::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Harapan Baru kepada Gubernur Baru DKI Jakarta

Jumat, 20 Oktober 2017 18:45 Risalah Redaksi

Bagikan

Harapan Baru kepada Gubernur Baru DKI Jakarta
Anies Baswedan (Antara)
Gubernur terpilih Jakarta periode 2017-2022 Anies Baswedan sudah dilantik. Kini dia memimpin  daerah yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan politik di Indonesia ini. Apa yang terjadi di Jakarta menjadi perhatian luas masyarakat di seluruh Indonesia mengingat posisinya di pusat kekuasaan.  Besar harapan dari publik agar ia dapat melanjutkan hal-hal yang baik dari kepemimpinan sebelumnya dan memperbaiki kekurangan yang ada. 

Kontestasi politik untuk meraih posisi DKI satu berlangsung sangat ketat. Pertarungan melibatkan isu agama dan etnis yang membawa emosi bukan hanya para pemilih di Jakarta, tetapi juga sebagian besar penduduk Indonesia mengingat pilkada DKI  Jakarta mendapat liputan luas. Termasuk di antaranya ada demo berjilid-jilid. Selanjutnya, menjadi tugas pasangan guberrnur-wakil gubernur baru untuk menyatukan  seluruh komponen masyarakat Jakarta ini agar kembali kompak guna membangun kota terbesar di Indonesia ini, yang juga sarat dengan berbagai masalah. 

Banyak persoalan yang membutuhkan kerja bersama untuk menyelesaikannya seperti kesenjangan sosial, kemacetan, banjir, kriminalitas, kesehatan dan lainnya. Gubernur dan jajaran pemerintahannya tidak akan dapat menyelesaikannya sendirian. Masyarakat dapat diajak bahu-membahu menyelesaikan problem sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. 

Seorang pemimpin terpilih adalah pemimpin semua anggota masyarakat, bukan sekadar pemimpin dari partai yang mengusungnya atau masyarakat yang mendukungnya saja. Pertarungan yang terjadi pada masa kampanye sudah saatnya diakhiri. Kini tugas gubernur dan wakilnya adalah melaksanakan janji-janji yang diucapkan semasa kampanye. 

Seusai terpilih, kini publik berkewajiban mengontrol bagaimana kinerja gubernur terpilih. Mekanisme formal dalam sistem demokrasi adalah eksekutif dikontrol oleh legislatif, tetapi kini publik juga memiliki mekanisme kontrol apa yang dilakukan oleh para pemimpinnya lebih besar daripada era sebelumnya. Media sosial dapat menjadi sarana untuk menyampaikan sikap masyarakat terhadap sebuah isu atau kebijakan. 

Keberadaan media sosial bagai pisau bermata dua dalam demokrasi yang harus dikelola dengan hati-hati. Awalnya, medsos dipuja-puja dalam perannya mengembangkan demokrasi, tetapi akhirnya terjadi banyak penyalahgunaan untuk melemparkan hoaks ke publik. Informasi-informasi palsu yang muncul selama masa kampanye pilkada DKI Jakarta banyak menyesatkan masyarakat. 

Pemerintahan Anies di Jakarta juga rawan menimbulkan kegaduhan jika ia tidak mampu mengelola isu dengan baik. Apa yang terjadi dengan ucapannya tentang pribumi dalam pidato pelantikannya layak menjadi pelajaran agar lebih berhati-hati. Gubernur sebaiknya fokus pada program-program yang sudah dicanangkannya. Ini juga menunjukkan kontestasi keras yang sebelumnya berlangsung belum sepenuhnya dilupakan oleh masyarakat, terutama pendukung kandidat lainnya. 

Keberhasilan sesungguhnya dari seorang pemimpin adalah melaksanakan janji-janji programnya. Kita sudah terlalu sering diingkari janji oleh para politisi. Apa yang diucapkan selama masa kampanye dan ketika sudah berkuasa berkebalikan 180 derajat. Banyak pemimpin berkuasa bukan untuk melayani masyarakat, tetapi ada kepentingan pribadi yang dominan, untuk menumpuk kekayaan, sebagai batu loncatan untuk karir politik yang lebih tinggi atau bahkan untuk kebanggaan sebagai orang yang berkuasa. Partai dan tim pendukungnya juga tidak memberi sokongan secara gratis. Ada kue kekuasaan yang harus dibagi baik berupa proyek ekonomi, jabatan-jabatan strategis, atau dukungan politik untuk kontestasi politik. Ini merupakan realitas yang harus dihadapi. Di sinilah kapasitas kepemimpinan diuji, bagaimana menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bersaing ini, dengan tetap menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan yang lain. 

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kepemimpinan Jakarta pada periode sebelumnya, dengan tiga orang gubernur yang menjabat selama lima tahun. Ada kisah sukses pembangunan dan perbaikan infrastruktur, ada kegagalan dalam menjaga etika, ada kegaduhan-kegaduhan yang menguras energi masyarakat. Prinsip dasar yang harus tetap dijaga yaitu menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan yang lain. Dalam pelaksanaannya, setiap pemimpin memiliki gayanya sendiri. Selamat bertugas Mas Anies. (Ahmad Mukafi Niam)