::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jatah Daging Kurban

Senin, 18 September 2017 14:31 Humor

Bagikan

Jatah Daging Kurban
Di suatu sore Ustadz Juki yang terkenal gemar bercerita, dikelilingi oleh beberapa santri yang sedang asyik mendengarkan ceritanya. Karena suasana menjelang Hari Raya Kurban, beliaupun bercerita tentang rencana pelaksanaan pemotongan hewan kurban di pondok mereka.

Sebelum bubaran, Ustadz Juki sempat menceritakan pengalaman pahitnya pada saat Hari raya Kurban dua tahun silam. Saat itu dia mendapat bagian daging kurban yang lumayan banyak, karena kebetulan menjadi ketua panitia.

Selepas shalat Maghrib di mushalla ustadz Juki langsung pulanng ke kamarnya, dan alangkah kagetnya saat  mendapatkan daging kurban bagiannya raib.
 
Sudah beberapa orang yang dia tanyakan tentang keberadaan daging itu tapi mereka tidak ada yang tahu, dengan perasaan marah, dongkol campur gregetan ustadz Juki mencari jejak daging itu ke dapur umum. 

Semua kerumanan santri yang sedang memasak tidak ada yang luput dari sidaknya, tetapi upaya pencarian itu tidak berhasil.

Hasin, yang sedari tadi ikut mendengarkan cerita sang ustadz, menjadi teringat peristiwa dua tahun silam. 

Ketika itu ia mau berangkat shalat Maghrib di masjid, saat melewati kamar ustadz Juki, Holili menarik tangannya dan menunjuk ke arah daging yang sudah ditusuk seperti dendeng semabri berkata, “jatah kita...”.

Hasin tidak paham apa yang maksud sahabatnya itu, dengan disertai isyarat kepala, Holili kembali berucap, “ jatah kita...”.                                                                                                                      
Kali ini Hasin paham akan maksud sahabatnya itu, dengan cekatan ia mengambil daging itu lalu membawanya dan dimasak di luar dapur umum.

Mengingat peristiwa itu Hasin senyum senyum sendiri, kemudian menimpali cerita sang ustadz, “Ikhlaskan saja ustadz....”

“Ya...gimana lagi, bukan rezeki saya, dan saya sudah mengikhlaskannya...” 

“Alhamdulillah........,” kata Hasin.

“Lho, kok......?"

Pertanyaan ustadz Juki keburu dipotong oleh Hasin,  “Ya ustadz...., saya yang mengambil daging itu...”. (Hosni Rahman)