::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Refleksi Makna Ayat-ayat Al-Quran pada Diskusi Perppu Ormas

Sabtu, 07 Oktober 2017 14:02 Nasional

Bagikan

Refleksi Makna Ayat-ayat Al-Quran pada Diskusi Perppu Ormas
Cirebon, NU Online
Sekjen PP Lesbumi Abdullah Wong menyampaikan refleksi atas peristiwa pelarangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Perppu Ormas. Ia menyampaikan pandangannya pada diskusi publik yang digelar oleh PAC GP Ansor Astanajapura di kampus II Annidzomiyah, Japura Kidul, Cirebon, Jumat (6/10).

Mengutip Heraklitos, ia mengatakan, jika melihat air sungai itu bukanlah air sungai yang tadi dilihat melainkan air sungai yang baru saja datang.

“Ketika kita melihat air sungai, air itu sudah lewat. Yang kita lihat sekarang adalah sungai yang baru datang, sungai yang saat ini, sungia kekinian,” katanya.

Kita tidak bisa hanya menjadi umat yang klangenan, berbangga dengan kejayaan masa lampau. “Dulu pada zaman Rasulullah. Dulu pada zaman dinasti apa. Dulu bapak saya. Lah terus kamu sekarang ngapain,” lanjutnya.

Penulis novel Mata Penakluk Manakib Abdurrahman Wahid itu menyampaikan makna kata khauf dan huzn pada Al-Quran Surat Hud ayat 62. Menurutnya, khauf adalah penderitaan atau ketidaknyamanan terhadap apa yang bakal terjadi. Sedangkan huzn adalah penderitaan yang telah terjadi di masa lalu.

“Auliya itu gak rempong dengan apa yang sudah terjadi dan tidak pusing dengan apa yang akan terjadi karena dia hadir dalam kekinian,” jelas alumni Pondok Pesantren Lebaksiu, Tegal itu.

Mereka adalah orang yang melafalkan lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yahzanun dalam bahasa kekinian adalah ‘Gitu aja kok repot’, kata Abdullah yang langsung disambut tepuk tangan dan gelak tawa para peserta.

Pria asal Brebes itu juga menyampaikan perihal makna Al-Quran Surat Al-Waqiah ayat 79. Jika biasanya ayat tersebut diartikan, seseorang tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali sudah suci dari hadats kecil maupun hadats besar, lain halnya dengan Abdullah Wong. Ia mengatakan, bahwa makna ayat tersebut adalah tidak ada yang bisa memahami Al-Quran kecuali orang yang disucikan hatinya.

“Tidak ada yang bisa menyentuh Al-Quran. Artinya, tidak ada yang bisa memahami Al-Quran kecuali orang yang disucikan, illa al-mutohharun, bukan illa al-mutohhirun, bukan orang yang bersuci, apalagi sok suci,” katanya.

“Itu adalah orang yang bisa memahami Al-Quran itu benar-benar man yasya, benar-benar kehendak dari Allah,” lanjutnya.

Pemahaman Al-Quran meningkat sebagai suatu isyarah. Seperti penunjuk, isyarah itu bukan tujuan tapi hanya yang menunjukkan.

Mas Wong, begitu ia akrab disapa, memberi contoh. Telunjuknya diangkat seolah-olah sedang menunjuk bulan. Ia mengatakan, telunjuk itu bukan bulan, tapi hanya isyarat kepada bulan. “Bulannya tetap di sana, ini hanya jari untuk menunjuk bulan,” jelasnya.

Bagi para auliya, Al-Quran itu merupakan lathaif. Ia memberikan sebuah analogi untuk menerjemahkan kata lathif tersebut karena sulit untuk menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia atau Jawa. Lathif kerap kali dimaknai halus atau lembut. Tapi ia bertanya, “Begitu lembut begitu halus itu apa? Tepung?”

Lalu ia menggambarkan makna kata tersebut dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Bumi melakukan rotasi, memutari porosnya sendiri, dan melakukan revolusi, mengelilingi matahari. Tapi perputaran tersebut tidak dirasakan oleh makhluk di bumi.

“Itulah Lathifnya Allah. Nyaris kita tidak merasakannya,” ungkapnya.

Diskusi yang dipandu oleh mahasiswa Pascasarjana UNU Indonesia Agung Firmansyah itu juga menghadirkan Ketua PP GP Ansor Nuruzzaman dan kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Muhammad Sofi Mubarok. (Syakirnf/Alhafiz K)