::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Syafiq Hasyim: Pidato Pribumi Gubernur Anies Tidak Etis

Selasa, 17 Oktober 2017 14:45 Nasional

Bagikan

Syafiq Hasyim: Pidato Pribumi Gubernur Anies Tidak Etis
Syafiq Hasyim (Foto: Facebook).
Bogor, NU Online
Pidato politik pertama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Senin (16/10) menuai polemik di tengah masyarakat karena menggunakan kata-kata “pribumi”.

Penggunaan kata tersebut menurut sejumlah kalangan tidak etis di tengah upaya pemerintah dan bangsa Indonesia untuk hidup damai dan saling berdampingan satu sama lain.

Direktur International Center for Islam dan Pluralism (ICIP), Syafiq Hasyim menerangkan, sebagai seorang pemimpin, Anies Baswedan tidak etis apalagi ada aturan-aturan yang mengatur penggunaan kata pribumi itu.

“Karen itu menurut saya, lebih baik Pak Anies tidak memperpanjang masalah ini dan membuat klarifikasi bahwa kata pribumi tersebut bukan dalam konteks negatif tetapi dalam konteks integritas,” ujar Syafiq Hasyim kepada NU Online, Selasa (17/10) sesaat setelah mengisi materi dalam kegiatan The Asia Interfaith Forum 2017 yang digelar Pusat Studi Pesantren (PSP) di Bogor, Jawa Barat.

Integritas tersebut menurut Doktor lulusan Freie Universitat Berlin, Jerman ini yaitu semua orang yang hidup di Indonesia ini juga merupakan pribumi.

“Penggunaan istilah itu harus dibingkai dalam suatu semangat untuk menyatukan kembali polarisasi yang terjadi di antara warga di Jakarta,” jelas pria kelahiran Jepara ini.

“Tetapi secara prinsipil itu (penggunaaan kata pribumi, red) tidak etis,” tegas Syafiq Hasyim.

Beberapa saat setelah penggunaan kata pribumi tersebut menuai polemik, Anies Baswedan melakukan penjelasan bahwa kata pribumi yang dikatakannya itu dalam konteks penjajahan.

"Itu konteks pada era penjajahan. Karena saya menulisnya juga pada zaman penjajahan dulu karena Jakarta itu kota yang paling merasakan," kata Anies kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (17/10).

Sebelumnya dalam pidato langsung, Anies menuturkan, “Dan Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Selama ratusan tahun,, di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh. Tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari. Karena itu, bila kita merdeka, janji-janji harus dilunaskan. Dulu kita semua, pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan dalam pepatah madura." (Fathoni)