::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ma'unah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU

Jumat, 29 September 2017 15:08 Pustaka

Bagikan

Ma'unah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU
Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengggambarkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai “kiai unta”. Maksudnya ialah kiai yang tahan bepergian jauh ke desa terpencil, kota kecil atau kota besar, bahkan lintas negara. 

KH Abdul Mun’im DZ pada tulisan Gus Dur Mengabdi mendeskripsikan cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu begini:  

“Suatau hari, di tahun 1985, Gus Dur mengunjungi sahabatnya, KH Muhammad Jinan di gunung Balak, Lampung. Setelah naik bus Jakarta-Lampung, lalu naik angkot, ia meneruskan dengan berjalan kaki sepanjang empat kilo meter. Jalan menuju pesantren memang hanya setapak. Coba bayangkan, Gus Dur jalan kaki dengan badan tambun, kacamata tebal, sementara jalan berbatu. Tapi Gus Dur menjalaninya dengan enteng, bahkan ceria.”

Begitu juga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Menurut sekretaris pribadinya, Kiai Said memiliki tiga kamar, yaitu kamar di rumah, di mobil, dan di pesawat terbang. Acara yang dihadiri pun bervariasi, mulai dari pelantikan pengurus NU dari tingkat cabang hingga wilayah, pengajian, seminar, sampai acara pernikahan atau silaturahim. Dalam satu hari Kiai Said bisa menghadiri acara di beberapa tempat. Bahkan, sehari pernah melakukan lima kali perjalanan pesawat. 

Bagaimana dengan aktivitas tokoh NU awal-awal organiasi didirikan? Sepertinya sama saja. Malah lebih harus ekstra keras. Dengan alat transportasi dan komunikasi yang tentu saja masih sulit, juga ongkos perjalanan, waktu itu para tokoh NU harus berjuang keras mengkonsolidasi kiai-kiai NU dan pesantren di daerah-daerah dengan jarak berjauhan. 

Bukti kesibukan dari konsolidasi mereka, pada Muktamar NU keempat di Semarang, Jawa Tengah pada 1929, NU telah memiliki 67 Cabang, terbentang dari Madura hingga ujung Banten, Menes. 

Keberhasilan itulah yang membuat KH Wahid Hasyim berdecak kagum, dan memantapkan diri turut serta di NU. Menurut dia, NU memang didirikan para orang tua, tapi dalam waktu sepuluh tahun mampu membentuk ratusan cabang dan tak hanya di pulau Jawa. NU memiliki gerak cepat daripada organisasi pemuda waktu itu, yang dalam rentang waktu yang sama hanya bisa membentuk beberapa cabang di beberapa keresidenan yang berdekatan. NU memang didirikan orang tua, tapi geraknya melebihi anak muda. Begitu kesimpulan Kiai Wahid setelah mengamati selama empat tahun.  

Sepak terjang pada masa itu, tentu kita ingat akan konsolidasi Kiai Wahab Chasbullah, yang menurut Choirul Anam, bisa dikatakan tak pernah tidur, saking padat aktivitasnya. Kiai Wahab sibuk mengkader anak muda, mengajar, berdebat, konsolidasi NU, sowan kepada kiai yang lebih tua, bersilaturahim dengan sesama temannya. Di samping itu, menurut KH Saifuddin Zuhri, Kiai Wahab tidak lupa memberikan oleh-oleh perjalanan untuk keluarganya, termasuk membetulkan petromaks yang rusak.   

Di samping risiko-risiko lain, paling tidak, risiko kesibukan itulah yang selalu dialami Ketua Umum PBNU di periode mana pun. Termasuk periode 2000-2010 dengan Ketua Umum KH Hasyim Muzadi. Kesibukannya didokumentasikan dengan apik pada Uang Koin; Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi yang ditulis sekretaris pribadinya, Muhammad Ghozi Alfatih.

Ketahanan fisik adalah maunah  
Setahu saya, tidak pernah ada agenda senam kebugaran khusus untuk tokoh-tokoh NU, misalnya Ketua Umum PBNU sekarang, KH Said Aqil Siroj, Kiai Idham Chalid, Gus Dur, termasuk KH Hasyim Muzadi.  

