::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Jumat, 08 September 2017 15:09 Hikmah

Bagikan

Tabahnya Hati Seorang Muadzin
Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan.

Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin. 

Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak. Yang sulung sudah kuliah; yang bungsu masih duduk di bangku SD.

Melihat banyaknya orang yang menshalatkan Bu Bariyah, baik laki-laki maupun perempuan, dan jumlah pelayat yang tidak bisa dihitung satu per satu, ditambah lagi banyaknya pelayat yang secara suka rela mengantarkan jenazah hingga tempat pemakaman dalam suasana hujan gerimis, orang awam saja bisa mengambil kesimpulan Ibu Sri Bariyah insyaallah husnul khatimah. Sebagai istri, kebaikan Bu Bariyah  kepada Pak Syakur diakui banyak orang.

Aku pun juga mengakui kebaikan pasutri itu. Aku cukup tahu siapa mereka berdua. Rumahnya gandeng dengan rumah yang aku tempati, hanya posisinya bertolak belakang. Istriku juga sering bercerita Bu Bariyah  adalah orang sabar, selalu hormat dan bakti kepada suami.

Maka tidak mengherankan ketika Kiai Halim di sore itu menanyakan kepada para pelayat apakah Bu Bariyah orang baik, semua hadirin menjawab serempak, “Orang baik!” Dan jawaban itu diulang hingga tiga kali. Dalam Islam, orang baik yang meninggal dunia di hari Jum'at akan terlindung dari siksa api neraka. Ya, hari itu adalah Jumat, 9 September 2016, Ibu Sri Bariyah, S.Pd.I. pulang ke rahmatullah. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.

Ada banyak peristiwa dari pagi hingga sore hari itu terkait wafatnya Bu Bariyah dan prosesi pemakamannya.  Namun, hal yang paling membuatku terharu adalah saat Pak Syakur berada di tempat pemakaman. Dalam susana seduka itu Pak Syakur masih sanggup mencucurkan keringat mencangkul tanah urug untuk mengurug kembali liang lahat dimana jenazah istrinya dibaringkan untuk selamanya. 

Ketabahan hati Pak Syakur memang dahsyat dan itu sekaligus merupakan ungkapan ridha seorang suami bahwa ia ikhlas ditinggal sang istri demi menghadap Sang Khaliq yang telah memanggilnya pulang dan takkan pernah kembali. Pak Syakur telah membuktikan kata-katanya di depan Kiai Halim yang membacakan mahasinul mayyit Bu Bariyah bahwa ia ridha atas apa yang menimpa istrinya. Sebelumnya Kiai Halim memang menanyakan hal itu. 

Allahumaghfirlaha... warhamha... wa’afiha... wa’fu ‘anha... waj’alil jannta matswaha. amin.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta