::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cerpen: Iktikaf

Ahad, 03 September 2017 11:01 Cerpen

Bagikan

Cerpen: Iktikaf
Ilustrasi.
Tatkala sudah di ujung lemah semangat, aku mendengar sebuah nama yang disebut-sebut sebagian jamaah shalat dzuhur di Masjid At-Taqi Desa Muntilan Sari, waktu itu, sepulang dari sowan Kiai Abror guru spiritualku dan kabarnya menjadi salah satu guru spiritual Presiden.  

Kepadanya, aku curahkan semua keinginanku, tentang perekonomian keluargaku, hampir semua pekerjaan untuk ukuran warga desa yang hidup di masyarakat ibukota suatu Kecamatan sudah aku lakoni: Dagang, nyawah, ternak, nambak, finishing jait, kuli panggul, kuli bangunan, jasa gadean, dropshipper baju, obat kuat, furniture, semua belum menemukan kata berhasil, apalagi sukses. 

“Coba gali potensi yang ada pada dirimu, kang Man?” jawab Kiai Abror. 

“Cocoknya aku kerja apa dan di mana, Kiai?” husnuzhonku, mungkin Kiai Abror yang di lingkupi aneka ilmu supra  dalam hal ini khasaf, sanggup mendiagnosa kerja dan daerah untukku, tapi salah dugaanku, bukan berarti Kiai Abror tak mampu, tetapi ada etika yang harus di jaga untuk seorang Kiai Khos, aku menangkap hal tersebut dari diamnya setelah aku tanya. Kalau menimba aneka ilmu ke-supranatural-an malah di segurah, di bimbing sampai mampu dan mumpuni.

“Jika kang Man, sudah menemukan potensi diri, nanti kualitas kang Man akan di hampiri oleh alam. Bismillah saja.” Terusnya.“ oh iya Kang, jika perjalanan kerumah pas dzhuhur, usahakan ikut jamaah di masjid.”

Lebih dari dua, tiga mungkin empat Orang-orang sukses dalam usaha dan membina rumah tangga, aku minta wejangan, termasuk membaca buku-buku pengembangan diri, buku strategi usaha, manajemen usaha, masih tetap nihil. Setelah pamit kepada istri,  aku meluncur ke daerah Muntilan Sari, mencari informasi, satengah jam kemudian aku sudah berdiri di rumah mewah empunya Kang Iktikaf, orang yang aku tuju dan berharap banyak untuk peningkatan perekonomian serta kebahagiaan keluargaku.

“Mas! Mas mencari siapa?” tanya seorang perempuan dari Tengah-tengan pintu besar dan panjang tipe kupu sejodo ala Londo berukiran khas Jepara.

“Apakah pak Iktikaf ada, bu?”

“Ada, tapi masih di masjid, silahkan duduk mas, sebantar lagi balik,” jawab perempuan itu dan aku duduk di kursi santai yang sengaja ditata di depan rumah, khas ala rumah Joglo Betawi. Baru saja kedua mataku asik mengelilingi bangunan halaman rumah yang luas, indah dan 3 mobil, tiba-tiba sosok yang gagah lengkap dengan kerapian batik sutra corak Satrio Manah – ciri khas batik Yogyakarta bak pak Kepala Desa ngantor, menyapaku.

“Assalamualaikum!” Lalu bersalaman dan mempersilahkanku masuk rumah. Dua gelas es teh serta air mineral mendarat di hadapan kami berdua. Ngalor ngidul kami berbincang, semua hajatku sudah aku utarakan,tak sengaja sorot mataku menangkap sebuah foto yang tak asing, “Ya, itu foto Kakek, kenapa di pajang di rumah mewah ini?” tanya batinku, lalu dengan puluhan penasaran akhirnya aku lontarkan.

“Oh, itu foto Kek Sukri, adiknya bapak saya?” jawab Kang Iktikaf. “Konon kata bapak, namaku yang aneh itu juga pemberian Kek Sukri,” lanjutnya sambil senyum.

“Nama asli bapak, siapa?” 

“Kang iktikaf.”

“Iktikaf?” tanyaku agak bingung.

“Bukan Iktikaf saja, Sesuai KTP dan data KK, nama saya Kang Iktikaf, ada Kang-nya.”

“Kang iktikaf, begitu?” Heranku, dia mengangguk, kami berdua melepas tawa, kemudian aku jelaskan, bahwa Kek Sukri adalah Kakeku, Bapaknya Romoku, aku sebut juga namaku, Kenang Rahman bin Abdur Rahman bin Sukri. Kenang kalau arti dialek orang jawa berarti Adik laki-laki, atau anak laki-laki. Lagi-lagi tawa kami lepas, seperti para sahabat yang bercanda tanpa batas. 

“Nama-nama produk Kek Sukri memang berbeda dan aneh, hahaha...” Komentarnya sebelum melangkah memberitahu istri dan ibunya, kalau aku adalah seudaranya.

