::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Meriahkan Bulan Muharram dengan Peduli Anak Yatim

Kamis, 05 Oktober 2017 17:00 Daerah

Bagikan

Meriahkan Bulan Muharram dengan Peduli Anak Yatim
Tegal, NU Online
Keluarga Besar Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU), Desa Setu, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, bersama badan otonom seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU menggelar santunan anak yatim.

Kegiatan tersebut menjadi rangkaian dari peringatan menyambut datangnya bulan Muharram 1439 Hijriah yang dirangkai dengan pengajian akbar.

Ketua Panitia Ustad Taufik mengatakan, santunan diberikan kepada 150 anak yatim sebagai wujud kepedulian kepada sesama terutama mereka yang membutuhkan. 

"Selain memberikan santunan kepada anak yatim, panitia juga menggelar pengajian akbar yang dihadiri masyarakat setempat dengan menghadirkan pembicara KH Abdul Mutholib dari Tegal," papar Taufik.

Dia berharap, warga yang hadir dalam kegiatan tersebut bisa mendengarkan taushiyah untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan. “Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar dan berkesan bagi masyarakat,” terangnya.

Salah satu warga setempat Mulyono (56) mengungkapkan, peringatan tahun baru Islam atau biasa dikenal dengan Muharoman di desanya lebih mengutamakan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Salah satunya adalah dengan memberikan santunan kepada anak yatim di wilayah sekitar dan pengajian akbar yang dihadiri warga dari dalam dan luar kota.

Apa yang telah dicapai selama ini, kata dia, diharapkan menjadi sebuah momentum untuk menjaga kebersamaan dan meningkatkan semangat untuk berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan.

Kemeriahan Tahun Baru Hijriah, terangnya, hampir dilakukan secara merata di seluruh nusantara. Hanya saja, semua mengedepankan kearifan lokal sehingga apa yang dilakukan di desanya bisa menjadi acuan bagi generasi mendatang agar bisa menjaga tradisi sekaligus meningkatkan apa yang telah dikerjakan saat ini.

“Tahun-tahun ke depan tentu harus lebih baik dari saat ini,” tandasnya. (Hasan/Mahbib)