::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lesbumi NU Kabupaten Bandung Dibentuk

Sabtu, 21 Oktober 2017 08:46 Daerah

Bagikan

Lesbumi NU Kabupaten Bandung Dibentuk
Bandung, NU Online 
Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Bandung resmi dibentuk di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Cigondewah, Kecamatan Margaasih, Jumat sore (20/10). Pelantikan dilakukan Ketua PCNU Kabupaten Bandung KH Asep Jamaluddin.

Kiai Asep mengungkapkan kebahagiaannya karena NU Kabupaten Bandung kini memiliki lembaga seni dan budaya. Pasalnya, menurut dia, selama ia aktif sepuluh tahun, ketika menjadi Katib Syuriyah NU, tidak pernah mendengar adanya Lesbumi. 

Menurut dia, Lesbumi sangat penting keberadaannya sebagai pelaksana misi dakwah melalui jalur kebudayaan. Karena NU, memperkuat dan mendakwahkan Islam dengan taktik melengkapi dan menyempurnakan apa yang sudah ada, dan tidak merusak tatanan yang ada. 

“Syekh waliyullah Sunan Kalijaga, mengkreasi wayang, diubah isi wayang itu menjadi isinya Islam. Kenapa NU membolehkan tahlilan, padahal asalnya bukan Islam, karena tahlilan kemudian isinya diganti la ilaha illah, subhanallah. Itu tidak bertolak belakang dengan syariat,” jelasanya. 

Menurut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati ini, Rasulullah pun pernah memberi contoh dengan mengadopsi budaya jahiliyah yang baik, yaitu wali nikah dalam sebuah perkawinan. 

Selepas pelantikan, pengurus Lesbumi langsung mengadakan diskusi bertajuk “Lawung Budaya dan Tirakat Sastra” dengan tema “Dasar Pemikiran Islam Sunda dalam perahu Islam Nusantara”. 

Dua narasumber pada kegiatan itu adalah Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Asep Salahuddin. Selepas itu diadakan pelatihan menulis dengan narasumber Iip D. Yahya dan Neneng Yant KH. (Abdullah Alawi)