Harus bisa merubah jerami menjadi emas, kata Kang Iktikaf, aku pun membantahnya dengan bukti upayaku untuk merubah jerami menjadi emas, namun belum berhasil, ku tanya juga tentang kiat-kiat mencapai sukses, jawabnya juga sama, dan selalu sama dengan Orang-orang sukses yang pernah aku temui, sampai akhirnya aku mampu menggiring Kang Iktikaf pada level kisah suksesnya yang sangat mengejutkanku, kisah itu keluar dari mulutnya yang awal kalimatnya ragu-ragu dan tidak di pertemuan awal ku dengannya, melainkan kesekian kali.

“Termasuk empat armada mobil rental itu dan satu mobil sedan itu ya pakde Kaf?”

“Iya, Toko kain, toko pakaian, sawah-sawah, tanah kaplingan, tambak, dan hasilnya juga merenovasi rumah ini, dan usaha refill air minum serta conter HP juga masih dalam tahap, termasuk ruko di jalan raya depan masjid itu.”

“Taa, tapi, tapi bagaimana dengan...?” kalimatku kikuk di potong dia, seakan dia tahu apa yang terlintas dalam otakku soal hukumnya. Hukumnya sah-sah saja, dan aku sudah limabelas tahun, Alhamdulillah aman, semoga tetap aman sentosa, jawabnya. Aku pun juga ingin menanyakan jenjang waktu, tapi sudah terjawab sebelum pertanyaanku keluar. Saat kutanya tentang hati nuraninya, apakah merdeka, ia pun semangat menjawabnya.

“Sangat! Kan sifatnya meminjam.”

“Berarti memanfaatkan aji mumpung?”

“Begitu juga boleh, asal kita tahu aturan mainnya?”

“Maksudnya?” aku bingung.

“Kita, harus pandai merangkul juru kuncinya, pakdemu ini juga terus menempel juru kuncinya.”

“Maksud juru kunci?” aku tambah bingung. Lantas Kang Iktikaf yang ku sapa dari jalur Romoku dengan sebutan pakde, menjelaskan sampai nominal angka-angka.

“Setahun limaratus juta, ya pakde!”

“Minimalnya segitu. Lewat jalur itulah pakde mampu merubah ‘Jerami Menjadi Emas’ dan jika cocok untukmu Man, maka jangan ragu, nanti pakde pandu, bagaimana?” Kang Iktikaf mengakhiri sarannya.

Dari perjalanan ke rumah, perasaan dan batinku perang, antara sanggup dan tidak, apalagi ilmu fiqih yang belum aku kuasai sepenuhnya menambah bantingan nafsu vs nurani. Aku ceritakan sepenggal kesuksesan Kang Iktikaf kepada istriku saat malam semakin diam, beberapa kali istriku menelah ludah,

“Awalnya, apakah ayah tahu, kok bisa sugih, sukses begitu?” akhirnya kalimat istriku keluar. 

Sambil tiduran, aku ceritakan kepada istriku. Pakde Kang iktikaf itu idenya berawal dari tak sengaja ikut nonton lelangan Sawah, lalu berpikir, bagaimana menggulingkan pak Karjo, dengan action selalu ikut jamaah ke masjid, selalu nongol kegiatan-kegiatan di masjid. Dan menempel juru kunci, yaitu Takmir masjid, Imam Rotib masjid, Tokoh-tokoh pengaruh di desanya, akhirnya pak Karjo yang baru setahun jadi Bendahara masjid berhasil dilengserkan lewat reformasi total kepengurusan masjid,

Jadilah Pakde Kang iktikaf Bendahara Masjid Jami’ At-Taqi, yang kekayaannya tiap tahun minimal plus Lima Ratus Juta, maka dengan duit kekayaan masjid, Pakde Kang iktikaf pergunakan untuk modal usaha-usahanya, beli tanah, sawah-sawah, memperkaya diri, juga pendapatan dari bunga Bank, Deposito Triwulan, Tahunan.

Sampai sekarang Limabelas tahun tak tergantikan. Jika reformasi tiba, pakde nempel lengket dengan mereka-mereka yang berpengaruh di masjid serta di desannya, kalimatku berhenti sejenak.

“Haruskah kita mengikuti jejaknya, bun?” tanyaku.

“Ya! Dan tidak disini, tapi kita pindah di desa Muntilan Sari!” istriku semangat, aku kaget.

“Lho itukan desanya pakde Kang iktikaf?”

“Betul!” jawabnya masih berkobar-kobar, “Karena masjid kampung kita ini, tak sekaya masjid At-taqi!” lanjutnya.

Aku terhentak dan berdiri mengambil minum. Namun, dengan cepat istriku menarik sarungku ke dalam lorong malam semakin menggairahkan.

Agon Naada, Mutakhorijin (alumnus) Pondok Pesantren Raudlotus Salikin, Buko, Wedung, Demak, Jawa Tengah.