::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah

Kamis, 07 September 2017 09:59 Hikmah

Bagikan

Rasulullah Pun Pernah ‘Ditembak Duluan’ Diajak Nikah
Suatu hari dalam sesak kereta rel listrik, “Duh, mbak artis yang cantik ini, kok sudah menikah saja ya,” terang seorang pemuda pada teman di sampingnya.

“Lha terus kenapa?”

“Ya... siapa tahu. Secara, ia kan idola banyak pria. Termasuk aku. Bisa saja kan aku ungkapkan cinta lebih dulu, kisah akan berubah, haha,” ia tergelak.

“Yah, ngimpi kali,” timpal temannya, agak mencibir. “Kamu ketemu saja tidak pernah. Saranku, biar mendingan, kamu ikut saja meramaikan tagar #HariPatahHatiNasional.”

Di era modern sekarang, mencari idola adalah lumrah lagi mudah. Jagat maya dan media massa membuat seorang bisa mencari tahu lebih jauh tentang orang-orang yang digemarinya. Siapa pun yang diidolakan bisa sebab kelebihan yang dimiliki, baik penampilan, suara, keterampilan, tulisan, dan lain sebagainya.

Mengidolakan sosok adalah soal kecenderungan perasaan. Bisa pada awalnya gemar belaka, namun lambat laun jadi cinta. Masalahnya, seorang idola kerap kali adalah sesuatu yang berada dalam kedudukan berbeda, maka mendekatinya hanya angan dan impian belaka. Pepatahnya dalam bahasa Jawa: “cebol nggayuh lintang” (cebol meraih bintang), sebuah kemusykilan.

Apakah menyukai idola, sampai mencintai, ada kisahnya dalam ajaran Islam? Bagaimana jika sampai diungkapkan?Rupanya hal ini juga terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Pada dasarnya, menyukai hal-hal yang baik dari seseorang tidak dilarang oleh Islam. Kesalehan, kepribadian, juga pesona, adalah hal-hal yang lumrah untuk disukai. Nah, sahabat Nabi di kalangan perempuan, tentu mengidolakan Nabi Muhammad dengan segala kemuliaan beliau. Saking mengidolakannya sampai jadi cinta, ada perempuan yang berani mengaku terang-terangan kepada Nabi agar beliau menikahinya.

Perihal kisah perempuan yang memohon dinikahi Rasulullah SAW ini diriwayatkan dalam Shahihul Bukhari. Suatu ketika, Anas bin Malik sedang bersama Rasulullah SAW. Kemudian, datanglah seorang perempuan kepada Nabi.

“Wahai Nabi, apakah Anda, punya maksud untuk kiranya menikahi saya?”

Imam Ahmad al Qasthalani mengomentari hadits tersebut dalam kitab Irsyadus Sari li Syarh Shahih al-Bukhari. Dalam periwayatan hadits tersebut, disebutkan bahwa Anas bin Malik menceritakan keberanian perempuan itu kepada putrinya. Mengetahui bahwa pernah ada seorang perempuan yang “macam-macam” seperti itu pada Nabi Muhammad, putri Anas bin Malik itu mencibir, “Duh, tidak punya malu. Buruk sekali perangai seperti itu.”

Nah, sahabat Anas menimpali komentar anaknya, “Hei, perempuan itu, lebih baik daripada kamu, lho. Ia menyukai Rasulullah, kemudian dengan jujur, meminta kesediaan beliau agar menikahinya.”

Kita bisa tahu bahwa perempuan ini mengidolakan Nabi sebagai seorang Rasul, dan dalam taraf tertentu, ia mencintai Nabi dan berharap ingin menjadi istri beliau. Mengenai ini, Imam al Qasthalani berkomentar:

فيه جواز عرض المرأة نفسها على الرجل الصالح وأنه لا عار عليها في ذلك بل فيه دلالة على فضيلتها نعم إن كان لغرض دنيوي فقبيح

“Dibolehkan bagi perempuan untuk menyerahkan dirinya kepada orang saleh. Hal itu tidak tercela, malah menjadi dalil terkait keistimewaan sifatnya. Namun jika tujuannya adalah perkara dunia semata, maka itu tercela.”

Kisah perempuan tersebut bukan satu-satunya orang yang menyerahkan diri kepada beliau. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Aisyah radliyallahu’ anha dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan seorang perempuan bernama Khaulah binti Hakim, adalah salah satu dari sekian perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah. Dan sahabat Khaulah ini mendapat cibiran dari Aisyah.

Dari kisah tersebut, maka mengidolakan sosok yang baik itu diperkenankan dalam Islam. Bahkan jika memang sampai cinta dan bertujuan mulia, mengungkapkan rasa itu diperbolehkan. Kita melihat bahwa sahabat perempuan pun saking menyukai Nabi, sampai sangat berani berterusterang kepada beliau. Nah, bagaimana dengan idola Anda? Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)