::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mbah Ngis dan 'Win-Win Solution'

Rabu, 11 Oktober 2017 15:30 Hikmah

Bagikan

Mbah Ngis dan 'Win-Win Solution'
Ilustrasi (© Istimewa)
Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)–biasa dipanggil Mbah Ngis–adalah seorang ibu yang menjunjung tinggi keadilan dan perdamaian. Demi keadilan dan perdamaian, Mbah Ngis rela mengorbankan sesuatu yang dirasanya cukup berharga. Apalagi hal itu menyangkut kehidupan bersama di antara anak-anaknya. Suatu hari menjelang lebaran di awal tahun 1970-an, kedua anak laki-laki Mbah Ngis bertengkar berebut sehelai sarung dewasa kiriman dari seorang saudara. Mbah Ngis mencoba menengahi dengan menyarankan supaya sarung itu dipakai bergantian.

Saran tersebut tak dihiraukan karena kedua anak laki-laki Mbah Ngis bermaksud memakai sarung itu untuk shalat Idul Fitri di masjid. Jadi masalahnya, tidak mungkin sarung itu dipakai bergantian pada saat yang sama sewaktu shalat. Pertengkaran makin seru ketika mereka saling menarik sarung itu sambil baku hantam. Mbah Ngis sekali lagi mencoba melerai tapi tak ada seorangpun dari keduanya mau berhenti, apalagi mengalah, karena mereka merasa paling berhak atas sarung itu dengan argumentasi masing-masing. 

Sarung dewasa itu kemudian ditarik paksa oleh Mbah Ngis sekuat tenaganya dan lepaslah dari tangan kedua anak laki-laki itu. Mbah Ngis lalu menawarkan solusi untuk memotong sehelai sarung itu menjadi dua bagian yang sama, bagian atas dan bagian bawah. Kedua anak laki-laki itu menyetujui tawaran solusi dari Mbah Ngis setelah keduanya berpikir sejenak.

Mbah Ngis kemudian mengambil sebuah gunting. Meski sebetulnya terasa berat di hati karena harus mengorbankan sarung baru, Mbah Ngis melakukan hal itu demi perdamaian kedua anak laki-laki yang sama-sama dicintainya dan masih kecil-kecil. Sarung itu akhirnya terpotong menjadi dua, bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas diberikan kepada anak yang lebih tua, dan bagian bawah untuk anak yang lebih muda. Mereka puas dengan solusi yang ditawarkan Mbah Ngis. Meski mereka mengakui sarung itu tingginya ideal, namun terlalu lebar untuk ukuran mereka. 

Itulah win win solution di mana semua pihak yang bertikai merasa dimenangkan meski tidak ada satupun pihak yang mereka dikalahkan dalam penyelesaian konflik ini. Mbah Ngis memang tidak selalu menekankan cara penyelesaian di mana yang besar harus selalu mengalah. Diakui atau tidak cara seperti ini tidak selalu adil sehingga sering kali tidak menuntaskan persoalan. Konflik sewaktu-waktu bisa pecah kembali dan mengancam perdamaian. 

Win win solution sebenarnya adalah metode penyelesaian konflik yang telah lama dicontohkan Rasulullah SAW ketika beliau belum menjadi nabi dan masih berusia 35 tahun. Di usia ini beliau telah dipercaya menengahi kasus hajar aswad. Waktu itu, orang-orang Quraisy di Mekah berselisih hebat tentang suku mana yang akan mengembalikan hajar aswad ke tempatnya setelah berpindah tempat karena terseret arus banjir. Pertumpahan darah hampir saja terjadi karena masing-masing suku merasa paling berhak dan pantas melakukan sesuatu yang sangat bergengsi itu pada sekitar tahun 566 M. 

Pertumpahan darah akhirnya bisa dihindarkan setelah Rasulullah SAW meminta semua pemimpin suku secara bersama-sama memegangi dan mengangkat kain surban beliau yang di tengahnya telah diletakkan hajar aswad hingga batu hitam ini sampai ke dekat Ka’bah. Dari situ Rasulullah SAW meletakkan sendiri hajar aswad itu ke tempatnya. 

Cara penyelesaian konflik yang menempatkan semua pihak yang berselisih pada posisi tidak dikalahkan seperti itu adalah cara adil dan lebih menjajikan perdamaian. Keadilan seperti ini hanya bisa diharapkan lahir dari pemimpin yang memiliki komitmen tinggi terhadap keadilan dan perdamaian. Mbah Ngis memang salah seorang pemimpin meski hanya bagi anak-anak dalam keluarganya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta