::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

AL-HIKAM

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah

Sabtu, 07 Oktober 2017 19:05 Ubudiyah

Bagikan

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Semua berawal dari salah sangka dan kurang yakin. Manusia berilusi bahwa sesuatu selain Allah dapat memenuhi hajatnya baik untuk mendatangkan kemaslahatan maupun mencegah mereka dari kemudaratan. Ilusi ini selanjutnya mengarahkan manusia menuju jurang kehinaan.

Sebagaimana diketahui, entri ilusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang hanya dalam angan-angan; khayalan; pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan; sesuatu yang tidak dapat dipercaya; palsu.

Meskipun hanya bayang-bayang, ilusi ini tampak kuasa menggiring sebagian manusia ke sana-ke sini dalam kesemuan sebagai disinggung Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

ما قادك شيء مثل الوهم

Artinya, “Tiada satupun tenaga yang bisa mendiktemu sekuat ilusi (waham).”

Waham ini yang juga digunakan dalam KBBI sebagai keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga.

Lalu apa dampak dari ilusi ini? Mereka yang berada di bawah pengaruh ilusi akan mengejar arahan ilusinya hingga berujung pada kehinaan. Mereka kurang sabar dan tenang serta tidak yakin pada kepastian yang ditentukan Allah SWT.

يعنى أن الوهم هو السبب فى الطمع فى الناس وذلك كاف فى قبحه لأن الوهم الذى هو أصله أمر عدمى إذ هو عبارة عن التخيل والحسبان التقديرى لكن النفوس منقادة له أتم من انقيادها الى العقل. ألا ترى أن الطبع ينفر من الحية لتوهمه الضرر فيها بل من الحبل المبرقش لكونه على صورتها ولو انقادت للعقل لم ينفر لأن ما قدر يكون وما لم يقدر لم يكن.

Artinya, “Maksudnya, waham adalah penyebab kemunculan harapan terhadap manusia. Ia sudah cukup menunjukkan keburukannya karena waham berdasar pada sesuatu yang nihil. Waham adalah ungkapan lain dari takhayyul dan asumsi-praduga tetapi batin banyak orang tunduk lebih sempurna padanya dibanding pada akal. Coba kauperhatikan, secara alamiah manusia itu menjauh dari ular karena menduga risiko yang ada padanya, tetapi banyak manusia juga menjauh dari tali bercorak hanya karena serupa bentuk dengan ular. Kalau mereka tunduk pada pertimbangan akal, niscaya mereka takkan menjauh. Apa yang ditakdirkan, mesti terjadi. Apa yang tak tersurat, tak mungkin ada,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz I, halaman 49).

Ilusi yang menghinggapi kalangan awam berbeda dari ilusi yang mempengaruhi kalangan khawash. Ilusi ini yang menghalangi keduanya dari Allah SWT. Mereka merasa cuku dengan ilusinya. Ini merupakan sebuah bahaya besar sebagai disebut Syekh Ibnu Ajibah berikut ini.

فتحصل أن الوهم حجب عن الله العوام والخواص وأما خواص الخواص فلم يحجبهم عن الله شيء أما العوام فقادهم إلى التعلق بالخلق ومنعهم عن السير إلى الملك الحق فاشتغلوا بمراقبة الأحباب وعداوة من عاداهم من الأصحاب ففاتهم محبة الحبيب ومراقبة الرقيب وأما الخواص فقادهم الوهم إلى ثبوت الآثار والوقوف مع الأنوار فقنعوا بذلك ولم يتشوفوا إلى ما وراء ذلك فالقناعة من الله حرمان وليس الخبر كالعيان وسمعت شيخنا رضي الله عنه يقول والله ما حجب الناس عن الله إلا الوهم والوهم أمر عدمي لا حقيقة له اهـ وأما خواص الخواص فلم يحجبهم عن الله شيء قطعوا حجاب الوهم وحصل لهم من الله العلم والفهم فلم يتعلقوا بشيء ولم يحجبهم عن الله شيء جعلنا الله منهم بمنه وكرمه ولما كان الوهم ينشأ عنه الطمع والطمع ينشأ عنه الذل والعبودية واليقين ينشأ عنه الورع والورع ينشأ عنه العز والحرية

Artinya, “Maka hasillah bahwa ilusi menghijab kalangan awam dan kelompok khawash dari Allah. Sementara kalangan khawashul khawash tak terhijab oleh suatu apapun. Ilusi mendikte kalangan awam untuk bersandar kepada selain Allah dan menghentikan perjalanan mereka dari-Nya sehingga mereka sibuk bercengkerama dengan orang-orang tercinta dan sibuk memusuhi kolega yang menyakiti mereka. Kalangan awam–kalau sudah begini–luput untuk mencintai Allah dan memerhatikan pengawasan-Nya.

