::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said: Shalawat Badar Sudah Menjadi ‘Mars NU’

Rabu, 18 Oktober 2017 11:15 Nasional

Bagikan

Kiai Said: Shalawat Badar Sudah Menjadi ‘Mars NU’
KH Said Aqil Siroj saat memimpin tahlil di makam KH Ali Mansur
Tuban, NU Online
Shalawat Badar sudah menjadi bagian penting dari Nahdlatul Ulama khususnya mulai periode 1960-an. Ajaran NU yang menekankan arti penting shalawat dipadukan dengan spirit perjuangan Ahli Badar dalam membantu perjuangan Rasullah, menjadikan Sholawat Badar mendapat tempat di hati para ulama dan warga NU dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan nahdlatul Ulama selama ini. 

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj saat memberikan Orasi Kebudayaan dalam Haul Ke-46 KH Ali Manshur, Pencipta Shalawat Badar pada Selasa (17/10) malam di Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, tempat dimakamkannya Kiai Ali Manshur.

Dalam kesempatan Haul yang disiarkan Live TV9 Nusantara itu, Kiai Said meyerahkan kembali penghargaan PBNU di bidang kebudayaan yang diterima oleh putra tertua Kiai Ali Mansur, KH Syakir Ali.

Sebelumnya, PBNU telah menganugerahkan penghargaan bidang kebudayaan pada momen Harlah ke-91 NU Januari lalu pada tiga tokoh, Kiai Ali Manshur, Kiai Ridlwan (pencipta Logo NU) dan Cak Durasim (seniman Surabaya yang melawan Jepang dengan Kidung-kidungnya). Pada Muktamar ke-29 NU pada alahir tahun 1989, KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU pernah menganugerahkan Bintang NU pada Kiai Ali Manshur atas jasanya mencipta Shalawat Badar. 

Lebih lanjut, Kiai Said menyampaikan, NU memang tidak punya Mars khusus, dan Shalawat Badar telah menjadi mars Nahdlatul Ulama yang dilantunkan di acara-acara resmi organisasi NU atau even kultural warga NU. Semuanya terjadi secara alami, berkat karomah shalawat dan spirit yang terkandung di dalam syair-syair Shalawat Badar. "Tidak ada yang mewajibkan, tapi telah menjadi wajib-wajib sendiri," sambungnya.

Shalawat Badar dicipta Kiai Ali Manshur di Banyuwangi dalam periode antara 1960-1962, seusai beliau menjalankan ibadah haji dan paripurna mengemban tugas Partai NU sebagai Anggota Konstituante RI menyusul dibubarkannya Konstituante melalui Dekrit Presiden Soekarno, 5 Juli 1959. Buntu dan memanasnya situasi politik jelang tragedi 1965 menggerakkan hati Kiai Ali Manshur bermujahadah dan menyusun syair shalawat yang tafa'ulnya didasarkan pada spirit 313 sahabat ahli badar. 

Banyak yang menyangka kalau Shalawat Badar diciptakan oleh orang Arab. "Shalawat Badar diciptakan oleh ulama Indonesia Asli, bisa dilihat dari dialek syair yang sangat kental Jawanya," sambung Kiai Said. 

Di bagian akhir, Ketua Umum PBNU mengimbau warga NU terus melestarikan Shalawat Badar, menumbuhkan spirit ahli badar serta terus mendoakan penggubahnya. “Kiai Ali Manshur telah mewariskan Shalat Badar, tugas kita merawat dan menjaga keberlangsungan spiritnya," ujar Kiai Said.

Kiai Ali Manshur wafat pada 26 Muharram 1391 atau bertepatan pada 24 Maret 1971 dalam usia 50 tahun. Secara garis keturuan, Kiai Ali Manshur adalah putra Kiai Manshur, cucu Kiai Shiddiq Jember yang dari Kiai Shiddiq ini lahir tokoh-tokoh besar seperti Kiai Mahfudz Shiddiq, Kiai Ahmad Shddiq dan Kiai Abdul Hamid Pasuruan. (Red: Mahbib)