba itu bakal segera terlaksana. (Fathoni Ahmad)