::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Getaran Doa Kiai Badrun

Senin, 11 September 2017 16:00 Hikmah

Bagikan

Getaran Doa Kiai Badrun
Pada bulan September tahun 2002, setahun setelah Peristiwa 11 September 2001, sebanyak 25 pesantren dari berbagai daerah di Indonesia mendapatkan undangan dari State Department (Kemenlu-nya pemerintah Amerika Serikat) untuk mengikuti Indonesia Pesantren Leader Program di negara Paman Sam, tepatnya di kota Amherst, negara bagian Massachusetts. Para peserta adalah para pimpinan pesantren atau seorang guru yang ditunjuk mewakilinya mengikuti program itu. 

Bahasa pengantar yang dipergunakan dalam kegiatan yang berlangsung selama hampir satu bulan itu tentu saja bahasa Inggris. Tetapi kemampuan berbahasa Inggris yang baik bagi peserta tidak menjadi persyaratan karena dalam setiap  kegiatan yang bersifat resmi selalu disediakan seorang penerjemah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.  Dengan kata lain, tidak menjadi persoalan seseorang yang tidak bisa berbahasa Inggris mengikuti program ini. 

Salah seorang kiai dari sebuah pesantren – sebut saja Kiai Badrun – merupakan salah seorang peserta pogram ini yang kebetulan tidak bisa berbahasa Inggris. Beliau hanya menguasi satu bahasa asing saja, yakni bahasa Arab.  Hal ini diakui sendiri oleh Kiai Badrun. Namun demikian Kiai Badrun berharap tidak akan menemukan kesulitan apa-apa selama di Amerika.  

Asyik Belanja di Mall

Sore itu di minggu terkahir selama program berjalan, beberapa peserta termasuk Kiai Badrun,  sudah mulai memikirkan oleh-oleh untuk keluarga dan kolega. Bersama 4 orang temannya, Kiai Badrun memanfaatkan waktu luang untuk shopping di mall terbesar di pinggiran kota Amherst. Mereka naik bus kota gratis menuju mall tersebut.  

Sesampai di tempat tujuan, mereka berpencar untuk berbelanja barang-barang sesuai kebutuhan masing-masing. Di dalam mall, Kiai Badrun keasyikan memilih barang-barang lalu memasukkannya ke dalam trolley. 

Saking asyiknya, Kiai Badrun lupa waktu sudah berapa lama beliau berada dalam mall. Beliau juga lupa keempat temannya yang juga berbelanja di mall itu. Bahkan beliau  juga lupa bahwa beliau sedang di Amerika di mana  kemampuan bahasa Inggrisnya yang tidak memadai bisa membuatnya dalam kesulitan.

Ketika Kiai Badrun tiba-tiba menyadari semua hal diatas, beliau segera mengakhiri shopping-nya dan segera menuju kasir untuk membayar. Beliau segera mencari teman-temannya kesana kemari, namun tak seorangpun beliau temukan. Beliau yakin mereka sudah kembali ke apartemen. 

Kiai Badrun mulai kebingungan bagaimana bisa pulang ke apatemen sementara beliau tidak tahu jalan mencapai ke sana. Di mana alamatnya beliau juga tidak tahu. Beliau tidak bisa mengomunikasikan masalahnya dalam bahasa yang bisa dipahami orang-orang Amerika.  

Dalam keadaan seperti itu, Kiai Badrun mencoba menenangkan diri dengan duduk di depan mall sambil mengamankan barang-barangnya. Tidak ada yang bisa beliau lakukan di tempat itu kecuali berserah diri kepada Allah SWT sambil terus melafalkan doa-doa memohon pertolongan dan keselamatan. 

Saking semangatnya,  beliau melafalkan semua doa yang beliau hafal, dari yang pendek hingga yang panjang tanpa mempedulikan apakah doa itu relevan atau tidak dengan masalah yang sedang beliau hadapi. Beliau sempat melafalkan doa yang biasa dibaca ketika hendak memasuki toilet. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan perempaun.”

Getaran Doa

Allah SWT berfirman dalam Surah Al Mukmin, ayat 60, “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya.” Kiai Badrun sangat yakin akan kebenaran firman Allah ini. Keyakinan itu benar-benar terbukti ketika tiba-tiba salah seorang dari keempat temannya, Kiai Najib, tergetar hati dan kesadarannya bahwa Kiai Badrun tidak bersama rombongan di dalam bus kota yang sudah menempuh setengah perjalanan menuju apartemen. 

“Mana Kiai Badrun?”  Tanya Kiai Najib tiba-tiba kepada ketiga temannya dengan wajah kecemasan.  

Kesemua kiai itu tidak menemukan Kiai Badrun ada bersama rombongan di dalam bus. Mereka yakin Kiai Badrun masih di Mall dan dalam kesulitan. Mereka sepakat turun dari bus dan berganti bus lain kembali ke mall. 

“Kasihan Kiai Badrun”, kata Kiai  Zarkasyi yang diiyakan Kiai Faruq.  

Benar. Keaadan Kiai Badrun di depan mall sudah cukup memelas. Wajahnya pucat pasi, duduk sendirian di sana. Tetapi begitu terlihat dari kejauhan beberapa laki-laki mengenakan peci sedang berjalan kaki menuju Mall, Kiai Badrun mulai yakin doanya terkabul. 

“Alhamdulillah...,” kata Kiai Badrun sambil memeluk Kiai Najib. “Syukran, jazakumullah...!”


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta