::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cara Jitu Kiai Basyirun Berhasil Kecup Hajar Aswad saat Haji

Kamis, 31 Agustus 2017 22:00 Humor

Bagikan

Cara Jitu Kiai Basyirun Berhasil Kecup Hajar Aswad saat Haji
Ilustrasi (youtube.com)

Setiap manusia, tentu mempunyai mimpi yang ingin diwujudkan. Pun dengan Kiai Basyirun asal Salatiga. Dalam perjalanan ibadah hajinya kala itu (sekitar tahun 2004), ia memiliki mimpi besar yang ingin ia capai. Bukan sembarangan, ia mendambakan dapat mencium Hajar Aswad saat thawaf.

Namun, berulang kali ia mencoba, tetap saja tidak berhasil. Hal tersebut karena padatnya kerumunan manusia di Masjidil Haram. Apalagi saat itu adalah musim haji, jutaan orang berjubel di sekitaran Ka'bah. Dan pasti, mereka pun—meski tidak semua—juga memiliki misi yang sama dengan Kiai Basyirun. Ya, dapat mengecup 'si batu hitam' meski hanya sekejap saja.

Hatinya semakin ciut. Betapa banyak usaha yang telah ia lakukan demi mewujudkan mimpinya itu. Namun, masih saja belum berhasil. Mulai dari mendadak tersesat, senggolan dengan jemaah luar negeri berbadan tinggi dan tak kenal tata krama, hingga injakan kaki rombongan lain pun mewarnai perjuangannya dalam mencapai Hajar Aswad. Belum lagi dengan penjagaan ketat yang dilakukan oleh militer Askar. Tentu, seakan mimpinya bakal karam ditelan jutaan gelombang manusia yang sedang berthawaf.

Waktu terus berjalan. Akhirnya ia memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Dalam percobaannya yang kesekian kali ini, sang kiai menggunakan cara lain. Ia awali perjalanan misinya dengan bermunajat terlebih dahulu di maktab penginapannya. Ia sadar betul, sesuatu yang besar tak akan terwujud jika hanya mengandalkan kekuatan raga manusiawi seperti dirinya. Butuh rahmat pertolongan Allah yang maha kuasa untuk mewujudkan mimpi besar tersebut.

Ternyata mujarab! Setelah bermunajat tiba-tiba saja ia mendapatkan ide cerdik agar bisa mencapai hajar aswad. Dengan langkah gontai, ia tidak langsung menuju Masjidil Haram. Akan tetapi ia malah masuk ke sebuah pertokoan dekat penginapannya.

Di dalam toko, justru ia malah sibuk memilah milih kaca mata berwarna gelap. Seakan ia telah lupa akan misinya. Sungguh, perjalanan misinya kali ini sangat aneh. Tapi herannya, ia terlihat begitu percaya diri setelah berhasil mendapat kaca mata yang dirasanya pas untuk kedua matanya.

Memasuki pintu Masjidil Haram, ia menarik napas dalam-dalam. Dengan mengejapkan mata,  mulutnya berkomat-kamit merapalkan doa. Kaca mata yang telah ia beli pun mulai ia sematkan di muka, menutupi kedua matanya. Mualilah ia menjalankan misinya.

Entah mengapa, di sepanjang jalan dari pintu Masjidil Haram menuju Ka'bah di tengahnya ia selalu berkata:

"Thariq... thariq... thariq... (beri jalan... jalan... jalan...).”

Sambil meraba-rabakan kedua tangannya, ia berlagak persis bak orang buta tak tau arah jalannya. Otomatis, para jamaah haji lainnya pun merasa iba. Hingga akhirnya secara perlahan mereka mulai menyingkir memberikan jalan bagi kiai cerdik tersebut. Pun dengan barisan Askar, meskipun tubuh mereka kekar dan wajahnya sangar. Ternyata mereka masih memiliki hati dan merasa iba melihat ada bapak-bapak paruh baya yang 'buta' meminta petunjuk arah.

Dituntunlah kiai 'buta' tersebut sesuai arah langkah kakinya. Selangkah demi selangkah ia mulai mengarah kepada 'si batu hitam'. Berhasil! akhirnya sang kiai dapat mengecup mesra hajar aswad didampingi Askar pula. Betapa bahagianya ia. Hingga akhirnya ia melepas kaca matanya kemudian memandang sang askar yang masih iba. Sambil terkekeh ia berkata:

"Syukron (terima kasih)!”

Dengan langkah gontai ia tinggalkan askar tersebut yang masih melongo tak menyadari akan apa yang terjadi. (Ulin Nuha Karim)


Dikisahkan langsung oleh Kiai Basyirun Salatiga dalam Acara Walimatus Safar lil Haj KH Muhammad Shofi Al Mubarok beserta istri di kompleks Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan, Jawa Tengah.