Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUI Tetapkan Pedoman Berdakwah

Rabu, 13 September 2017 13:06 Nasional

Bagikan

MUI Tetapkan Pedoman Berdakwah
Foto: Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengatakan, dakwah merupakan ujung tombak daripada citra Islam karena banyak orang yang mendengar ajaran Islam dari aktivitas dakwah. Ia berharap, dakwah harus dilakukan dengan efektif agar tujuannya bisa tercapai.

Salah satu tujuan dakwah adalah mengajak masyarakat agar bertauhid kepada Allah, menjalankan syariat Islam serta mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kiai Cholil menyebutkan, setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan agar dakwah bisa berjalan efektif. Pertama, kompetensi dai. Dai harus memiliki kemampuan yang mumpuni, terutama dalam penguasaan disiplin keilmuaan agama. Pun dengan perilaku dan tingkah lakunya harus mencerminkan apa yang ia dakwahkan.

“Seorang dai harus memiliki integritas qalbu, lisan, amal dan sosial,” kata Kiai Cholil kepada NU Online di Jakarta, Selasa (12/9).

Kedua, metode dakwah. Dai sebaiknya menggunakan metode dakwah yang tepat sesuai dengan objek dakwah dan suasana masyarakat. Misalkan berdakwah di kalangan akdemisi, maka metode dakwah bisa digunakan adalah dengan diskusi dan bahkan debat dengan menyajikan fakta-fakta yang ada.

Ketiga, materi dakwah. Kiai Cholil menegaskan, dalam menyampaikan kebenaran saat berdakwah semestinya jangan menggunakan cara yang salah.

“Tidak boleh menyampaikaan kebaikan dengan cara menghina dan tidak boleh membangun masyarakat dengan cara menistakan,” jelasnya.

Terakhir, kode etik dakwah. Ia menjelaskan, seorang dai harus mampu menyatukan pikiran, ucapan, dan tindakannya. “Hati seorang dai harus lurus dan aqidahnya harus benar. Ucapannya harus lembut, penuh makna dan berwibawa, dan mencerahkan umat,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)