Ilusi mendikte kalangan khawash untuk sibuk dengan tetapnya atsar Allah dan terhenti pada cahaya-Nya sehingga mereka merasa cukup dengan itu dan tak memandang di balik semua itu. Perasaan cukup (qanaah) tanpa Allah adalah sebuah keluputan. Informasi saja tentu berbeda dengan menyaksikan kasat mata. Saya ingat guru saya berkata, ‘Sungguh, tiada satupun yang menghijab manusia dari Allah selain ilusi. Ilusi itu sendiri nihil, tidak berhakikat.’

Tak satupun kekuatan yang menghijab kalangan khawashul khawash dari Allah. Mereka sanggup mengatasi hijab ilusi sehingga mereka berhak menerima ilmu dan paham dari Allah. Apapun tak memikat hati mereka dan tak menghalangi pandangan batin mereka–semoga Allah dengan anugerah dan kemurahan-Nya menjadikan kita termasuk kelompok ini–. Ketika ilusi melahirkan keinginan dan harapan, maka keinginan melahirkan kehinaan dan penghambaan. Tetapi ketika keyakinan menumbuhkan sikap wara‘, maka kewara‘an mengantarkan pada kemuliaan dan kemerdekaan,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 95).

Orang yang dipengaruhi ilusi kerap lalai dengan kehinaan dan penghambaan sebagai muara dari ilusi mereka. Tetapi mereka yang sanggup mengatasi bayang-bayang di benaknya sendiri akan sanggup membebaskan diri dari pengharapan dan penghambaan semu terhadap sesuatu itu sebagai disebutkan Syekh Zarruq berikut ini.

فإذن إنما يدعو إلى الطمع توهم النفع من المطموع فيه، وبذلك تحصل العبودية له، فمن غلب الوهم عليه نسى ما ينتهى إليه الطمع من النقص والدنائة، ومن ضعف لديه الوهم ذكر ذلك فانتفى عنه الطمع

Artinya, “Jadi, pemicu harapan selama ini adalah ilusi atas unsur kemaslahatan pada pihak yang diharapkan. Inilah yang melahirkan penghambaan terhadap sesuatu yang diharapkan. Mereka yang dipengaruhi oleh ilusi akan lupa pada kekurangan dan kehinaan sebagai tujuan akhir harapan terhadap manusia. Tetapi siapa yang berhasil mengatasi ilusi dan menyadari kehinaan, niscaya terbebas dari harapan terhadap pihak lain,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 70).

Mereka yang terbebas dari pengaruh waham atau ilusi akan dianugerahkan ketenangan dan ketenteraman hidup oleh Allah SWT. Sedangkan mereka yang terkungkung oleh ilusinya sendiri akan terus berlari mengejar bayang-bayang tersebut bahkan dengan cara hina sekalipun. Mereka hidup dengan penuh kegelisahan seperti diburu oleh sesuatu.

وأرباب الحقائق بمعزل عن هذا فلا تتعلق هممهم إلا بالله ولا يتوكلون إلا عليه ولا يثقون إلا به قد سقط اعتبار الأوهام والخيالات التى هي متعلقة بالأغيار عن قلوبهم فزال عنهم الطمع فاتصفوا بصفة القناعة والورع فكانت لهم الحياة الطيبة والعيشة الراضية. والقناعة مقام عظيم من مقامات اليقين وهو من بداية أحوال الراضين

Artinya, “Ahli hakikat menjauh dari ilusi ini. Semangat mereka hanya terkait pada Allah. Mereka bertawakkal dan berpasrah kepada-Nya. Pertimbangan-pertimbangan ilusi dan khayal yang berkaitan dengan selain Allah runtuh dari benak mereka sehingga tak satupun harapan kepada selain-Nya tergantung di batin mereka. Ketika itulah sifat qanaah dan wara‘ melekat pada mereka sehingga kehidupan mereka menjadi kehidupan yang baik dan penuh ridha. Qanaah adalah maqam agung dari sekian maqam keyakinan. Qanaah adalah permulaan dari pengalaman batin mereka yang hidup dengan ridha,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 49).

Hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini persis dengan makna Surat An-Nahl berikut ini.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya, “Siapa saja laki-laki atau perempuan yang beramal saleh-mereka adalah orang beriman-, niscaya kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan kami berikan mereka ganjaran sebaik-baik apa yang mereka amalkan,” (An-Nahl ayat 97).

Mereka yang terbebas dari pengaruh ilusi hidup penuh ketenangan dan keyakinan. Mereka ridha dengan Allah. Allah pun meridhai mereka. Mereka hidup dengan qanaah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)