::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Modal Utama bagi Penulis

Selasa, 17 Oktober 2017 00:45 Daerah

Bagikan

Modal Utama bagi Penulis
Kepulauan Riau, NU Online
Mampu melihat, mendengar, dan merasakan dengan baik, adalah modal utama bagi penulis.

Hal itu disampaikan Sulton Yohana pada kegiatan Klinik MeNUlis yang diselenggarakan kader Muda NU Kepulauan Riau, Ahad (15/10).

Penulis dan mantan wartawan yang saat ini bermukim di Singapura tersebut, mengatakan ilmu baku menulis yang diperoleh di sekolah formal bukan satu-satunya cara dapat menulis dengan baik.

“Penulis-penulis hebat saat ini, banyak mendapatkan ide menulis justru dari banyak jalan-jalan dan nongkrong,” katanya.

Sulton menceritakan saat nongkrong dan jalan-jalan, dirinya mengamati, merasakan, dan menghayati lingkungan.

“Maka tulisan akan jujur dan sama dengan yang dirasakan pembaca," paparnya. 

Sulton berpendapat bahwa kader muda NU harus menyesuaikan dengan zaman. Saat ini menurutnya, teknologi telah menguasai seluruh sendi kehidupan manusia, sehingga jika tidak meng-upgrade kemampuan, akan tertinggal oleh zaman.

"Saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan NU di Singosari Malang. Tetapi saya agak prihatin karena akhir-akhir ini begitu masifnya serangan-serangan kepada NU secara organisasi, dan kepada kiai-kiai NU,” ungkap Sulton.

Menurutnya adanya serangan tersebut tidak banyak yang dapat diperbuat.

“Karena kita tidak menguasai dan memanfaatkan teknologi untuk mengcounter itu semua. Maka sangat pas jika ini (pelatihan) dilaksanakan" ujar Sulton.

Pelatihan menulis yang diinisiasi oleh pemuda-pemuda NU non struktural ini, merupakan salah satu upaya agar generasi NU selain dapat mengaji, juga mampu menjadi tameng organisasi dan ulama di era seperti saat ini.

"Dari pelatihan ini kita harapkan dapat tercetak generasi yang tidak mudah termakan berita hoax, generasi yang dapat mengcounter berita miring yang menyerang ulama dan organisasi NU" ujar Nur Fahmi Magid, salah satu inisiator Klinik MeNUlis ini.

Peserta pelatihan ini nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi terbentuknya NU Online di Kepri.

"Dari pelatihan ini kami sangat berharap agar peserta ikut membidani lahirnya media NU berbasis Online di Kepri. Dengan demikian, warga NU di Kepri memiliki bacaan dan rujukan yang relevan. Tentu saja hal ini harus kita komunikasikan dengan jajaran PW dan PC NU di Kepri" tambah Magid.

Pelatihan Klinik MeNUlis nantinya akan dilaksanakan secara berkesinambungan.

"Ini (pelatihan) adalah sesi pertama untuk gelombang satu. Tiap gelombang nanti akan ada 3 sesi dan masing-masing sesi akan di isi oleh mentor berbeda-beda," terang Khoirul Anam, panitia pelaksana.
Pada gelombang pertama diikuti oleh 34 peserta dari internal warga NU di Kepri. 

"Ke depan, peserta tidak hanya terbatas pada pemuda-pemuda NU saja,  tetapi kami mengajak pemuda-pemuda lintas suku dan lintas keyakinan untuk bergabung bersama-sama perang melawan hoax melalui pelatihan seperti ini" pungkas Khoirul Anam. (Sularno Menot/Kendi Setiawan)