::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Pria Mantap Jadi Mualaf Usai Lakukan Riset tentang Islam

Kamis, 14 September 2017 09:00 Nasional

Bagikan

Kisah Pria Mantap Jadi Mualaf Usai Lakukan Riset tentang Islam
Ilustrasi ikrar syahadat.
Jakarta, NU Online
Sulistiohadi (24) mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di Lantai 4 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (13/9) malam. Ia dibimbing Wakil Sekretaris Lembaga Bahsul Masa’il Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Mahbub Ma’afi saat melafalkan dua kalimat yang menjadi syarat masuk Islam itu.

Sulistiohadi menceritakan, awalnya ia mengaku bimbang dengan agama yang dianut sebelumnya karena alasan tertentu. Lalu ia memutuskan untuk tidak memeluk agama tertentu selama dua tahun. 
 
Saat tidak beragama, ia banyak berinteraksi dengan teman-temannya yang muslim. Main basket dan voli bareng. Di tengah-tengah permainan, teman-temannya yang muslim minta izin untuk menjalankan salat karena adzan berkumandang.

“Kok dia sampai nyari-nyari shalat (saat bermain). Dia bilang satu itu kewajiban. Yang kedua, dia bilang adem kalau wudhu,” cerita Sulistiohadi kepada NU Online usai mengucapkan kalimat syahadat.

Dari situ, ia berpikir bahwa tujuan adanya agama adalah sebagai jalan manusia untuk sampai kepada Tuhan. Sedangkan buku manualnya adalah kitab suci. Setelah melakukan riset beberapa tahun, ia berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang otentik dan asli.

“Dan yang diajarkan Nabi Muhammad menurut aku tidak salah. Sejak itu mulai menerima Islam,” tegasnya.

Namun, ia kembali bimbang setelah ada aksi ‘kekerasan’ ormas Islam yang terjadi di Jakarta. Sebelumnya, ia menduga Islam itu agama damai dan toleran. Ia memantapkan hatinya kembali kepada Islam setelah mendapatkan dukungan dari teman-temannya dan riset tentang Islam di internet.

“Aku pun nyari sendiri dan bener. Kemudian, kenapa tidak (masuk Islam),” ujarnya.

“Tiga tahun saya nyari,” lanjutnya.

Ia masuk Islam bukan karena paksaan dari siapapun. Ia mengaku masuk Islam setelah melakukan riset sendiri tentang kebenaran Islam. Ia berharap, ke depan ia akan mendapatkan kedamaian hidup.
   
“Gak ada paksaan, nggak,” tegasnya.

Jaga hubungan dengan orang tua

Mahbub Ma’afi berharap, Sulistiohadi tetap menjaga hubungan dengan kedua orang tuanya meski agama mereka berbeda. Ia menerangkan, Islam itu agama yang damai dan menghormati siapapun meski beda agama sekalipun.

“Kalau ada yang mengatasnamakan Islam untuk kekerasan maka ia telah menyelewengkan ajaran Islam,” jelasnya.

Mahbub juga menerangkan, ketika seseorang masuk Islam maka ada kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan seperti shalat. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)