::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa

Ahad, 22 Oktober 2017 16:15 Opini

Bagikan

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa
Oleh: Muhammad Makhdum 
Tanggal 22 Oktober 2017 ini adalah tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Mengutip Milan Kundera, "Perjuangan sejarah adalah melawan lupa," maka Hari Santri Nasional menjadi krusial untuk menyegarkan kembali ingatan sejarah perjuangan kaum pesantren dalam melawan imperialisme dan kolonialisme. 

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, hanya 53 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, NICA nyaris mencaplok kedaulatan Republik Indonesia. Kedatangan Belanda yang membonceng tentara Sekutu di bawah komado Brigjen A.W.S. Mallaby ternyata memiliki aganda terselubung untuk kembali menguasai bumi pertiwi. Kekuatan militer Sekutu jelas tidak seimbang dengan Indonesia, terlebih ratusan bahkan ribuan pertempuran sebelumnya telah merenggut jutaan nyawa, melahirkan penderitaan dan kerugian materiil yang maha dahsyat. Kondisi negara sangat genting. Mustahil rasanya bangsa Indonesia mampu mempertahankan kembali kemerdekaan yang baru saja diproklamirkannya. 

Dalam situasi demikian, Presiden Soekarno mengirim utusan ke Pesantren Tebuireng Jombang untuk meminta fatwa kepada KH. Hasyim Asyari tentang bagaimana hukum membela tanah air dari penjajah. Mengapa harus pesantren? Karena jelas sejak dulu pesantren telah menjadi basis perjuangan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Singkatnya, pada 22 Oktober 1945, seluruh kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. 

Dalam keterbatasan alat komunikasi pada masa itu, bukan perkara mudah mengumpulkan banyak kiai dalam waktu singkat. Akhirnya, KH. Hasyim Asy’ari mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad. Segera setelah seruan itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Tepatnya tanggal 10 Nopember, meletus pertempuran paling sengit sepanjang sejarah yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan. Meski kota Surabaya banjir darah, Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II akhirnya kalah. 

Berawal dari resolusi jihad itulah terungkap bahwa kemenangan arek-arek Suroboyo dalam “tawuran massal” yang berujung pada tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby bukanlah reaksi spontan rakyat Surabaya dalam menghadapi kedatangan Sekutu. Pertempuran 10 Nopember sebenarnya telah melalui perencanaan yang sangat matang melalui pertemuan para kiai pesantren di bulan Oktober. Sayangnya, rentetan peristiwa sejarah tersebut tidak pernah diakui sebelumnya. Sejarah hari pahlawan selama ini hanya memunculkan adegan dan tokoh tunggal, yaitu Bung Tomo dengan pidatonya yang menggelegar dan membakar semangat rakyat Surabaya. 

Dilihat dari kurva dan kronika sejarah, peristiwa resolusi jihad bukan hanya mengakar pada mata rantai perjuangan yang panjang dan menggerakkan begitu banyak kekuatan rakyat di masa depan, tetapi juga bisa ditarik jauh ke masa Perang Jawa seabad sebelumnya. Menurut sejarawan nusantara Kyai Agus Sunyoto, pemilihan kota pahlawan sebagai tempat mengumandangkan resolusi jihad tidak lain karena Surabaya memiliki latar belakang historis dan sosio kultur yang lekat dengan nilai patriotisme sejak masa perang Majapahit dengan tentara Tar-Tar pada pertengahan abad 15.  

Fakta sejarah tidak boleh dilupakan. Peristiwa resolusi jihad yang diperingati sebagai hari santri nasional merupakan salah satu ikhtiar untuk melawan amnesia sejarah. Pertama, pengakuan atas jasa para pahlawan dan pendahulu penting bagi generasi sekarang agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Kedua, bahwa membela tanah air sangat bertalian erat dengan jihad membela agama. Hal ini sangat relevan mengingat belakangan ini sering muncul gagasan berdasarkan doktrin agama yang cenderung mengabaikan nilai-nilai keindonesiaan. Ketiga, resolusi jihad dapat meneguhkan kembali komitmen kebangsaan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. 

Jadi, tidak benar bahwa peringatan hari santri nasional akan menciptakan dikotomi antara kalangan santri dan bukan santri, apalagi antara Islam dan non-Islam. Justru hal ini sebagai bentuk penegasan bahwa kaum santri bukanlah kelompok sub kultur yang menutup diri dan ekskusif, tetapi mereka juga bagian dari warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam membela tanah air tercinta. Dari perjuangan kaum santri kita memetik pelajaran bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Bahwa Pancasila justru memberikan kesempatan yang sangat luas untuk menjadi manusia yang beragama. Selamat Hari Santri Nasional. Santri Mandiri, NKRI Hebat. 


*) Penulis adalah Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, saat ini tinggal di Tuban.