Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

AL-HIKAM

Ini Karakter Orang Mendadak Religius Menurut Ibnu Athaillah

Rabu, 06 September 2017 13:01 Ubudiyah

Bagikan

Ini Karakter Orang Mendadak Religius Menurut Ibnu Athaillah
Foto: Ilustrasi
Tobat adalah pintu masuk pertama seorang hamba menuju Allah SWT. Tobat itu sendiri memiliki banyak ruangan yang harus dilewati mulai dari ruang depan, ruang tengah, hingga ruang terakhir. Ini yang disebut oleh Imam As-Sya‘rani sebagai wa lahâ bidâyah wa nihâyah.

Menurut Imam As-Sya‘rani dalam Al-Minahus Saniyyah, tobat memiliki jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Tobat dari kekufuran, kemusyrikan, larangan-larangan haram, larangan makruh, dari amalan khilaful aula, dan seterusnya.

Tetapi biasanya orang yang baru bertobat cenderung tak bisa menahan nafsunya dari kehausan ibadah. Di luar ibadah wajib, orang yang baru tobat ini cenderung menghabiskan waktunya untuk ibadah-ibadah tambahan (nafilah atau sunah). Mereka mengamalkan dengan semangat puasa sunah, shalat-shalat sunah, berkali-kali ke Masjidil Haram hanya untuk umrah, menggelar santunan-santunan sosial, gerakan politik yang bertopeng gerakan keislaman, dan hal-hal yang tidak perlu lainnya.

Jelasnya mereka menghabiskan waktu untuk ibadah tambahan demi memuaskan nafsu dahaga ibadahnya. Ini yang disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam sebagai ibadah karena dorongan nafsu.

من علامة اتباع الهوى المسارعة إلى نوافل الخيرات والتكاسل عن القيام بالواجبات

Artinya, “Salah satu tanda (seseorang) menghamba pada hawa nafsu adalah kesegeraan dalam (memenuhi panggilan) kebaikan tambahan dan kelambatan dalam (memenuhi panggilan) kewajiban.”

Pernyataan Ibnu Athaillah ini kemudian diuraikan lebih lanjut oleh Ibnu Abbad dalam Syarhul Hikam-nya yang lazim dibaca di kalangan santri sebagai berikut.

هذه من الصور التى يتبين بها خفة الباطل وثقل الحق على النفس وما ذكره هو حال أكثر الناس فترى الواحد منهم اذا عقد التوبة لا همة له الا في نوافل الصيام والقيام وتكرار المشي الى بيت الله الحرام وما أشبه ذلك من النوافل وهو مع ذلك غير متدارك لما فرط من الواجبات ولا متحلل لما لزم ذمته من الظلامات والتبعات

Artinya, “Ini merupakan salah satu bentuk di mana sesuatu yang semu itu jelas sangat ringan dikerjakan bagi nafsu. Sedangkan yang hakiki terasa berat bagi nafsu. Apa yang disebutkan Ibnu Athaillah merupakan pengalaman kebanyakan orang. Kaulihat kemudian salah seorang dari mereka itu kalau sudah bertobat itu tidak memiliki keinginan apapun selain mengamalkan puasa sunah, tahajud, pergi-pulang umrah sunah ke masjidil haram, dan amalan tambahan (nawafil/sunah) lainnya. Sedangkan pada saat yang bersamaan salah seorang dari mereka tidak bergerak menutupi kewajiban yang telah dilalaikannya dan tidak berupaya mengembalikan hak orang lain yang telah dizaliminya, serta menyelesaikan tanggung jawabnya,” (Lihat Ibnu Abbad An-Nafzi Ar-Randi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 30).

Padahal tugas paling mendasar dari seseorang yang bertobat adalah menunaikan kewajiban seperti membayar utang, mengembalikan sesuatu yang pernah dirampas secara zalim, meminta maaf kepada korban yang telah dicederai harga diri dan martabatnya, dan tentu saja menambal bolong-bolong kewajiban shalat, puasa, zakat yang telah dilalaikan di waktu-waktu yang sudah. Di samping itu tugas orang yang baru tobat adalah menahan diri dari segala maksiat, baik maksiat mulut, tangan, kaki, kelamin, mata, telinga, dan tentu saja maksiat hati.

Tetapi kenapa itu bisa terjadi? Kenapa mereka yang baru tobat lebih memilih amaliyah nafilah-sunah yang semu itu ketimbang amaliyah wajib yang hakiki sebagai tanggung jawab mereka? Pertama, aktivitas menunaikan kewajiban tidak mengandung keistimewaan dan keutamaan apapun. Lain dengan amalan sunah yang “menjanjikan” sesuatu bagi yang mengamalkannya. Kedua, mereka tidak menggembleng dan mendidik nafsu ibadah yang menipu mereka. Mereka tidak sanggup mengendalikan kehendak-kehendak nafsu yang menyenangkan dan menguasai mereka. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)