::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Melawan Propaganda Belanda di Tanah Suci

Kamis, 31 Agustus 2017 05:01 Fragmen

Bagikan

Melawan Propaganda Belanda di Tanah Suci
Pesan dari Presiden Soekarno untuk memberikan penerangan kepada warga negara Indonesia yang ada di Arab Saudi dan sekitarnya dilaksanakan oleh Rombongan Misi Haji I yang diketuai K.H.R. Mohammad Adnan. 

Selain itu, dalam misi tersebut mereka juga berusaha untuk mencari dukungan diplomatik dari beberapa negara yang mereka kunjungi.

(http://www.nu.or.id/post/read/80685/pesan-bung-karno-kepada-rombongan-misi-haji-pertama)

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, pada tanggal 6 Oktober, sampailah rombongan di Pelabuhan Udara Farouk Kairo. Setibanya di Mesir, mereka dijemput sejumlah pegawai Perwakilan Indonesia di sana. Di Kairo, rombongan hanya singgah semalam untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Jeddah untuk menemui Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, di sana mereka diterima sebagai tamu negara.

Setelah urusan dengan Kemenlu Arab Saudi beres, mereka tak membuang-buang wantu dan langsung menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus mengunjungi masyarakat Indonesia yang ada di sana.

Misi ini penting, mengingat pihak Belanda sebelumnya juga sudah mengirim orang-orang mereka dalam rombongan misi haji yang diketuai Ahmad Bahmid dan misi diplomatik yang dipimpin Hamid Al-Qodri.

Di Makkah, Belanda melakukan propaganda di kalangan masyarakat Indonesia di sana, dengan mengatakan Republik Indonesia sebagai “kaum ekstrimis” dan pemerintahannya tidak sah.

Rombongan misi haji RI kemudian mendatangi perkumpulan para pemuda Indonesia di Umuddud dan Jarwal. Mereka disambut dengan penuh semangat, disertai pekik “merdeka!” yang terus diucapkan, seakan mereka memuntahkan perasaan yang sudah lama dipendam.

Pada pertemuan tersebut, juga diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tak lupa mereka juga menemui beberapa tokoh ulama dari Indonesia yang telah bermukim di sana.

Hampir semua berpesan sama, yakni untuk menekankan perlunya agar mendukung kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamirkan, tidak hanya secara fisik akan tetapi juga secara rohani. Dan di Makkah, pada waktu musim haji itulah, dukungan rohani diyakini akan lebih kuat. (Ajie Najmuddin)