Saat menjadi Ketua Umum PBNU, Kiai Hasyim menjalani rutinitas yang tidak normal. Pagi hari, sebelum jam kantor dimulai, ia biasanya menerima tamu di rumah. Lalu berangkat ke kantor PBNU untuk mengurusi tugas-tugas organisasi yang sering kali berakhir saat larut malam. Itu pun kerap diselingi acara-cara di luar kantor yang mengharuskan Kiai Hasyim menyampaikan ceramah di lebih dari satu tempat dengan topik pembicaraan yang berbeda-beda. Umumnya sampai rumah pukul sebelas malam. Itu pun belum langsung istirahat karena sudah ada tamu yang menunggu. (hal.65)

Barulah sekitar jam satu malam, Kiai Hasyim bisa istirahat. Tiga jam kemudian, ia sudah harus berangkat ke bandara, ke luar kota atau luar negeri untuk menghadiri acara. 

Mendapati rutinitas semacam itu, malah sang sekretaris Kiai Hasyim yang meminta istirahat di hari berikutnya. Sementara dia tetap menjalankan aktivitas sesuai yang dijadwalkan. Padahal aktivitas itu bukan urusan bisnis atau dinas yang sudah jelas ongkosnya. Kiai Hasyim malah harus mengeluarkan kocek sendiri. 

“Bukan saya orang hebat. Tuhan yang memberi ma’unah (pertolongan). Badan saya biasa saja, sama seperti orang lain. Bisa kuat karena Tuhan yang menguatkan,” jelas Kiai Hasyim menjelaskan kekuatan fisiknya. 

“Bagaimana mungkin saya bisa menjaga fisik? lstirahat hanya sebentar. Olahraga tidak pernah. Makan juga sembarangan dan tidak teratur. Tanpa ma’unah Allah, saya tidak akan bisa apa-apa.” 

“Mungkin karena dipakai keliling untuk ngurusi umat, ngurusi persoalan masyarakat, akhirnya Allah memberi kemampuan fisik lebih kepada saya." 

“Seandainya badan cuma dipakai jalan-jalan, pelesiran, mungkin jadinya malah gampang masuk angin." 

“Saya ini kalau berhari-hari tidak ke mana-mana kadang justru mudah sakit," kelakar beliau. (hal. 67) 

Aktivitas semacam itu memang tidak selamanya membuat Kiai Hasyim sehat-sehat saja. Karena menjalani aktivitas padat yang mengharuskannya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak puluhan hingga ratusan kilometer, sebagai manusia biasa, ia harus dilarikan ke rumah sakit. Lantaran benar-benar kelelahan usai menghadiri acara atau menyampaikan ceramah yang sambung menyambung di berbagai daerah, ia harus istirahat total sehari dua.

Risiko ke rumah sakit dan risiko-risiko lain tentu selalu ada. Bahkan risiko kematian akibat kecelakaan atau lainnya. Ambil contoh KH Wahid Hasyim, ia wafat di perjalanan ketika akan menuju Sumedang pada 1953. Salah satu agenda ke tempat itu, ia mensosialiasikan NU yang telah menjadi partai, hasil Muktamar NU Palembang tahun 1952. 

Tentu tidak hanya melulu soal kesibukan Kiai Hasyim di buku itu. Ada humor, catatan masa muda yang penuh teladan, pengalaman spiritual, serta pandangan-pandangan keislamaan dan kebangsaan jam’iyyah NU yang diwakilinya. Semuanya disajikan dengan cara yang ringan dan sederhana sehingga mudah dicerna. 

Buku semacam ini harus diperbanyak, untuk cermin keteladanan generasi muda NU, umat Islam dan bangsa Indonesia. 


Judul : Uang Koin; Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi 
Penulis : Muhammad Ghozi Alfatih
Penerbit         : Kompas
Cetakan : Pertama, 2017
ISBN : 978-602-412-299-7
Peresensi : Abdullah Alawi